Iklan
Normantis Update

Cara Menulis Puisi ala Norman Adi Satria


PRAKATA

Sebenarnya sudah lama saya diminta oleh beberapa kawan untuk membuat tutorial cara menulis puisi. Tutorial? Maksudnya langkah-langkah menulis puisi yang tersusun secara rapi; yang kalau diterapkan kemungkinan pembacanya jadi mahir dan bakal seketika jadi penyair? Astaga. Saya kira tidak ada satu pun penyair yang lahir dari sebuah tutorial. Maka saya tidak akan membuatnya. Karena selain “ngerepotin”, itu juga buang-buang waktu dan energi saja. Lagi pula, kalau tidak salah, sudah ada yang pernah membuatnya. Dan kalau tidak salah juga, saya belum pernah baca.

Tapi, daripada Anda sia-sia menghabiskan kuota untuk membuka halaman di normantis.com ini, ada baiknya kita ngobrol saja soal puisi. Tidak usah tutorial-tutorialan lah, puisi bukan rakitan yang dipasang ini dan itu kemudian pasti jadi anu.

Ya, puisi (modern) memang karya sastra yang paling bebas, merdeka. Dia tidak seperti surat yang harus ada pembuka, isi, penutup. Dia tidak seperti cerpen yang terbebani penokohan, dialog, dan batas minimum/ maksimum kata. Puisi pun tidak harus nampak seperti puisi — khususnya dalam tata letak kata (typography). Coba lihat sebagian puisi Sapardi Djoko Damono yang tata letaknya lebih mirip cerpen (dengan paragraf-paragraf) ketimbang puisi pada umumnya (berbait-bait).

Lebih jauh lagi, puisi pun bahkan tidak terbebani oleh fungsi. Fungsi yang dimaksud di sini adalah penerapan dari tulisan itu harus diapakan. Misalnya seperti skenario yang harus diikuti sebagai panduan untuk diterapkan dalam gerak/ adegan, dialog/ percakapan, setting waktu dan tempat, dll; atau seperti lirik lagu yang harus dinyanyikan. Meskipun ada begitu banyak pementasan pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, menurut saya ada juga puisi yang sama sekali tidak perlu diapa-apakan kecuali dibaca dan direnungi. Paling tidak, itu berlaku pada puisi-puisi yang saya tulis.

UNSUR UTAMA PUISI

Unsur utama yang tidak mungkin tidak ada dalam puisi adalah teks (simbol bunyi yang ditulis). Dalam setiap teks mengandung konteks, yang nantinya akan menentukan makna. Ya, nyaris semua kata tidak hanya memiliki makna tunggal karena tergantung pada konteks penulisannya. Kadang pula kata-kata yang digunakan di dalam puisi tidak melulu dapat ditelusuri segala jenis dan kemungkinan maknanya dalam kamus.

Misalnya, kata “matahari”. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menggolongkannya ke dalam kata benda (noun) yang berarti: benda angkasa, titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yang mendatangkan terang dan panas pada bumi siang hari.

KBBI tidak menyertakan makna-makna lain yang tergunakan dalam kebudayaan masyarakat tertentu, semacam: matahari adalah salah satu dewa; matahari mewakili sifat maskulin (sedangkan bulan mewakili sifat feminim); matahari berarti lubang dubur (dalam obrolan jorok); matahari adalah nama sebuah tempat perbelanjaan; matahari adalah nama seseorang, dan lain sebagainya.

Selain itu, KBBI juga tidak menyertakan detail spesifikasi matahari sebagai sebuah benda angkasa layaknya dalam sains, seperti: berapa suhu matahari, berapa jaraknya dengan bumi, berapa usia matahari, butuh berapa lama cahaya matahari sampai ke bumi, matahari memiliki lidah-lidah api, dll.

Dengan hanya berbekal “kepo” mengenai sebuah kata yaitu matahari, pada 28 Maret 2012, saya menulis puisi berjudul Matahari.

MATAHARI

Aku Matahari
Mencintaimu Rembulan
Telah sembilan milyard masa lamanya
Namun kau tetap di sana
Di peraduan bundamu, Bumi

Bundamu benar
Bila kau mendekat
Kau hancur
Kau lenyap

Maka aku sembunyi tiap malam
Untuk mencumbumu
Diam-diam dalam gelap
Yang pekat

Bekasi, 28 Mei 2012
Norman Adi Satria

Benda langit serupa tahu bulat raksasa itu rupanya bisa juga jadi tokoh dalam puisi cinta. Apa yang saya lakukan dalam puisi itu?

Pertama, saya memanfaatkan spesifikasi matahari yang tertulis dalam catatan sains, yakni usianya yang diperkirakan 9 Milyar tahun.

Kedua, saya menerapkan majas personifikasi (pengumpamaan/ pelambangan benda mati sebagai orang atau manusia) dengan memberi matahari, bulan, dan bumi kemampuan untuk mencintai, berpikir, berbicara, dsb. Meski demikian, tidak serta merta saya mengubah drastis tiga benda langit itu sebagai manusia karena:

Ketiga, saya tetap mempertahankan logika sains (astronomi): jika matahari mendekat, bumi pasti hangus terbakar; cahaya bulan merupakan pantulan dari matahari.

Keempat, saya mengibaratkan kondisi malam dimana bulan bermandikan cahaya sebagai proses matahari mencumbui bulan secara diam-diam taktala bumi terlelap (gelap).

Terlepas dari baik-buruk, sastrawi atau tdak, keren atau biasa saja, puisi yang berisi aneka tetek bengek sains itu, toh akhirnya bisa dipahami dengan relatif mudah oleh pembaca sebagai aksi Backstreet (pacaran diam-diam) karena tak dapat restu orangtua. Terbukti dengan adanya beberapa orang, termasuk sahabat dekat saya, yang kemudian membagikan puisi itu di akun jejaring sosial medianya dengan caption: puisi ini gue banget, njir! Maksudnya, mereka baru saja memperbandingkan kisah percintaannya dengan puisi itu.

TIPS: Perbanyaklah wawasan tentang makna kata (dengan membuka sebanyak-banyaknya referensi), liarkanlah imajinasi, perluas sudut pandang dalam mengamati dan memikirkan sesuatu, perkaya pengalaman kehidupan (baik pengalaman pribadi atau orang lain), dan jatuh cintalah, pacaranlah, jangan jomblo mulu woy….!

Di halaman selanjutnya kita akan membahas tentang alasan dan tujuan menulis puisi serta apa kaitan puisi dengan upil. Kok upil? Baca saja di halaman kedua…

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.157 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: