Iklan
Normantis Update

Aku dan Guru-Guruku – Puisi Norman Adi Satria

AKU DAN GURU-GURUKU
Karya: Norman Adi Satria

Kelas 1 SMA, guru kimia yang cantik dan seksi itu
gagal menjawab pertanyaanku
“Mengapa Ibu yakin bahwa Atom C bertangan empat?
Apakah Ibu pernah melihat?”
Itulah sebabnya saat naik kelas 2
aku masuk IPS, tak mau IPA.

Kelas 2 SMA, aku bikin perkara dengan guru agama
Bukan karena urusan Tuhan atau Setan
tapi karena aku tak diperbolehkannya ke toilet
saat pergantian jam pelajaran
“Ngapain kamu ke toilet?” tanyanya.
“Buang air kecil, Bu.” jawabku.
“Kebiasaan!” umpatnya.
“Bu, apakah karena ke toilet prestasi saya menurun?
Saya tetap ranking satu di kelas ini.”
“Halah, palingan kamu kaya yang lain mampir ke kantin.”
“Bu, orangtua saya tidak pernah memberi uang saku yang cukup untuk ke kantin.
Dan saya benar-benar sakit menahan kencing ini.
Yang lebih sakit lagi, Ibu menyamakan saya dengan orang lain.”

Kelas 3 SMA, aku bikin perkara dengan guru sejarah
Hanya gara-gara kelas berisik saat ia hendak masuk kelas
ia menghukum kami dengan tidak memberi pelajaran
ia justru balik ke ruang guru, tak mau mengajar
Muak pada sikapnya, aku minggat dari kelas bersama seorang kawan
Loncat pagar belakang sekolahan

Saat jam pelajaran guru itu selesai
aku dan kawanku kembali ke kelas
Tak disangka, ternyata tas serta buku kami disita
Aku melabraknya di ruang guru
“Mana buku dan tas saya?”
“Kamu kurang ajar ya sama guru?
Tas ini saya sita karena kamu ngeluyur di pelajaran saya.”
“Saya kabur karena muak pada sikap Ibu.
Tidak semua anak di kelas ribut ketika Ibu datang,
kenapa Ibu menghukum seluruhnya?
Saya tidak pernah ikut berisik, maka saya tersinggung pada hukuman Ibu!”
Aku menang ketika itu.

Beberapa bulan kemudian aku bikin perkara dengan guru bahasa Inggris
Tiap kali pelajaran selalu ngomel tak jelas
“Kalian itu bagaimana? Ndak usah macam-macam!
Saya ini lagi hamil! Gampang marah!” omelnya.
Muak dengan sikapnya yang berulang bahkan sampai menggebrak meja
Aku sebagai siswa terpandai di kelas akhirnya murka
Kulempar buku ke lantai
“Ibu nggak usah marah-marah melulu!” teriakku.
Ia melotot,
“Norman, ikut saya ke ruang guru!”

Di ruang guru dia mulai memarahiku
Para guru yang tengah istirahat ikut memelototiku
“Kamu itu dulu nggak seperti ini, Norman!
Kamu anak berprestasi dan baik!
Kenapa sekarang urakan?” tanyanya, geram.
“Ibu juga dulu tidak seperti ini.
Ibu adalah guru paling periang dan penyabar.
Sekarang ibu ngomel melulu tanpa ada satupun yang membuat kesalahan.
Dan yang lebih membuat hati saya miris
mengapa Ibu menyalahkan bayi di dalam kandungan Ibu
sebagai penyebab labilnya emosi Ibu?
Apa Ibu tidak kasihan terhadap anak itu?”
Kulihat mulutnya ternganga, ia terduduk lemas
dan membiarkanku keluar begitu saja untuk kembali ke kelas.

Keesokan hari satu sekolahan gempar
Mengapa guru Bahasa Inggris yang belakangan doyan marah
Kini kembali periang dan sabar seperti dulu?
Saat istirahat, teman-teman sekelas menanyaiku:
“Kau apakan dia?”
“Rahasia…” jawabku sembari tertawa.

Guru-guruku, ingatkah kalian padaku?
Murid kurang ajarmu ini kini jadi penyair kurang ajar
yang masih suka memberontak segala hal yang tak dianggap benar
Terima kasih atas pengajaran-pengajaranmu
Tanpa kalian, aku tak punya kisah unik macam begini.

Bekasi, 25 November 2018
Norman Adi Satria

Iklan

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.855 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: