Iklan
Normantis Update

Ketika Jokowi Kehilangan Kejawaannya – Norman Adi Satria

Ketika Jokowi Kehilangan Kejawaannya - Esai Norman Adi Satria

KETIKA JOKOWI KEHILANGAN KEJAWAANNYA
Oleh: Norman Adi Satria

Jujur, saya sempat kecewa kepada Presiden Joko Widodo. Saya merasa “ke-Jawa-an”-nya semakin lama semakin memudar. “Ke-Jawa-an” yang saya maksud disini bukan tentang letak geografis, bukan pula tentang etnis, namun lebih kepada sifat dan karakter serta cara mengekspresikannya dalam sikap dan tutur kata.

Pertama, perihal menunjukkan diri (show off). Orang Jawa biasanya menyombongkan diri dengan cara merendah. “Silakan mampir ke ‘gubuk’ saya.” Padahal rumahnya megah bak istana. “Ah, saya cuma beruntung saja. Masih banyak yang lebih hebat dari saya.” Padahal ia baru mendapat gelar nomor satu di dunia. Itu beberapa contoh sederhana retorika sebagian orang Jawa.

Namun apa yang dilakukan Presiden Jokowi? Ia memamerkan hasil kerjanya dengan membandingkan pekerjaan pendahulunya. “Sebelumnya, tempat ini memprihatinkan. Sekarang…..” begitu kurang lebih ucapannya. Itu tentu saja cara menyombongkan diri yang kurang elok dan “Njawani” (bersifat Jawa) karena ada harga diri orang lain yang terlukai.

Dan satu lagi yang agaknya kurang indah didengar, yakni menceritakan pesimisme bawahan yang merasa tidak mampu mencapai target pekerjaan berat. “Di awal-awal, mereka bilang: nggak mungkin, Pak, kalau selama sekian waktu harus mencapai target sedemikian tinggi. Tapi saya bilang: saya nggak mau tau! Kerjakan! Belum dikerjakan saja sudah pesimis!” begitu kurang lebih kata-katanya ketika menyombongkan tercapainya target tinggi secara tepat waktu. Seolah-olah, itu adalah berkat ketegasannya dalam menyuruh.

Padahal jika ingin terdengar “Njawani”, di acara peresmian yang ditonton begitu banyak orang itu, Pak Jokowi bisa berkata dengan lebih lembut dan membangun harga diri anak buahnya, misalnya: “Target ini sesungguhnya mustahil untuk dirampungkan dalam sekian waktu, namun Pak Anu dan jajarannya telah bekerja begitu keras, sampai akhirnya berhasil. Sempat di awal-awal mereka nyaris menyerah, tapi saya beri semangat. Saya bilang, ayo kerja demi rakyat. Rakyat benar-benar butuh ini. Dan, wah, luar biasa kerja keras mereka demi Bapak Ibu dan saudara sekalian. Salut! Mari beri tepuk tangan buat Pak Anu dan timnya.” Dengan berkata demikian, bukan saja masyarakat yang senang, bawahannya pun merasa dihargai dan kerjanya akan lebih semangat lagi. 

Nah, skenario kesombongan yang “nyeni” lainnya, bisa dilanjutkan oleh sang bawahan, dengan berkata, “Ah, Pak Jokowi ini terlalu berlebihan dalam memuji. Bapak Ibu sekalian, yang sesungguhnya terjadi adalah, tanpa optimisme Pak Jokowi dalam proyek ini, target tidak mungkin dicapai. Kami sempat mengeluh pesimis: kalau menurut hitung-hitungan mustahil. Namun beliau yakin bahwa jika kita bekerja ikhlas untuk rakyat, Allah pasti meridhoi. Dan ternyata benar, keringat dan kantuk kita terbayar lunas. Lelah berbulan-bulan jadi tidak ada arti apa-apa. Luar biasa Presiden kita!”

Ya, skenario-skenario semacam itu banyak terlintas di benak saya, berharap bisa diterapkan oleh pribadinya yang kadung dicap sebagai figur inspiratif  karena “sederhana” dan “bersahaja”. Intinya, tutur kata yang “Njawani” itu kurang lebih sama dengan sifat puisi. Kalau kata penyair Sapardi Djoko Damono, puisi itu: ngomongnya begini, maksudnya begitu. 

Namun, setelah memperluas sudut pandang dan menyaksikan pergolakan politik secara menyeluruh, saya mulai sadar bahwa skenario-skenario yang “Njawani” ini memang kurang tepat dilakukan di era sekarang — dimana merendah diri akan disangka sebagai pengakuan bahwa diri memang rendah; meminta maaf akan dianggap sebagai bukti seseorang bersalah; mengakui kinerja bawahan adalah pengakuan bahwa dirinya tidak bekerja; dan lain sebagainya.

Mengapa Jokowi mesti membandingkan hasil kerjanya dengan sang pendahulu? Karena ternyata pendahulunya terus-menerus menyerang. Jokowi hanya menjawab serangan itu.

Mengapa Jokowi mesti menyombongkan ketegasannya kepada para bawahan? Karena selama ini ia dituduh sebagai seorang yang mencla-mencle dan takut kepada beberapa bawahan yang merupakan titipan petinggi partai.

Mengapa Jokowi memilih retorika yang blak-blakan dan dengan bahasa paling sederhana? Karena mustahil menjawab segala fitnah yang diluncurkan secara blak-blakan oleh lawan dengan kalimat-kalimat ambigu yang justru berpotensi dianggap sebagai pengakuan.

Oleh sebab itu, “Ke-Jawa-an” Jokowi yang sedikit pudar dalam seni merangkai kata, akhirnya bisa saya maklumi juga. Karena memang tidak pas jika “Njawani” kepada orang-orang yang bakal menyalahpahami atau akan memelintirnya jadi senjata untuk memuluskan niat bulus suatu aksi. Dan, Jokowi memang harus tampil sebagai seorang pemimpin dari negeri yang tak hanya terdiri dari entis Jawa. Ia harus merangkul segala suku dan mendistribusikan keadilan kepada segenap masyarakat Indonesia, baik yang ada di dalam negeri maupun mancanegara.

Lalu, apakah dalam tulisan ini saya ingin meyakinkan Anda untuk memilih kembali Jokowi pada Pilpres 2019? Tidak! Sama sekali tidak! Saya hanya berpesan, jangan golput. Itu saja.

Norman Adi Satria
normantis.com

Iklan

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.839 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: