Normantis Update

15 Fakta Mencengangkan Tentang Norman Adi Satria

Norman Adi Satria

Norman Adi Satria saat menjadi penulis salah satu stasiun tv

FAKTA 6: KAPOK MENULIS CERPEN, MEMUTUSKAN BERALIH KE PUISI

Sejak kelas 4 SD Norman gemar menulis. Karya tulis yang paling sering ia buat adalah cerpen dan puisi. Setiap kali ulangan mengarang, ia pasti meminta 2 lembar kertas tambahan untuk menuliskan karangannya. Tulisannya sedari SD tidak seperti kebanyakan anak lainnya yang memulai karangan dengan: “Pada suatu hari”. Isi karangannya pun nyeleneh, imajinatif, karena terpengaruh pada dua buah komik kesukaanya: Doraemon dan Dragon Ball. Dulu ia punya koleksi kedua komik itu dari jilid pertama hingga terakhir.

Saat SMP, beberapa kali cerpennya dimuat di majalah sekolah: Gema Pius. Namun saat SMA ia memutuskan untuk berhenti menulis cerpen karena semua cerita yang ia tulis jadi kenyataan dalam kehidupannya, terutama soal cinta. Sejak SMA itulah Norman memutuskan hanya menulis puisi.

Kisah ini pernah dikisahkan Norman dalam puisi: Sederhana 2

 

Yoab Shalom

Yoab Shalom Satria Sastra Wardana (Putra Pertama Norman Adi Satria)

FAKTA 7: MENCURI BUKU, DITANGKAP SATPAM

Meski beretnis Tionghoa, keluarga Norman Adi Satria bukan keluarga berada. Orangtuanya hanya punya warung kecil, yang akhirnya bangkrut karena tetangga seberang rumah membuka warung yang lebih besar dan bisa ngutang. Bahkan keluarga Norman tidak punya sepeda motor. Motor pertama mereka adalah Vespa Sprint 150, warisan dari saudara yang meninggal saat Norman kelas 2 SMP.

Keterbatasan finansial membuat Norman selalu mengantri kartu ujian khusus murid yang belum membayar SPP. Keterbatasan finansial membuat Norman dipukuli dan nyaris dibacok oleh ayahnya ketika meminta uang Rp 200,- untuk membeli batagor. Jika minta Rp 200,- saja sudah dihajar demikian rupa, bagaimana jadinya jika meminta Rp 1.300,- untuk membeli komik Doraemon? Mustahil, pikirnya. Oleh sebab itu, saat kelas 4 SD Norman nekat untuk mencuri komik di pasar swalayan terbesar di Cilacap. Dari mencuri itu, ia bisa mengumpulkan komik Doraemon dari jilid pertama hingga terakhir. Sialnya, ketika hendak mencuri komik Detektif Conan, ia ketahuan oleh penjaga. Ia ditangkap satpam.

Biasanya, setiap pencuri yang ketahuan selalu dihajar habis-habisan oleh satpam kemudian diantar ke kantor polisi, entah mengapa Norman tidak. Ia hanya dibawa ke kantor manajemen pasar swalayan dan diinterogasi. Manajemen itu meminta Norman memanggil orangtua.

Norman pulang dengan sepedanya. Dengan takut ia memberitahu ayahnya, “Pa, Norman tadi nyuri buku. Terus ditangkap satpam. Papa disuruh kesana untuk bayar.” Entah mengapa ayah yang biasanya tempramen, hanya menghela napas. Ia tak memarahi Norman, tak memukulnya. Ia justru mengajak Norman kembali ke pasar swalayan itu untuk menebus buku yang dicurinya. “Maaf, Pak. Tadi anak saya ambil buku dan belum bayar ya? Saya datang untuk bayar.” ucap ayah Norman kepada manajemen pasar swalayan. Mendengar ucapan itu Norman terharu, karena ayahnya tidak menyebutnya telah mencuri. Ia memilih kata “belum bayar”. Dan sungguh aneh, jika biasanya setiap pencuri harus membayar 10 – 15 kali lipat dari harga barang, Norman hanya diharuskan membayar seharga buku itu saja. Semua hal buruk yang seharusnya terjadi justru tidak terlaksana mungkin karena yang dicurinya adalah buku. Ya, buku.

Dan sesampainya di rumah, ayahnya sama sekali tidak memarahi. Bahkan tidak pernah membahasnya hingga detik ini. Mungkin di benaknya justru mencuat kesedihan: untuk membaca saja anakku harus mencuri.

Kisah ini pernah dikisahkan Norman dalam puisi: Buku Curian

 

Simon Sukamto

Ayah Norman Adi Satria dan cucu pertamanya

FAKTA 8: 6 TAHUN BERMUSUHAN DENGAN AYAHNYA

Norman pernah bermusuhan dengan ayahnya saat kelas 5 SD hingga 3 SMA. Mereka satu rumah namun sama sekali tidak pernah bertegur sapa. Satu patah kata pun tidak pernah mereka ucapkan. Penyebabnya adalah akumulasi kekecewaan. Ayah Norman seorang yang temperament, tak segan-segan memukul. Norman pernah dipukuli pakai buntut ikan pari, kepalanya dihantamkan ke meja, lehernya nyaris digorok pakai golok, dsb. Tapi bukan itu penyebab Norman membenci ayahnya. Norman telah kebal dari segala kekerasan fisik, namun ia sangat rentan terhadap kata-kata. Saat kelas 5 SD, adiknya menangis, dan Norman disalahkan atas tangisan adiknya. Dia disebut tidak menyayangi adiknya. Itu saja. Sejak detik itu hingga kelas 3 SMA Norman enggan berkomunikasi dengan ayahnya hanya karena kata-kata.

Kebencian Norman sebenarnya hanya bertahan sekitar 2-3 tahun. Sisanya adalah gengsi dan kebingungan harus bagaimana memulai pembicaraan.

Dalam kebisuan itulah, Norman mendengar suara-suara yang selama ini terabaikan. Waktu SMA ia baru menyadari bahwa bunyi langkahnya sama persis dengan bunyi langkah ayahnya.

Sempat Norman ingin mencoba memulai komunikasi, sayangnya sikap ayahnya masih ada yang membuat dia kesal. Selain kerap membuang puntung rokok di lantai, ayah Norman juga sering menerima tamu dengan basa-basi khas Jawa, “Sandal/ sepatunya pakai saja, lantainya kotor.” Ucapan itu menjengkelkan Norman. Karena tiap hari dia yang mengepel lantai. “Baru dipel, kotor apanya.” gerutunya. Ya, lagi-lagi Norman terluka oleh kata-kata.

Kisah tentang permusuhan dengan ayahnya, Norman tulis dalam puisi: Aku Anak Ayahku

 

Norman

Norman Adi Satria saat bawakan musikalisasi puisi Chairil Anwar

FAKTA 9: MENGAMEN UNTUK BAYAR UANG SEKOLAH

Sedari TK hingga SMA Norman selalu aktif dalam paduan suara dan vocal group. Bahkan ia pernah mewakili Kabupaten Cilacap berkompetisi vocal group di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Suara yang tidak buruk-buruk amat itu dia manfaatkan untuk mengamen ketika SMA. Bersama seorang sahabatnya, Norman berkeliling komplek perumahan, mengais uang receh dengan keahlian olah vokalnya. Ia dan sahabatnya akan bersorak sorai ketika pemilik rumah memberikan kepingan Rp 500,-. Dan lebih gembira lagi saat pemilik rumah merequest 5 buah lagu dengan bayaran Rp 5.000,-. Suara pengamen yang terdengar tak biasa, jarang ada orang yang berkata “maaf” (menolak memberi uang). Bahkan ada seorang nenek yang selalu memberi minum ketika Norman dan sahabat mengamen di rumahnya.

Uang hasil ngamen dikumpulkan, sebagian untuk jajan, sebagian lagi untuk bayar sekolah. Saat kelulusan SMA, orangtuanya cemas tidak mampu membayar tunggakan sekolah dan tidak bisa mengambil ijazah. Namun berkat uang ngamen itulah, secara mengejutkan Norman membawa pulang ijazah. Sejak saat itu, tiap kali ada pengamen, orangtuanya selalu memberi uang. “Anakku dulu pernah ngamen.” ucap mereka.

Norman diterima di Universitas Jenderal Sudirman, Purwokerto, S1 jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dengan jalur prestasi (berdasarkan rapor kelas 1-3 SMA, tanpa tes).

Tentang pengamen Norman pernah menulis puisi: Ratapan Pengamen Jalanan

 

Norman Adi Satria dan Fransisca saat pacaran

Norman Adi Satria dan Fransisca Xaveria saat berpacaran

FAKTA 10: BERKALI-KALI BERPACARAN DENGAN GADIS BEDA AGAMA

Ketika SMA, Norman memacari putri seorang hakim di Cilacap. Tiap kali ngapel, ia selalu mengucap Assalamualaikum sebagai tanda penghormatan. Namun suatu ketika, Norman lupa menyembunyikan kalung salibnya. Dan keesokan harinya gadis itu minta putus karena orangtuanya tidak menyetujui. Mereka hanya pacaran tepat 30 hari.

Saat kuliah, Norman memacari seorang gadis berkerudung. Lagi-lagi mereka putus, karena perbedaan keyakinan.

Saat kerja, Norman kembali berpacaran dengan seorang Muslimah. Gadis itu selalu merayu-rayu Norman untuk pindah agama. Suatu hari Norman berkata di telefon, “Setelah kupikir-pikir dengan matang, nampaknya aku tertarik untuk pindah agama.” Gadis itu terdengar kegirangan, namun mencoba menahannya dengan bertanya, “Lho, kenapa? Kok mendadak pengen pindah agama?”

“Lagian, jadi orang Kristen itu ribet, nggak enak!” ucap Norman. “Nggak enak kenapa sih?” tanya kekasihnya. “Iya, nggak enak. Masa nggak boleh poligami…” jawab Norman dengan lugunya.

“Ooo, jadi kamu pengen pindah agama cuma biar bisa poligami??? Udah, nggak usah pindah-pindah agama segala! Kita suput! Eh, putus!”

Fakta ini pernah Norman tulis dalam puisi: Andai Tuhan Kita Beda

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.754 pengikut lainnya

1 Comment on 15 Fakta Mencengangkan Tentang Norman Adi Satria

  1. Reblogged this on Best Romantic Poetry and commented:

    Gokil! 15 Fakta tentang penyair Norman Adi Satria. Nomor 5 bikin netizen tercengang!

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: