Normantis Update

Kegalauan R.A. Kartini – Oleh: Norman Adi Satria

KEGALAUAN R.A. KARTINI TENTANG MINUMAN KERAS (YANG AKHIRNYA MEMBUATNYA TEWAS)

Kartini tak memuja Eropa dengan membabi buta. Selamanya Kartini membenci ketidakadilan dan segala yang dianggap oleh sanubarinya sebagai keburukan. Ia menyadari betul ada pula adat istiadat bangsanya sendiri yang lebih beradab. Segala ke-Eropa-an baginya tidak bisa sekonyong-konyong diterapkan di Bumiputra. Misalnya tentang madat dan miras. Kartini miris karena bangsanya makin digerogoti oleh candu (opium), namun bersyukur belum banyak yang terjerumus dalam minuman keras.

Kepada Nona Zeehandelaar, Kartini menulis dalam suratnya yang bertanggal 25 Mei 1899:

Di dalam masyarakat Bumiputra, syukurlah belum lagi perlu kami memerangi setan minum, tetapi, saya kuatir, apalagi nanti, maafkanlah saya, peradaban Barat telah berkedudukan yang tetap di sini, kami akan terpaksa pula berjuang dengan kejahatan itu. Peradaban memberi berkah, tetapi ada pula buruknya. Pikiran saya, suka meniru itu sudah menjadi tabiat manusia.

Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa. Peralatan bukan peralatan namanya, jika tidak ada minuman kerasnya.

Di negeri saya ini adalah suatu kutuk, lebih jahat lagi daripada minuman keras itu? Candu! Alangkah sengsaranya negeri bangsaku oleh benda laknat itu, tiada dapat dikatakan. Candu itu penyakit sampar Pulau Jawa. Bahkan, lebih ganas lagi daripada sampar itu.

Benar juga kata orang; candu itu tiadalah jahat, selama ada uang pembeli racun itu; tetapi bila tiada dapat mengisap lagi, tidak ada uang pembelinya, sedang badan sudah menjadi hamba madat, maka sangat berbahayalah orang itu, celakalah dia! Oleh perut lapar orang jadi pencuri, tetapi oleh tagih akan candu orang menjadi pembunuh. Kata orang di sini: mula-mulanya madat itu jadi nikmat bagi engkau, tetapi kesudahannya dialah yang menelan engkau. Dan perkataan itu sungguh-sungguh benar!

Miris, teramat miris. Minuman keras yang Kartini harapkan takkan menjangkiti kaum Bumiputra justru diduga sebagai penyebab kematiannya. Kartini tewas 4 hari pasca melahirkan putra tunggalnya, Soesalit Djojoadiningrat. Di hari keempat pasca melahirkan itulah, Kartini diajak minum anggur oleh dokter yang membantu persalinannya, Dr. van Ravesten, sebagai tanda perpisahan. Entah apakah anggur ini murni sebagai tanda perpisahan atau memang berguna bagi percepatan masa nifas — karena memang dahulu anggur dipercaya dapat membantu percepatan nifas dan memperbanyak ASI. Tak sedikit pula yang menduga, ada racun yang telah dicampurkan ke dalam anggur itu. Karena selang beberapa menit setelah meminum anggur itu, Kartini yang selama hamil hingga melahirkan sehat walafiat mendadak sakit dan hilang kesadaran kemudian meninggal. Sayang, pihak keluarga mengikhlaskan begitu saja kematiannya, tanpa meminta penyelidikan.

Kartini wafat di usia 25 tahun pada hari Sabtu, 17 September 1904. Saat itu Ir. Soekarno baru berusia 3 tahun dan Moh. Hatta berusia 2 tahun.

7 tahun pasca wafatnya, surat-surat pribadi Kartini diterbitkan. Salah satu pembaca surat-surat itu, yakni tokoh Politik Etis, van Deventer langsung menulis resensi panjang lebar tentang Kartini. Van Deventer pulalah yang 2 tahun kemudian mendirikan Yayasan Kartini, membangun sekolah-sekolah bagi Bumiputra.

Kartini tak pernah tahu bahwa pemikirannya, tulisannya, telah mengubah nasib bangsanya.

Di akhir suratnya, Kartini menulis:

Tuhan tiada akan tuli, mendengar sekian banyak hati sama-sama mendoa. Ibuku, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa anak Ibu ini tiada akan ada alangan suatu apa. Sudah tentu Ibu akan mendapat kabar dengan segera bila kejadian besar itu telah tiba.

(Disarikan dari berbagai sumber)

Bekasi, 19 April 2018
Norman Adi Satria

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.767 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: