Normantis Update

Kegalauan R.A. Kartini – Oleh: Norman Adi Satria

KEGALAUAN R.A. KARTINI TENTANG AYAHNYA

Dari segala hal buruk yang ia alami semasa kecil, Kartini sangat berpotensi untuk membenci ayahnya, R.M. Sosroningrat. Sang ayah berpoligami dan menyingkirkan ibunda Kartini, Kartini dipingit selama 4 tahun, dilarang melanjutkan sekolah, dijodohkan, dan lain sebagainya. Namun tidak, Kartini nyatanya selalu melihat sekecil-kecilnya kebaikan pada orang lain. Pada usia 21 tahun, kekaguman Kartini justru muncul kepada ayahandanya. Terutama karena ayahanda telah mengirimkan nota kepada Pemerintah tentang hak pendidikan terhadap kaum Bumiputra. Ya, R.M. Sosroningrat ternyata punya kepedulian juga pada kemajuan bangsanya.

Kepada Nona Zeehandelaar, Kartini berkisah tentang ayahnya dalam surat tertanggal 12 Januari 1900:

Tentang pengajaran ada Bapak menyampaikan nota kepada Pemerintah. Stella, kehendak hatiku, dapat kubaca hendaknya nota itu. Kata Bapak dalam nota itu: Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri peng-ajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya.

Bapak tiada juga suka berbuat barang sesuatu yang tiada sekehendak adat asal-usulnya, tetapi hak tinggal hak dan mana yang adil diadilkannya. Pikirlah, kami hendak sama dengan orang Eropa dalam hal kepintaran maupun dalam hal peradaban. Hak yang kami kehendaki baik diri kami sendiri, harus pula kami berikan kepada orang lain yang ada memintanya kepada kami. Menyukat dengan dua buah buah sukat, tidak kami hendak.

Entah nota itu berdampak atau tidak. Namun yang jelas, setahun kemudian, tepatnya pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa Bumiputra di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tersebut ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam progam Trias Van Deventer: Irigasi, Imigrasi, dan Edukasi.

Tak disangka-sangka Politik Etis (politik balas budi) yang didengung-dengungkan seorang politikus sekaligus ahli hukum Belanda, Conrad Theodore van Deventer pada 1899 jadi kenyataan. Dan bukan mustahil jika ayahanda Kartini turut menyumbangkan pemikiran kepada van Deventer, karena ketika Kartini berusia 12 tahun, mereka sempat bertemu.

Meski Politik Etis pada mulanya memunculkan pro kontra dan berjalan penuh dengan penyelewengan, paling tidak telah ada sebuah titik terang bagi Bumiputra di Hindia Belanda.

Baca di halaman selanjutnya: Kegalauan R.A. Kartini Tentang Eropa >>>>>>

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.767 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: