Normantis Update

Kegalauan R.A. Kartini – Oleh: Norman Adi Satria

KEGALAUAN R.A. KARTINI TENTANG AGAMA

Kartini seorang Muslimah yang taat. Ketaatan yang tentu saja seperti kebanyakan orang pada masa itu, tanpa suatu pengertian yang mendalam. Seperti kepada lelaki, kepada agama yang ia patuhi pun Kartini mengaku gagal untuk mencintai. Kisah ini tertulis dalam suratnya kepada Nona Zeegabdelaar tertanggal 6 November 1899:

Akan agama Islam, Stella, tiada boleh kuceritakan. Agama Islam melarang umatnya mempercakapkannya dengan umat agama lain. Lagi pula, sebenarnya agamaku, agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh aku mengenalnya? Qur’an terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa mana jua pun. Di sini tiada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Qur’an, tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu, orang diajar membaca, tetapi tidak diajarkan makna yang dibacanya itu. Sama saja engkau mengajar aku membaca kitab bahasa Inggris, aku harus hafal semuanya, sedangkan tiada sepatah kata jua pun yang kau terangkan artinya kepadaku. Sekalipun tiada orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati, bukan Stella?

Dan “baik hati” itulah yang terutama.

Agama itu maksudnya akan menurunkan rahmat kepada manusia, supaya ada penghubungkan silaturahim segala makhluk Allah. Sekalinya kita ini bersaudara, bukan karena kita seibu-sebapa, ialah ibu bapak kelahiran manusia, melainkan oleh karena kita semua makhluk kepada seorang Bapak, kepada-Nya, yang bertakhta di atas langit. Ya Tuhanku, ada kalanya aku berharap, alangkah baiknya jika tiada ada agama itu, karena agama itu, yang sebenarnya harus mempersatukan semua hamba Allah, sejak dari dahulu-dahulu menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, jadi sebab perkelahian berbunuh-bunuhan yang sangat ngeri dan bengisnya. Orang yang seibu-sebapak berlawanan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan yang esa itu. Orang yang berkasih-kasihan dengan amat sangatnya, dengan amat sedihnya bercerai-cerai. Karena berlainan tempat menyeru Tuhan, Tuhan yang itu juga, terdirilah tembok pembatas hati yang berkasih-kasihan.

Benarkah agama itu restu bagi manusia? tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri dengan bimbang hati. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu!

 Baca di halaman selanjutnya: Kegalauan R.A. Kartini Tentang Ayahnya >>>>>>

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.763 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: