Normantis Update

Kegalauan R.A. Kartini – Oleh: Norman Adi Satria

KEGALAUAN R.A. KARTINI TENTANG POLIGAMI

Pada usia 24 tahun, tepatnya hari Kamis, 12 November 1903 Kartini dan tunangannya, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat akhirnya menikah. Kartini jadi istri keempat dari Bupati Rembang yang berusia jauh lebih tua darinya itu.

Tidak sedikit orang pada masa modern kini menyayangkan keputusan Kartini. Seolah-olah di antara kecemerlangan Kartini, kepasrahannya untuk dipoligami dianggap sebagai corengan di mukanya. Ia lantas dibanding-bandingkan dengan Dewi Sartika, atau tokoh perempuan lainnya, yang dianggap lebih terpuji lantaran tak menjadi bagian dari poligami. Mereka mempertanyakan: mengapa justru Kartini yang paling menonjol di antara tokoh perempuan lainnya? Mengapa hari kelahirannya yang mesti kita rayakan?

Ya, setiap orang bebas-bebas saja berpendapat. Tapi Kartini memang dalam posisi sulit, terdesak. Ia ingin perubahan, ia ingin menjadi pengubah keadaan. Sayangnya, dia sendirian. Dia sendirian.

8 tahun, sedari usia 16 hingga 24, apakah Kartini berkesempatan untuk mencintai calon suaminya itu? Nampaknya tidak. Mereka tidak berpacaran.

Empat tahun sebelum pernikahan itu berlangsung, Kartini menulis surat kepada Nona Zeehandelaar. Pada surat tertanggal 6 November 1899 itu tertulis:

Aku tiada, sekali-kali tiada dapat menaruh cinta. Kalau hendak cinta, pada pendapatku haruslah ada rasa hormat dahulu, dan aku tiada dapat menghormati anak muda Jawa. Manakah boleh aku hormati yang sudah kawin dan sudah jadi bapak, tetapi meskipun begitu, oleh karena telah puas beristrikan ibu anak-anaknya, membawa perempuan lain pula ke dalam rumahnya, perempuan yang dikawininya dengan sah menurut hukum Islam? Dan siapa yang tiada berbuat demikian? Dan mengapa pula tiada akan berbuat demikian? Bukan dosa, bukan kecelakaan pula; hukum Islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya aku mengatakan itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku. Betapalah azab sengsara yang harus diderita seorang perempuan, bila lakinya pulang ke rumah membawa perempuan lain, dan perempuan itu harus diakuinya perempuan lakinya yang sah, harus diterimanya jadi saingannya? Boleh disiksanya, disakitinya perempuan itu kembali, bolehlah perempuan itu menangis setinggi langit meminta hak, tiada juga akan dapat.

Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sesangat itu benar benciku akan perkawinan? Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas. Tetapi tiada suatu jua pun boleh dikerjakan, karena menilik kedudukan Bapak.

Stella, tahukah engkau, betapa sedihnya hati, ingin benar-benar berbuat sesuatu, sedang diri merasa sungguh-sungguh tiada berdaya berbuat begitu.

Dari surat itu, jelas sudah, Kartini sama sekali bukan sosok wanita yang mendukung poligami. Bahkan dia meyakini poligami sebagai perbutan dosa meskipun sah menurut ajaran Islam, agamanya sendiri. Namun lagi-lagi tentu saja uneg-uneg itu tetap menjadi perkara batin, tak pernah terucap oleh kata apalagi di hadapan ayahnya. Karena bila sampai ia mengucapkan pikirannya itu, tentu saja kewibawaan ayahnya akan terluka.

Kebencian Kartini terhadap poligami lahir karena melihat sosok ibundanya sendiri. Ibunda yang sejatinya adalah istri pertama namun tersingkir karena tak memiliki garis keturunan bangsawan. Ibunda Kartini istri pertama namun bukan yang utama, bukan permaisuri, dia selir. Beberapa sumber justru pernah berkisah bahwa anak-anaknya sendiri harus memanggil M.A. Ngasirah “Mbakyu”, sapaan kepada pembantu.

Nasib ibunda yang begitu tragis membuat Kartini trauma terhadap poligami. Bukan mustahil jika ketika Kartini menjadi istri Bupati Rembang itu, akan ada istri sebelumnya yang menjadi layaknya M.A. Ngasirah. Akan ada anak-anak yang merasakan kepedihan batin yang dirasakan Kartini saat kecil.

Baca di halaman selanjutnya: Kegalauan R.A. Kartini Tentang Agama >>>>>>

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.767 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: