Normantis Update

Kegalauan R.A. Kartini – Oleh: Norman Adi Satria

KEGALAUAN R.A. KARTINI TENTANG PERJODOHAN

Kartini terbebas dari belenggu pingitan pada usia 16 tahun. Ia akhirnya menyetujui perjodohannya dengan lelaki pilihan ayahnya. Kartini dijodohkan dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang telah memiliki 3 istri. Beruntung, tunangannya itu tidak terburu napsu menikahi Kartini, sehingga Kartini bisa bebas dari belenggu pernikahan dan pinangan hingga usia 24 tahun.

Dalam suratnya kepada Nona Estella Zeehandelaar yang tertanggal 25 Mei 1899, Kartini membayangkan akan tiba suatu masa di Hindia Belanda bahwa sesuatu yang disebut emansipasi itu akan benar-benar menjadi nyata:

Bila boleh adat lembaga negeri saya, inilah kehendak dan upaya saya, ialah menghambakan diri semata-mata kepada daya upaya dari usaha perempuan kaum muda di Eropa. Tetapi, adat kebiasaan yang sudah berabad-abad itu, ada yang tak mudah merombaknya itu, membelenggu dalam genggamannya yang amat teguh. Suatu ketika akan terlepas jua kami dari genggaman itu, akan tetapi masa itu masih jauh lagi, bukan main!

Akan tiba juga masa itu, itu saya tahu tetapi tiga empat keturunan lagi. Aduh, tuan tiadalah tahu betapa sedihnya, jatuh kasih akan zaman muda, zaman baru, zamanmu, kasih dengan segenap hati jiwa, sedangkan tangan dan kaki terikat, terbelenggu pada adat istiadat dan kebiasaan negeri sendiri, tiada mungkin meluluskan diri dari ikatannya. Dan adat kebiasaan negeri kami sungguh-sungguh bertentangan dengan kemauan zaman baru, zaman baru yang saya inginkan masuk ke dalam masyarakat kami. Siang dan malam saya pikir-pikirkan, saya heningkan daya upaya supaya boleh terlepas juga daripada kongkongan adat istiadat negeri saya yang keras itu, akan tetapi … adat timur lama itu benar kukuh dan kuat, tetapi dapat juga rasanya saya lebur, saya patahkan, sekiranya tidak ada ikatan yang lebih kukuh dan kuat daripada adat lama yang manapun juga menambat saya kepada dunia saya; yaitu kasih sayang kepada mereka yang melahirkan dan membesarkan saya; jika tidak karena mereka itu tidaklah tercapai oleh saya segala yang ada pada saya, selalu dengan kasih sayang dan baik hati, memelihara saya dengan susah payahnya? Saya akan merusakkan hatinya, bila saya turutkan kata hati itu, jika saya penuhi segala yang jadi hasrat seluruh jiwa saya, setiap detik, sepanjang masa.

Ya, keputusan Kartini adalah semata-mata karena kepatuhan. Pemberontakan hanya ada di hati dan pikirannya, jadi uneg-uneg yang tak pernah terucap oleh kata.

Apakah Kartini pernah mengenal cinta? Pernah, namun hanya dari buku-buka bacaan. Kartini tidak pernah merasakan jatuh cinta. Bahkan pernikahan menjadi momok paling mengerikan dalam kehidupannya. Mungkin juga ia meyakini bahwa kalimat “Akhirnya mereka bahagia untuk selamanya.” hanya ada dalam ending dongeng, yang fiktif belaka.

Dalam surat tertanggal 25 Mei 1899, Kartini bercerita kepada Nona Zeehandelaar:

Akhirnya, waktu saya berumur enam belas tahun, maka barulah pula saya melihat dunia luar itu kembali. Syukur! Syukur! Sebagaimana seorang yang merdeka bolehlah saya tinggalkan terungku saya, dan tiada berikat kepada seorang suami yang dipaksakan saja kepada saya.

Akan tetapi, hati saya belum puas, sekali-kali belum lagi. Jauh, tetap lebih jauh dari itu yang saya kehendaki. Bukan, bukan keramaian, buka bersuka-suka hati yang saya ingini, tiada pernah yang demikian itu terkandung dalam cita-cita hati saya akan kebebasan. Saya berkehendak bebas supaya saya boleh dapat berdiri sendiri, jangan bergantung kepada orang lain, supaya jangan … jangan sekali-kali dipaksa kawin.

Tetapi kawin, kami mesti kawin, mesti, mesti! Tiada bersuami adalah dosa yang sebesar-besar dosa yang mungkin diperbuat seorang perempuan Islam, malu yang sebesar-besar malu yang mungkin tercoreng di muka seorang anak gadis Bumiputra dan keluarganya.

Dan kawin di sini, aduh, dinamakan azab sengsara masih terlalu halus! Betapa nikah itu tiada akan sengsara, kalau hak semuanya bagi keperluan laki-laki saja dan tiada sedikit jua pun bagi perempuan? Kalau hak dan pengajaran kedua-duanya bagi laki-laki semata-mata kalau semua-muanya dibolehkan dia perbuat?

Cinta, apakah yang kami ketahui tentang perkara cinta itu? Betapa kami akan mungkin sayang akan seorang laki-laki dan seorang laki-laki kasih atas kami, kalau kami tiada berkenalan, bahkan yang seorang tiada boleh melihat yang lain? Anak gadis dan anak muda dipisahkan benar-benar ….

 

Baca di halaman selanjutnya: Kegalauan R.A. Kartini Tentang Poligami >>>>>>

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.746 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: