Normantis Update

Kegalauan R.A. Kartini – Oleh: Norman Adi Satria

KEGALAUAN R.A. KARTINI TENTANG PINGITAN

Segera setelah Kartini lahir pada 21 April 1879, ayahanda Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang seorang wedana diangkat menjadi Bupati Jepara. Apa syarat untuk menjadi seorang Bupati? Garis keturunan? Kecerdasan? Kepatuhan terhadap kolonial? Ternyata semua itu belum cukup. Calon Bupati wajib beristrikan perempuan bangsawan! Dan sialnya, istri pertama R.M Adipati Ario Sosroningrat, M.A Ngasirah yang tak lain adalah ibunda Kartini, bukan keturunan bangsawan! Oleh sebab itu, demi jabatan Bupati ayahanda Kartini menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan, keturunan langsung Raja Madura. Setelah pernikahan itu, ayah Kartini menjadi Bupati menggantikan kedudukan ayahanda R.A. Woerjan, R.A.A Tjitrowikromo, mertuanya sendiri.

Menjadi anak Bupati, tentulah Kartini mendapat banyak keistimewaan dibanding rakyat jelata yang tak beralas kaki dan tak mengenal pendidikan formal. Hingga usia 12 tahun Kartini mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS). Di sekolah inilah Kartini mengenal bahasa Belanda, bahasa yang mengantarkannya pada bacaan-bacaan pencerah pikiran, salah satunya tentang emansipasi yang kala itu belum menarik perhatiannya. Tapi apa yang terjadi selepas ia bersekolah? Bekerja? Berkarya? Sama sekali tidak! Karena dia perempuan!

Sejak usia 12 tahun Kartini dipingit, diasingkan dari dunia luar. Kerjanya hanya dilayani, sembari menanti ada seorang lelaki yang melamarnya menjadi istri. Hanya pernikahan yang bisa membebaskan perempuan dari pingitan. Ia sempat menghiba kepada ayahnya agar diizinkan melanjutkan sekolah ke Hogere Burger School (HBS) di Semarang, namun ayahnya menolak.

Kepada Nona Estella Zeehandelaar, Kartini menuliskan suratnya yang bertanggal 25 Mei 1899:

Kami, gadis-gadis masih terantai kepada adat istiadat lama, hanya sedikitlah memperolah bahagia dari kemajuan pengajaran itu. Kami anak perempuan pergi belajar ke sekolah, keluar rumah tiap-tiap hari, demikian itu saja sudah dikatakan amat melanggar adat. Ketahuilah, bahwa adat negeri kami melarang keras gadis keluar rumah. Ketika saya sudah berumur dua belas tahun, lalu saya ditahan di rumah – saya mesti masuk “tutupan”; saya dikurung di dalam rumah, seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi, bila tiada serta seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya dengan tiada setahu kami ….

Empat tahun, yang tak terkira lamanya, saya berkhalwat di antara empat tembok tebal, tiada pernah sedikit jua pun melihat dunia luar. Betapa saya dapat menahan kehidupan yang demikian, tiadalah saya tahu hanya yang saya ketahui, masa itu sangat sengsara.

Membaca surat itu, Stella menyangka bahwa Kartini disekap di dalam ruang sempit layaknya penjara yang sadis. Pada surat tertanggal 6 November 1899, Kartini menjawab:

Engkau bertanya, apakah asal mulanya aku terkurung dalam empat tembok tebal. Sangkamu aku tinggal di dalam terungku atau yang serupa itu. Bukan. Stella, penjaraku rumah besar, berhalaman yang luas sekelilingnya, tetapi sekitar halaman itu ada tembok tinggi. Tembok inilah yang menjadi penjara kami. Bagaimana juga luasnya rumah dan pekarangan kami itu, bila senantiasa harus tinggal di sana, sesak juga rasanya. Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu menghempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu. Arah ke mana juga aku pergi, setiap kali putus juga jalanku oleh tembok batu atau pintu terkunci.

Jelas sudah, dalam tiada berkekurangan sebagaimana dirasakan rakyat jelata, Kartini yang tinggal di istana justru merasa menderita. Masa kecilnya yang berjiwa bebas, terenggut.

Baca di halaman selanjutnya: Kegalauan R.A. Kartini Tentang Perjodohan >>>>>>

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.768 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: