Iklan
Normantis Update

Kegalauan R.A. Kartini – Oleh: Norman Adi Satria

normantis.com

KEGALAUAN R.A. KARTINI
Oleh: Norman Adi Satria

Wafat di usia 25 tahun, dikenang lebih dari seabad. Itulah RA Kartini. Namanya begitu masyhur seantero Nusantara. Tiap 21 April kita mengenang hari lahirnya. Tapi kita mesti jujur, bukankah kita hanya mengetahui dua saja darinya: “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan “Emansipasi Wanita”? Dan bukankah kita mengenalnya hanya melalui lagu wajib nasional karangan W.R. Supratman: “Ibu Kita Kartini”? Kita tidak akan mengetahui lebih dari itu jika tidak pernah membaca tulisan-tulisannya.

Kartini, gadis bangsawan Jawa yang dirundung kegalauan. Apa yang membuatnya galau? Nyaris segala hal menjadi kegundahannya. Agama, cinta, dan kebangsawanannya itu sendiri.

 

KEGALAUAN R.A. KARTINI TENTANG ADAT JAWA

Pada 18 Agustus 1899 Kartini menulis surat kepada Nona Estella Zeehandelaar tentang sulitnya adat sopan santun orang Jawa:

Bagi saya hanya ada dua macam bangsawan; bangsawan pikiran dan bangsawan budi. Tiada yang lebih gila dan bodoh pada pemandangan saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya itu. Di manakah gerangan lebih jasanya, orang bergelar graaf atau baron? Tiada terselami oleh pikiranku yang picik ini.

Bangsawan dan berbudi, boleh dikatakan dua perkataan yang searti! Apabila memangnya orang bangsawan, senantiasa bersifat “bangsawan” maka barulah ada kemuliaan bagi saya, berasal tinggi itu.

Sesungguhnyalah adat sopan santun kami orang Jawa amat sukar. Adikku harus merangkak, bila hendak lalu di mukaku. Kalau ada adikku duduk di kursi, apabila aku lalu, haruslah dengan segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tiada kelihatan lagi. Tiada boleh adik-adikku berkamu dan berengkau kepadaku, hanya dengan bahasa kromo boleh ia menegurku; tiap-tiap kalimat yang disebutnya, haruslah dihabisinya dengan sembah.

Seram bulu, bila kita ada di dalam lingkungan keluarga Bumiputra yang berbangsa. Bercakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya harus perlahan-lahan sehingga orang yang didekatinya saja yang dapat mendengar.

Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput layaknya. Bila agak cepat, dicaci orang, disebut “kuda liar”. Kepada kakakku laki-laki maupun perempuan, kuturuti semua adat itu dengan tertibnya, tetapi mulai dari aku ke bawah, kami langgar seluruhnya segala adat itu.

Stella, jika engkau lihat betapa pergaulan hidup orang bersaudara di kabupaten lainnya: mereka itu bersaudara, semata-mata hanya karena mereka seibu; yang memperhubungkan mereka itu, tiada lain daripada pertalian darah. Perempuan, adik, dan kakak, tinggal bersama-sama, tetapi jarang kelihatan tanda-tanda yang menyatakan bahwa mereka itu berkerabat, lain daripada persamaan raut mukanya.

Stella, terima kasihku sangatlah besarnya, karena baik pendapatmu tentang kami, orang Jawa. Sesungguhnya aku tahu bahwa bagimu semua manusia, kulit putih dan kulit hitam sama adanya. Orang yang sebenarnya berbudi dan terpelajar semata-mata kebaikanlah saja yang kami dapat daripadanya. Meskipun orang Jawa itu bodoh, tiada berpengetahuan, tiada beradab, semua orang yang sepikiran dengan engkau, tetap akan memandang sesama manusia juga, sama-sama dijadikan Allah dengan orang yang beradab itu, ada juga berhati jantung dan mungkin juga terharu hatinya, sungguhpun air mukanya tiada berubah dan pada mata maupun gerak tangannya tiada tampak betapa rasa hatinya.

Itulah surat yang Kartini tulis saat usia 20 tahun kepada kawannya di Belanda. Nampak jelas dari pemikirannya, ia tidak suka pada gelar kebangsawanannya sendiri. Gelar kebangsawanan yang diperoleh serta merta hanya karena garis keturunan, tanpa usaha, tanpa jasa. Gelar kebangsawanan yang di satu sisi melambungkan martabat, namun di sisi lain mengekang kebebasan. Ya, untuk bersopan santun pun orang harus tersiksa.

Baca di halaman selanjutnya: Kegalauan R.A. Kartini Tentang Pingitan >>>>>

Iklan

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.839 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: