Iklan
Normantis Update

Mengapa Saya Tidak Menerbitkan Buku Puisi? – Norman Adi Satria

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

MENGAPA SAYA TIDAK MENERBITKAN BUKU PUISI?
Oleh: Norman Adi Satria

“Mengapa hingga detik ini kamu belum mau menerbitkan puisi-puisimu yang berjumlah ribuan itu ke dalam bentuk buku dan mengkomersilkannya?” Pertanyaan itu berkali-kali datang dari para pembaca dan kawan. Dan alasan apa yang saya berikan?

Alasan pertama: saya tidak mau menambah kerusakan bumi dengan mencetak puisi-puisi saya yang tidak bagus-bagus amat itu di atas kertas yang diperoleh dari pembalakan hutan. Apalagi kalau secara ajaib buku puisi itu tiba-tiba jadi best seller, laku jutaan copy, maka semakin merasa berdosalah saya ini. Seolah-olah kelak sejarah akan mencatat: pemanasan global terjadi salah satunya disebabkan oleh pencetakan massal buku puisi Norman Adi Satria. Kemudian cucu saya merasa malu di sekolah karena membaca nama kakeknya ada di buku sejarah sebagai biang keladi global warming. Hehehe…

Alasan kedua: saya tidak mau mengkomersilkan karya yang tidak ternilai oleh Rupiah, karena dengan puisi-puisi itulah saya beribadah.

Ya, alasan apapun bisa dibuat. Dengan dua alasan di atas tadi, bisa jadi akan muncul persepi publik yang menyimpulkan bahwa saya ini pencinta lingkungan, tidak mata duitan, dan religius. Bukankah menyimpulkan segala sesuatu merupakan salah satu tabiat kita sedari dulu?

Tapi dari dunia puisi kita harus belajar untuk tidak menyimpulkan apapun. Karena yang terpenting dari puisi bukanlah kesimpulan, bukan pula makna yang ingin disampaikan. Yang terpenting dari puisi adalah cara menyampaikan makna dan perasaan. Mungkin maknanya cuma: aku cinta kamu, namun cara menyampaikannya muter-muter dulu. Ngomongin kembanglah, ngomongin bulan, matahari, tukang martabak, cilok, seblak, dan tetek bengek lainnya.

Namun dua alasan di atas tadi, saya sadari, mengandung risiko. Bagaimana jika tiba-tiba saya, secara terpaksa atau tidak, akhirnya menerbitkan ribuan puisi itu ke dalam buku? Tentulah saya akan dianggap ingkar terhadap ucapan saya sendiri. Saya akan disebut telah menjilat ludah sendiri, mencla-mencle, dan sejenisnya.

Tenang, bukankah dalam keadaan tertekan, akan muncul lebih banyak alasan? Misalnya, saya ingin karya-karya saya ada di rak buku pembaca, saya kasihan pada penerbit buku yang kini mulai kembang kempis penghasilannya, penerbit anu bersedia mencetak puisi-puisi itu di atas kertas yang bukan terbuat dari batang pohon, atau mantan-mantan saya yang telah begitu banyak menginspirasi terciptanya puisi-puisi itu tiba-tiba minta persenan. Hehehe…

Jadi, apa sebenarnya inti dari tulisan yang sedang kamu baca ini? Duhh… Kan sudah saya bilang tadi, kita harus belajar dari dunia puisi untuk tidak menyimpulkan apapun. Karena makna puisi selamanya ambigu, selamanya bermakna lebih dari satu. Bahkan kamu bisa saja kecewa saat pengarang puisi itu tiba-tiba mengemukakan makna versinya, sambil berkata: yaelah, cetek banget! Tidak sedalam penghayatanku.

Eh, tunggu sebentar… Barusan saya sedang menyimpulkan bukan ya?

Bekasi, 5 April 2018
Norman Adi Satria

Iklan

EDISI SPESIAL HARI KARTINI

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.453 pengikut lainnya

1 Comment on Mengapa Saya Tidak Menerbitkan Buku Puisi? – Norman Adi Satria

  1. ya mungkin mengerti makna adalah lebih penting, dari pada sekedar mengingat. Ingatan ada batas waktu lupa usang tua dan mati sedang mengerti akan selalu hidup selamanya.

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: