Iklan
Normantis Update

Customer Service – Puisi Norman Adi Satria

Karya: Norman Adi Satria

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

CUSTOMER SERVICE
Karya: Norman Adi Satria

“Dalam 8 jam tiap 6 hari dalam seminggu
berapa orang yang kamu temui?”
tanyaku pada Firda di balik laptop itu.
Lagi-lagi ia tersenyum
menampakkan gigi depannya yang sedikit miring.
“Tidak terhitung, Mas.” ucapnya.

Aku tidak tahu pasti
mana yang lebih penting baginya:
menjawab pertanyaanku
atau melakukan tugasnya, yaitu
memberi tahu bahwa kartu selularku tak bisa lagi diaktifkan
kerna telah lewat masa tenggang
dan mesti beralih ke paket pascabayar.

“Kalau Mas mau, ada paket termurah
harganya per bulan enam puluh ribu Rupiah.”
“Kalau memang mesti begitu, ya sudah.”
“Baik, tunggu sebentar, saya siapkan dokumennya.”

Ia menulis namaku di kertas
tanggal lahirku
alamat rumahku
nama ibuku
nomor telefonku.

“Konsekuensi dari yang tak terhitung adalah
akan banyak yang terlupakan.”
“Tidak juga. Saya ingat beberapa.”
“Oya?”
“Dua minggu lalu ada pria yang merayu saya.
Dia bilang saya cantik, dan sebagainya.”
“Mungkin dia bukan sedang merayu.
Dia hanya tidak sanggup untuk menyembunyikan kejujuran.”
Firda tersenyum malu.

“Dulu kamu kuliah apa?”
“Pemrograman Web, Mas.
Kuliah yang sebenarnya saya benci
kerna harus memperhatikan kode-kode tiap hari.”
“Pantas.”
“Pantas kenapa?”
“Peka betul pada kode-kode lelaki.”
Firda kali ini tertawa
mengundang perhatian
kawan-kawan customer service lainnya.

“Maaf, Mas.. Harusnya saya tidak tertawa.”
“Ya, aku tahu.
Dalam pekerjaanmu memang tidak ada yang lucu.”

Firda menempelkan meterai
menyodorkan kertas dan pena.
“Tanda tangan di sini, Mas.”
“Oke.”
Aku membubuhkan tanda tangan
dan menuliskan nama terang.
Sepanjang momen yang singkat itu
aku tahu
Firda mengamatiku.

“Kalau Mas dulu kuliah apa?”
“Sastra.”
“Pantas.”
“Pantas kenapa?”
Firda tidak menjawab.

“Tunggu sebentar ya, Mas.
Mohon nonaktifkan ponselnya.”
Firda meninggalkanku
melangkah ke sebuah ruangan
dan kembali dua menit kemudian.
“Sekarang ponselnya boleh diaktifkan.”

Aku menyalakan ponsel
menanti logonya berhenti berputar
“Sekarang coba Mas menelefon.” ucapnya
“Menelefon siapa?”

Mendengar pertanyaan itu
entah mengapa Firda tiba-tiba gelisah
ia menggigit bibir bagian bawah.
Kuduga ia menanti aku bertanya:
bolehkah aku menelefonmu saja?
Sayang, tapi aku tidak melakukannya.

“Sudah?”
“Sudah.”
Mata kami bertemu untuk kesekian kalinya
namun kali ini seperti tak rela
kerna harus menjadi yang terakhir.

“Terima kasih Mas telah berkunjung.
Beberapa menit lagi akan ada SMS dari 116
berisi survei tentang kualitas pelayanan saya.
Kalau Mas berkenan, silakan beri saya poin lima.”
Aku hanya tersenyum
berdiri, menjabat tangannya
dan berharap ia membaca mataku yang berkata:
aku akan memberimu poin sepuluh, jika perlu.

Dan dari matanya
aku membaca:
kamu takkan menjadi bagian dari yang kulupa.

Bekasi, 28 Maret 2018
Norman Adi Satria

Iklan

EDISI SPESIAL HARI KARTINI

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.453 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: