Normantis Update

Cerpen W.S. Rendra: Pohon Kemboja

Karya: W.S. Rendra

Tiba-tiba kakek itu muncul di pohon kembojanya.

Dan, tahu-tahu ia mengomel tertuju kepada saya, “Kurang ajar! Kurang ajar! Potret Herman hilang dari meja saya. Pasti diambil oleh orang yang iri hati kepadanya. Saya tak mempunyai potretnya yang lain. Itulah satu¬satunya potretnya di dunia ini. Gila sekali. Kenapa orang mencurinya!”

Hari demi hari sesudah itu, wajahnya bertambah murung saja. Bahunya makin menurun. Dan, wajahnya makin meruncing. Saya merasa kasihan melihatnya, tetapi saya tak ingin campur tangan dalam hal ini.

Kemudian pada suatu hari, waktu saya pulang dari bekerja, istri saya bercerita bahwa di rumah Ir. Rahmat tadi ada keributan yang hebat. Hal ini terjadi karena Kakek menemukan potret Herman yang hilang dalam keadaan telah koyak-koyak. Setelah diurus ternyata potret itu telah diambil oleh anak Ir. Rahmat yang bungsu, kemudian dikoyak-koyaknya. Ketika ditanya kenapa ia berbuat demikian, sang cucu menjawab, “Supaya tamatlah riwayat Paman Herman. Saya sudah bosan mendengarnya!”

Kakek tak tahan mendengar jawaban semacam itu.

Anak itu dihajarnya. Anak itu baru berumur empat belas tahun, tetapi ia seorang yang berani. Ia membalas memukul kakek itu. Dengan penuh nafsu sang Kakek bertindak mengalahkan bocah habis-habisan. Hal ini menerbitkan panik seluruh rumah.

Akhirnya, meledak pulalah kemarahan Ir. Rahmat. “Apakah istimewanya si Herman?”

“Ia seorang jantan. Itu istimewanya!”

“Apakah Ayah tahu, kenapa ia hilang selama ini?”

“Ia tidak hilang. Ia akan kembali lagi kepada saya. Ia tidak pernah melupakan saya. Ia akan membawa saya dari sini ke tempat yang lebih baik.”

“Ia bukan seorang dewa!”

“Tetapi terang, bahwa ia lebih bermutu dari kau dan semua saudara-saudaramu yang lain.”

“Ayah tak bisa berkata begitu karena Ayah tak tahu apa-apa tentang mutu saya. Sejak saya kecil, Ayah tak pernah memperhatikan saya. Ayah tak bisa mengatakan saya bermutu atau tidak. Bukan hanya karena seseorang tak bisa main pencak saja maka ia lalu menjadi orang yang tak bermutu.”

“Kalau seorang lelaki bersikap seperti seorang perempuan, itu artinya ia tak bermutu.”

“Jadi Herman seorang yang bermutu?”

“Ya. Ia bermutu.”

“Ia seorang bandit.”

“Dan kau …. “

“Ia seorang bandit di Medan. Dan, sepuluh tahun yang lalu ia telah mati tertembak oleh polisi.”

Perkataan itu menyambar kakek itu seperti geledek. Ia tak memercayainya, tetapi Ir. Rahmat segera mengeluarkan setumpuk surat dari brankas dan meletakkannya di hadapan Kakek sambil berkata.

“Inilah bukti-buktinya. Saya sendiri pun telah ikut menyelenggarakan pemakamannya. Selama ini kami rahasiakan pada Ayah karena kami tahu apa akibatnya apabila Ayah tahu. Tapi, sekarang keadaan mendesak saya. Saya harus mengatakannya kepada Ayah. Tinggal sekarang, saya ingin melihat apakah Ayah juga bisa bersikap sebagai seorang jantan dalam menghadapi soal ini.”

Sore harinya, ketika saya sedang mengurusi tanaman saya, saya lihat Kakek sedang mengayunkan kapak dengan marah, menebangi dahan-dahan pohon kembojanya. Ia mengayunkan kapaknya seperti orang gila. Dahan-dahan jatuh satu per satu. Sekarang tinggal beberapa ranting kecil saja yang melekat di pokoknya.

Orang tua itu masih saja mengayunkan kapaknya.

Akhirnya, ia mengumpulkan kekuatan untuk menebang pokoknya, tetapi mendadak ia tertegun. Ia berhenti dan menyapu keringat di dahinya dengan punggung tangannya. Tiba-tiba ia sadar bahwa saya melihat kepadanya. la menoleh kepada saya dan sambil tersenyum berkata, “Ia lebih ulet dari manusia. Apakah kita tidak malu melihatnya?”

Majalah SASTRA,
W.S. Rendra

Buku: Pacar Seorang Seniman

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.772 pengikut lainnya

1 Comment on Cerpen W.S. Rendra: Pohon Kemboja

  1. alhamdulillah kakek sadar

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: