Normantis Update

Cerpen W.S. Rendra: Pohon Kemboja

Karya: W.S. Rendra

“Juara pencak yang tak ada bandingannya. Saya sendiri melatihnya. Semua kakak-kakaknya pernah digilasnya. Sedang Rahmat ini, ia hanya pintar, maka bisa jadi insinyur, tapi dalam hal kejantanan … Bah, tak akan bisa mengalahkan Herman. Herman tak punya tandingan dalam hal ini.”

Tentang hal Herman itu selebihnya, saya sudah banyak mendengar ia menceritakannya. Semenjak sepuluh tahun terakhir ini ia tak pernah lagi mendengar beritanya. Paling akhir diterimanya, ialah bahwa ia di Medan dan di sana menjadi seorang importir. Sebelum itu, ia selalu banyak menerima pemberian uang ataupun kiriman barang dari anaknya itu. Setelah anaknya hilang, orang tua itu menjalani hidup yang murung, begitu kata orang. Saya sendiri melihatnya datang-datang sudah sebagai orang yang murung. Sebenarnyalah ia seorang tua yang pengomel, cepat kesal, kasar, dan suka marah saja.

Ia hanya kelihatan bersemangat kalau sedang mengomong tentang Herman, kemboja, atau pencak saja. Ia senantiasa merindukan anaknya itu. Ia selalu berusaha mencari berita mengenainya, meskipun kemampuannya sangat terbatas. Ia masih selalu berharap bahwa akan masih bisa bertemu dengan Herman. Namun, kelihatannya semua anak-anak, cucu-cucu, dan famili-familinya lain tidak membantu usahanya. Bahkan, tampaknya mereka tak ada perhatian terhadap pahlawan yang bernama Herman itu.

Pernah terjadi pertengkaran antara Kakek dan Ir, Rahmat tentang hal Herman. Awal mulanya bagaimana saya tidak tahu. Yang terang, Kakek gampang mengajak orang bertengkar. Memang bisa dimengerti apabila seisi rumah menjadi kesal, Kakek setiap saat selalu saja mempercakapkan Herman. Setelah terjadi pertengkaran itu, Kakek bercerita kepada saya, yaitu pada saat menyirami tanaman seperti biasanya.

“Tuan,” katanya, “Tuan mendengar saya tadi berteriak-teriak?”

“Ya, karena Tuan berteriak keras sekali.”

“Saya marah, itulah sebabnya. Ya, saya marah sekali. Kenapa tidak? Karena saya dikatakan oleh Rahmat bersikap kurang adil terhadap anak-anak saya, bahwa saya hanya selalu memikirkan Herman. Bah! Tuan, ia tak bisa menuduh saya begitu. Tentu saja saya sangat memikirkan semua anak-anak. Bukankah saya mengurusi mereka dan memberi mereka makan sehingga mereka dewasa? Namun, orang, toh, tak bisa membantah bahwa Herman memang seorang yang istimewa. Bahwa mereka tak bisa mengalahkan Herman, itu tidak berarti bahwa saya kurang memikirkan mereka!”

Omongannya lebih panjang dari itu. Meledak-ledak dan penuh nafsu. Namun, saya hanya memberinya anggukan-anggukan dan sebelah telinga. Bagaimanapun, rasa kasihan saya kepadanya dan karena saya tidak suka ada ketegangan antara saya dan orang tua yang suka cari selisih itu maka senantiasa saya terdorong untuk pura-pura mendengarkan segala omongannya.

Pohon kemboja itu sekarang telah menjadi besar. Ia telah mulai berbunga. Bunganya putih dengan warna kuning lembut di tengahnya. Daun kemboja itu bulat panjang dan bersih dari debu karena selalu terjaga dan disirami oleh Kakek. Dahan-dahannya melayah dengan bagus karena terpelihara dan terawasi. Kakek itu mempergunakan tali-tali dan tonggak-tonggak bambu yang dicat dengan berrnacam-macarn warna untuk menjaga pertumbuhan dahan-dahan menurut kehendaknya. Ia sangat bangga pada kembajanya.

Pernah ia berkata, “Bunga kemboja ialah bunga yang berwatak. Ia tidak terpengaruh oleh keadaan. Ia senantiasa mempunyai keagungan. Meskipun ia biasa tumbuh di kuburan, ia tak bisa dinamakan bunga kematian. Terbukti apabila ditanam di halaman seperti ini, ia pun akan bisa memberikan keindahan yang tersendiri. Itulah namanya watak dan keagungan.”

Lain ketika ia berkata kepada saya, “Dahan kemboja itu ulet. Pohon ini memang ulet seperti seorang jantan. Nah, Herman persis seperti kemboja ini. Zaman sekarang orang tak menghargai kejantanan lagi. Orang hanya menghargai kelicikan. Beberapa hari yang lalu saya menantang seorang sopir becak untuk berkelahi, tapi orang mencegah saya. Mereka menganggap perbuatan saya itu tolol. Aneh sekali bahwa mereka menganggap kejantanan sebagai ketololan. Tetapi, Herman pasti tidak lupa, apa artinya kejantanan itu. Saya mengajarnya, dan ia pasti tak akan melupakannya.”

Pada suatu hari, ketika saya sedang asyik merawat cemara kerdil saya, saya mendengar keributan yang keras di rumah Ir. Rahmat itu. Suara Kakek terdengar paling keras. Ketika suara ribut sudah reda, gampang saja bagi saya untuk menduga bahwa Kakek sudah mulai marah-marah pada setiap orang lagi.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.772 pengikut lainnya

1 Comment on Cerpen W.S. Rendra: Pohon Kemboja

  1. alhamdulillah kakek sadar

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: