Iklan
Normantis Update

Cerpen W.S. Rendra: Pohon Kemboja

Karya: W.S. Rendra

POHON KEMBOJA
Karya: W.S. Rendra

Beberapa tahun yang lalu, seorang tua, tetangga saya, menanam pohon kemboja. Orang tua itu ayah Ir. Rahmat, yaitu si empunya rumah sebelah itu. Cucu-cucunya memanggilnya si Kakek. Dan kemudian, di kampung itu ia tak punya nama lain kecuali si Kakek.

Orang tua itu rupanya kurang disukai oleh cucu-cucunya. Banyak bisa dicari sebab-sebabnya, tetapi kenyataan bahwa ia sudah tua itu saja sudah cukup menjadi satu sebab, mengapa ia tidak disukai cucu-cucunya. Bahkan, anaknya sendiri kurang menyukainya.

Tentang sikap menantunya, sudah terang bisa diduga.

Mereka mengambil kakek itu ke rumah mereka karena mereka takut kalau-kalau dikata-katai yang tak baik oleh famili-famili yang lain karena sebagai anak yang terkaya tidak mau merawat ayah kandungnya sendiri.

Penanaman pohon kemboja di halaman, tentu pada mulanya mendapat tentangan-tentangan dari seisi rumah.

Namun, setelah perdebatan yang panjang dan merepotkan, akhirnya dibiarkannya saja pekerjaan orang tua itu.

Pohon kemboja itu ditanam di dekat pagar rumah saya. Setiap hari kakek itu memeriksa kembojanya. Pada suatu hari, ketika ia sedang sibuk dengan kembojanya, saya berkata kepadanya, “Bagus betul kembojanya!”

Waktu itu saya sedang menyiram tanaman-tanaman di halaman saya. Dia senang mendengar pujian saya. Barangkali tak ada orang lain yang pernah memberikan perhatian pada kebahagiaannya itu. Justru karena dugaan itulah, saya telah mengucapkan pujian itu. Dan, orang tua itu menjawab saya dengan senyuman.

“Kalau ia berbunga, bunganya akan putih. Saya akan menjaga supaya dahan-dahannya berbentuk bagus. Ia memerlukan rawatan setiap hari.”

“Pekerjaan yang menyenangkan, saya kira.”

“Sangat menyenangkan. Tahukah Tuan, kenapa kemboja ini sangat berarti bagi saya?”

Saya sangsi bagaimana saya akan menjawabnya. Kalau diberi kesempatan, orang ini akan mulai berkicau dengan panjang lebar sebagai seekor burung penyanyi. Sebelum saya sempat menjawabnya, ia sudah memulainya.

“Induk dari kemboja ini tumbuh di halaman rumahku di Karanganyar. Begini, saya punya seorang anak lelaki yang bernama Herman.”

“Ya, saya tahu, anak itu sudah sepuluh tahun tak ada beritanya …. Bahwa ia seorang ahli pencak yang mendapat didikan dari Tuan sendiri? Va, saya pun tahu itu.”

“Dan, ia juga seorang yang selalu ingat kepada ayahnya yang tua ini. Ia bisa menghargai saya dan sangat cocok dengan saya.”

“Tentu sangat senang mendapat anak seperti dia.”

“Tentu saja. Dan, dia dulu suka memanjat pohon kemboja, induk dari kemboja ini. Tuan tahu, ia seorang anak lelaki sejati, ia suka memanjat, latihan mengangkat badan, dan lain sebagainya …. “

“Ya, ya, saya mendengar ia memang seorang yang jantan.”

Iklan

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.839 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: