Normantis Update

Cerpen W.S. Rendra: Ia Membelai-Belai Perutnya

Karya: W.S. Rendra

Tiba-tiba muka pemuda itu jadi berubah, sedikit tenang, “Dengar, aku takkan lari. Aku akan berusaha menghindarkan perkawinan kita, tapi kalau gagal dan tak ada lain jalan kuberanikan diriku mengawini kau.”

Dengan cepat-cepat Narso meninggalkan rumah itu dan ia sendiri tenggelam dalam sedu-sedan. Orangtuanya menanyakan tentang halnya, tetapi ia tak berani berkata sepatah kata tentang kandungan itu. Ia akan mencari persiapan dulu untuk mengabarkannya.

Hari yang berikutnya Narso datang. Ia kelihatan lesu, berkeringat, dan seolah dari perjalanan ke sana kemari. Kepadanya Narso memberikan sebungkus pil. Ketika ia selesai membuka bungkusan itu, ia menangis.

“Tidak Narso, aku tidak akan menelannya. Itu dosa!”

“Aku tidak memaksamu. Ingatlah, aku tak pernah mencintaimu. Kalau engkau nekat mengajak aku kawin, aku tidak membantah. Tapi, itu berarti engkau nekat meninggalkan kedamaian hidup dan memasuki kehidupan yang tertindas dan mengurung diri dalam satu nestapa. Kalau tak ada jalan lain, aku sendiri akan nekat memasukinya.”

“Tapi itu pembunuhan! Itu dosa!”

“Ya, itu pembunuhan. Dan, semua pembunuhan itu kejam. Tapi, ingatlah hari depan dari benih yang di kandunganmu itu. Ingatlah, kekejaman itu bermaksud kepentingannya juga. Bayangkan bagaimana nanti hidupnya dalam ketidakcintaan kita berdua. Aku tak sanggup jadi suami setia dan juga bapak yang baik baginya. Aku mungkin membencinya karena ia telah mengubah seluruh perjalanan hidup yang kusukai.”

Sambil menarik napas disabar-sabarkan, pemuda itu melanjutkan katanya.

“Pil itu boleh kau telan, boleh tidak, semaumu. Tapi, jangan mungkiri! Pikirkan dulu baik-baik.”

Kemudian pemuda itu pergi dan ditinggalkannya bungkusan pil itu di atas meja.

Semalam suntuk ia berpikir apa yang harus diperbuatnya. Dan, sekarang dengan berbaring di atas kursi malas itu, masih berlangsung di dadanya suatu pergulatan yang seru. Tangan yang satu membelai-belai perut dan tangan yang lain menggenggam bungkusan pil itu.

Ia tak mungkin lagi cinta Narso. Ia ingat, bahwa ia pernah dapat foto-foto dari gadis-gadis Narso di Yogya. Semuanya lebih cantik daripadanya. Terang diketahuinya bahwa ia tak mempunyai harapan lagi atas cinta Narso.

Kalau keduanya kawin, juga itu adalah semata-mata menepati susila yang justru akan memberi nestapa kepadanya. Sudah dapat dibayangkan bagaimana suami itu malam-malam pergi menjalang dan setiap hari terjadi pertengkaran dalam rumahnya. Dan, pastilah suami itu nanti akan membenci anak mereka. Anak itu akan dimarahi setiap kali dan telantar pendidikannya. Kemudian anak itu akan hidup dalam suasana ketakutan. Dan, karena ketakutan itu, ia lalu akan sering berbohong, tak pernah berani berbuat dengan keyakinan dan sepanjang hidupnya akan selalu berada dalam dunia angan-angan.

Akan dibiarkankah hidup anaknya begitu? Mungkin ia akan berani bertindak secara lebih nekat dan kepahlawan-pahlawanan. Yaitu tidak akan minta dikawin Narso dan akan menanggung jawab sendiri kehadiran anaknya kelak. Namun, bagaimana kelak kalau anak itu menanyakan siapa bapaknya? Akan dikatakan terus terang, cerita tentang lahirnya anak itu? Lalu, kalau orang-orang lain tahu juga cerita itu, tentu akan malulah anaknya. Teman-temannya akan mengejeknya sebagai anak jadah, anak tak berayah. Tidak, itu tidak akan dibiarkannya.

Atau, akan berbohongkah ia nanti dengan mengatakan ayahnya meninggal atau tipuan semacam itu lainnya? Namun, hanya berapa lama dusta itu akan bisa tahan? Dan, kalau sampai ketahuan apa nanti yang akan terjadi, anak itu akan berdendam terhadap ayahnya? Dan, akan membalaskan dendam itu dengan pembunuhan atau yang semacam itu?

Kecuali itu, akan sanggupkah ia kelak mendidik anaknya sendiri? Dan, dari mana akan didatangkan hidupnya?

Ia teringat bagaimana malangnya anak-anak yang tidak berbapak, ada yang karena merasa lain dari kawan-kawannya lalu memencilkan diri. Merasa kurang harga diri dan gampang merasa dihinakan. Ada yang harus hidup dalam lingkungan orang kerja keras. Lalu watak mereka jadi kaku, kasar, dan kejam. Ada yang terdampar pada hidup kemelaratan dan karena desakan kekurangan, pergi mencuri dan membungai hidup mereka dengan perkelahian-perkelahian atau perzina-zinaan.

Tidak, ia tak akan membiarkan hidup anaknya kelak begitu! Itu mengerikan sekali.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat, lalu menangis tersedu-sedu. Ia takut menghadapi hari depan bakal anaknya dan ketakutan itu adalah hak setiap manusia karena itu telah diberikan kepadanya sejak lahir.

Tiba-tiba sedunya mengendur, lalu pelan-pelan matanya terbuka. Tenang ia bangkit. Dengan air muka yang sangat tegang, diambilnya air di gelas dan ditelannya pil itu, yang akan menggugurkan kandungan yang tak diharapkan, sebagai segumpal darah kental.

Kemudian ia tengadah, mencari wajah Tuhannya. Ia tak berani minta ampun. Menatap saja ia dengan matanya yang basah. Tuhan tahu segalanya karena itu terserahlah semua kepada-Nya.

Majalah KISAH, Agustus 1955
W.S. Rendra

Buku: Pacar Seorang Seniman

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.765 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

<span>%d</span> blogger menyukai ini: