Iklan
Normantis Update

Mbah Kakung – Puisi Norman Adi Satria

Karya: Norman Adi Satria

Mbah Kakung - Puisi Norman Adi Satria - normantis.com

MBAH KAKUNG
Karya: Norman Adi Satria

Beberapa tahun sebelum beliau wafat
kegiatan rutin Mbah Kakung hanya membaca Alkitab
terbengong-bengong di halaman rumah
mengusiri lalat yang hinggap di korengnya
makan, tidur, meledeki cucu yang mondar-mandir di depannya
dan diomeli istri setiap kali kencing di celana.

Kata orang pintar
Mbah Kakung sedang tersiksa.
Seharusnya beliau berpulang lebih awal
namun beliau masih menyimpan jimat
yang konon membuat Malaikat
enggan tuk mendekat.

Beberapa orang langsung memikirkan
bagaimana cara agar beliau bisa lekas wafat.
Beberapa orang merenungi
barangkali masih ada yang harus beliau genapi.

“Biar saya yang bacakan Alkitabnya, Mbah.”
ucap cucu pertama suatu kali.
Sembari menggenggam kitab suci
sang cucu menutup mata, berdoa dalam hati
kemudian membiarkan kitab di telapak itu terbuka sendiri.

“Terkutuklah….”
bacanya di halaman kitab yang terbuka.
“Terkutuklah….”
ia tak melanjutkan pembacaannya.

Mbah membuka mata, “Kenapa, Cu?”
“Biar saya ulangi lagi, Mbah.” jawab cucunya.
Cucu mengulangi ritualnya lagi
dan kini terbukalah lembar lain dari kitab suci.

“Terkutuklah….”
kembali kata itu terbaca di ayat pertama.
“Mbah, saya kebetulan ada janji.
Mbah sepertinya harus membaca Alkitabnya sendiri..”
ucap cucu buru-buru pergi.

‘Di kitab suci setebal ribuan halaman itu
kata terkutuklah hanya berjumlah empat puluh tujuh
namun mengapa berulang kali yang muncul adalah kata itu?’
Gelisah hati sang cucu.
Tanpa ia tahu
Mbah Kakung memang sering membaca ayat-ayat kutukan itu
sehingga mudah saja lembarannya
terbuka dengan sendirinya.

Mbah Kakung tidak pilah pilih ayat saat membaca.
Tidak seperti kebanyakan orang yang hanya mau membaca ayat sukacita
bahkan membeli buku khusus
berisi kumpulan ayat Alkitab yang happy-happy saja.

Kutukan itu pengingat
bahwa Tuhan bisa murka
bahwa Tuhan memang Maha Baik
namun juga Maha Adil:
Ia hanya mengutuki yang tak terpuji.

Sebagai wajarnya manusia yang mengerti makna rendah hati
Mbah Kakung merasa dirinya teramat pantas dikutuki.

Dan orang pintar itu
nampaknya tak pintar-pintar amat
kerna sesungguhnya Mbah cukup bahagia
dalam tubuh yang tersiksa
dalam kemiskinpapaan di masa senjanya
dalam pikun yang membuat ia selalu lupa
sudahkah tadi ia berdoa.
Kerna dengan demikian
akan genaplah kabar sukacita
yang diucapkan Almasih di atas bukit
kepada manusia-manusia nelangsa:
“Berbahagialah….”

Bekasi, 19 Februari 2018
Norman Adi Satria

Iklan

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.860 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: