Iklan
Normantis Update

Esai Sujiwo Tejo: Mesin Cuci (Perempuan Itu Multitasking)

Esai Sujiwo Tejo

MESIN CUCI
Oleh: Sujiwo Tejo

Tabahlah seperti perempuan, saban hari memandikan anak, tapi tak pernah mereka menuntut adanya mesin cuci anak.

Saya serius.

Ini memang cuma penasaran. Tanpa riset atau apa. Tapi feeling saya selalu ingin mengatakan bahwa ketabahan perempuan jauh lebih kuno ketimbang Parhenon, kuil Yunani di Acropolis, Athena. Bahkan terasa lebih kuno ketimbang tepi Gunung Lawu di Wonogiri yang kini menjadi Bendungan Gajahmungkur.

Ada ketenangan dan kelapangan di sana. Lengang, namun kokoh. Persis ketabahan perempuan. Tapi bagi saya ketabahan perempuan jauh lebih sedia kala.

Tengok saja perempuan juga tetap tabah walau Hari Ibu dipersempit menjadi hari peran perempuan di sektor rumah tangga, “cuma” sebagai bini dan sebagai emak-emak. Apa mereka tak tahu bahwa Hari Ibu mestinya tak cuma bertema wanita di sektor domestik?

Jangan kecele.

Kaum hawa mestinya tahu kok bahwa Hari Ibu bercikal bakal dari Kongres Perempuan 22-25 Desember 1928 di Yogya yang diikuti 30-an organisasi perempuan. Di situ hampir tak dibicarakan soal dapur dan bagaimana menggendong bayi ke Posyandu. Tema paling dominannya malah sundul ke hal-ikhwal publik, bagaimana perempuan menjadi tiang dan pasak kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Toh kini mereka tenang-tenang saja.

Dalam dialog yang saya nguping di pijat refleksi bilik sebelah, seorang ibu-ibu sewot ketika tukang pijatnya melarangnya main air kalau pas di rumah.

“Eeee…saya tidak main air, ya. Saya nyuci. Anak-anak saya lima sudah besar semua. Tapi yang nyuci masih saya semuanyaaaa….”

Hmmm….

Saya tidak pernah tahu wajah perempuan itu seperti apa. Saya cuma bisa membayangkan betapa tabahnya perempuan itu. Sebagaimana kalau saya bayangkan legenda maupun mitos tentang para inang di banyak daerah.

Ada Liung Indung Bunga di Kalimantaan. Ada Tana Ekan dan Te’ze di Flores Timur dan Barat. Ada Sri Pohaci di Tatar Sunda. Ada Boru Deak Parujar di khazanah Batak. Dan lain-lain.

Semua, meski sebagian tak blakblakan, menandaskan peran induk yang tak sekadar lambang kesuburan. Dalam kosmologi lokal, para perempuan itu juga secara mistis mempunyai peran sentral kemasyarakatan sebagaimana di Jawa tak lengkap konsep Bopo Akoso (bapak angkasa) tanpa konsep Ibu Bumi.

Apakah saat ini perempuan sudah puas dengan tambahan kiprah mereka di kancah politik? Misalnya dengan tambahan kuota kaumnya di parlemen?

Belum tentu. Karena, andai saja mau, mereka pasti bisa menjadi Rajapatni alias Gayatri yang memimpin Majapahit. Bahkan jauh sebelum itu, menjadi Ratu Sima di Kerajaan Kalingga yang keadilan kepemimpinannya terdengar sampai Arab dan Dinasti Tang di China.

Dan, andai mau saja, di zaman yang segalaya serbaberlari ini semuanya bisa perempuan raih tanpa harus ditemukan lebih dahulu teknologi mesin cuci generasi “mesin cuci anak.”

Perempuan itu multitasking.

Sujiwo Tejo
Buku: Republik Jancukers

Iklan

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.788 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: