Normantis Update

Cerpen Cak Nun: Ijazah

Cerpen Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Tetapi sebenarnya aku tidak suka merasa kasihan pada orang lain seperti juga aku kurang suka dikasihani. Jika kepada Bambang ini aku setir, maka bukan karena penderitaan yang menimpanya, melainkan karena ketidakmampuannya mengatasi hal-hal yang merajahnya. Bapaknya sudah lama meninggal. Dan sejak ibunya sakit-sakitan dan kurang bisa sepenuhnya cari makan, Bambang kebingungan. Ia hanya penulis puisi dan tak satu keterampilan pekerjaan pun pernah ia latih atau ia libati. Ia mulai menempuh bentuk-bentuk tulisan lain, agar bisa mengharapkan pemasukan uang. Namun ia belum sepenuhnya siap dan lingkungan ekonomi perkoranan bukan tanah yang cukup subur, apalagi buat mengatasi keterpepetan keuangan. Bambang terseret-seret oleh kebutuhan dan tulisan-tulisannya makin ambyar karena tak cukup mampu memelihara keseimbangan proses berpikir. Lama-lama puisinya macet, kemudian artikelnya berisi pikiran-pikiran yang bermimpi terlalu tinggi.

Keadaan ini langsung terjadi juga dalam kesehariannya. Ia berkhayal bisa mendesain awan-awan di angkasa dan lupa resliting celananya terbuka. Ia mulai kehilangan kepercayaan diri, dan kondisi ketakyakinan inilah dasar segala Wujud tindakannya. Seorang kawannya bermaksud menolongnya: menulis dengan memakai nama Bambang Suprihatin, agar ia memperoleh kepercayaan diri kembali, sekaligus masyarakat memperhatikan namanya lagi. Tetapi sehabis Bambang berbangga oleh tulisan itu, ia kebingungan bagaimana mempertahankannya. Bambang akhirnya menempuh sebuah cara yang militeris bersama tulisan yang ia kirimkan ke redaksi koran, ia sertakan fotokopi ijazah-ijazah, SMP, SMA, ijazah mengetik, piagam penghargaan kursus jurnalistik dan lain sebagainya. Bahkan ke mana pun ia pergi, benda-benda itu selalu besertanya. Ia sibuk dan ketat menggenggam hasil masa silamnya. Ia begitu takut orang lain tak mempercayainya. Oleh salah seorang familinya, ia ditolong diberi pekerjaan sebagai korektor percetakan. Tentu saja ini lucu. Bambang hampir selalu luput memperhatikan soal-soal praktis yang kecil-kecil, tetapi ia dituntut untuk punya ketelitian. Ia bahkan selalu kehilangan kesadaran letak. Ia tidak saja sulit meletakkan pemikiran-pemikirannya di tengah pemikiran yang lain serta kenyataan, bahkan dalam pergaulan sehari-hari ia seperti berada di luar susunan dan jaringan.

Bambang adalah seorang makhluk dari alam lain, tetapi berada terseok-seok di alam ini, yang ternyata kejam. Ya, kejam. Dalam keadaannya itu lingkungan pergaulannya justru hanya mampu membuatnya semakin parah. Kawan-kawan hanya mampu mendukung kemiringannya, menertawakan dan mempermainkannya, atau setidaknya mengejeknya. Bambang makin jauh terlempar ke langit malam yang gelap dan lengang. Dan ia sendiri di sana. Yang aku sedihkan hanyalah ketidakmampuanku untuk lebih dari diam atau bengong saja menghadapinya.

”Aku mau kencing. . .,” katanya.

”Di sana,” kataku. Aku berdiri dan mengantarkannya. Bambang berjalan dengan sepatunya itu yang ribut menimpa-nimpa lantai. Tumpukan wasiatnya itu dikepitnya di ketiaknya.

”Aku tadi barusan ke rumah Hardi,” katanya sambil berjalan, ”ternyata nggak ada. Ia ditangkap polisi dan ditahan di Jakarta. Aku hanya bertemu istrinya. Aku beri ia sebuah puisi.”

Aku tidak menyahut. Tiga bulan sudah Hardi ditahan karena ikut-ikutan memelopori demonstrasi mahasiswa, tapi baru hari ini Bambang mengetahuinya. Aku tersenyum kecut kepada diriku sendiri. Aku kembali.

Tapi lama benar ia kencing. Aku hampir selesai membaca sebuah tulisan cukup panjang di sebuah majalah. Aku berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi. Ternyata tak dikancing dan dari jauh kulihat Bambang. Berdiri. Keningnya bersandar di tepi daun pintu, dialasi oleh satu tangan. Tangan satunya, sambil mengepit tumpukan wasiatnya, sedang memegang alat kencingnya. Dan ternyata alat itu sudah selesai mancur, Bambang rupanya sedang melamun.

Aku mendekatinya. Menyapanya perlahan-lahan.

Ia kaget dan cepat-cepat mengurus barangnya hingga tumpukan wasiatnya tak bisa dihindarkan lagi, terjatuh. Tergopoh-gopoh aku membantu mengambilnya dari lantai berair kamar mandi. Tidak terlalu kotor, tapi basah. Hari cukup mendung, maka kunyalakan saja lampu. Kupanggang kertas, majalah dan koran-koran itu di atasnya.

Ketika Bambang duduk kembali, sekilas aku menatapnya. Ia hampir tak punya keberanian lagi untuk bertatapan dengan sorot mata orang lain. Tapi aku sendiri sebenarnya takut bertatapan dengannya. Maksudku, kalau aku bertatapan dengan wajahnya, aku lantas merasa takut kepada diriku sendiri.

”Wah saya susah. . .” Bambang nyeletuk.

”Bagaimana caranya mencari anak putri.”

Aduh. Ini memang jelas merupakan tambahan soal yang besar baginya. Sebab pertama-tama yang harus dipelajari oleh laki-laki macam Bambang, kalau mau mendekati cewek, ialah bagaimana belajar cara memakai kaos kaki. Setelah itu pakai baju yang agak pantas. Lantas keterampilan sikap dan kata-kata. Beberapa tahun yang lewat Bambang kabarnya pernah jatuh cinta pada Nining, kawan penulis juga. Ia janji sama perempuan ini akan datang jam lima sore. Jam tiga Bambang sudah start. Di tengah jalan ia berhenti. Masuk toko, beli semir sepatu dan minyak rambut. Kemudian di bawah pohon beringin jalan Sultan Agung, ia berhenti untuk menyemir sepatunya, dan meminyaki rambutnya. Untuk menunggu jam lima, ia memilih tempat yang tenang, ialah kuburan. Berdebar-debar akhirnya ia mengetuk rumah Nining. Keluar pembantunya. ”Mbak Nining mengantari ibu ke Malioboro,” katanya. Maka Bambang langsung patah hati. Baginya sukar sekai meyakini bahwa Nining benar-benar belanja menemani ibunya. Di otaknya ada kenyataan, Nining sengaja menghindariku dengan alasan itu. Kemudian berbulan-bulan ia menikmati kepatahannya ini.

”Dari dulu aku selalu ingin mendekati anak putri,” katanya lagi. ”Tapi tidak tahu bagaimana caranya. Tapi paman saya di desa Gombong sana sudah menolong. Menghubungkan aku dengan seorang putri. Aku juga sudah kirim tulisan-tulisanku di koran dan majalah, juga piagam dan ijazah… sekarang saya sedang menunggu suratnya. Aku membolak-balik kertas di atas lampu. Tapi lama sekali baru bisa kering, dan yang sudah kering jadinya sangat kusut, lusuh dan tintanya berlepotan.

Emha Ainun Nadjib (Caknun)
Buku: BH – Kumpulan Cerpen Emha Ainun Nadjib

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.772 pengikut lainnya

2 Comments on Cerpen Cak Nun: Ijazah

  1. Ya, silakan Mas..

    Suka

  2. Izn mau share bang

    Disukai oleh 1 orang

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: