Normantis Update

6 Surat Chairil Anwar Kepada H.B. Jassin yang Paling Mencengangkan – Oleh: Norman Adi Satria

Esai Norman Adi Satria

Inilah surat Chairil Anwar kepada H.B. Jassin tertanggal 10 Maret 1944 yang berisi kegundahannya ketika menemukan fakta bahwa jatidirinya belum bisa dicurahkan sepenuhnya ke dalam karya. Bukan karena Chairil tidak mampu, namun “situasi yang masih situasu”.

SURAT IV

(Kartu pos, 10 Maret 1944)
d/a Yth. R.M. Djojosepoetro
Paron

Jassin,
      Begini keadaan jiwaku sekarang, untuk menulis sajak
keperwiraan seperti “Diponegoro” tidak lagi. Menurut
oom-ku, sajak itu pun tidak baik!
      Lagi pula dengan keritik yang agak tajam sedikit, hanya
beberapa sajak saja yang bisa melewati timbangan.
      Tapi tahu kau, apa yang kuketemui dalam meneropong
jiwa sendiri? Bahwa dari sajak-sajak bermula hingga
penghabisan belum ada garis nyata lagi yang bisa dipegang.
      Jassin! Aku mulai dengan 10-15 sajak-sajak yang
penghabisan di antara ada juga yang tidak bisa diterima
sebagai sajak!
      Kita ketemu lagi,

(tanda tangan Chairil Anwar)

Ya, sajak “Diponegoro” yang bersifat patriotisme, dengan sebaris kata yang akhirnya melegenda, “sekali berarti sudah itu mati”, tidak hanya berpotensi mengobarkan semangat kebangsaan, namun juga amat sangat berpotensi mengobarkan amarah Jepang. Sajak semacam itu tentu saja mampu mengundang mara bahaya, karena ditulis pada Februari 1943 di kala Jepang tengah jaya-jayanya berkuasa. Chairil tentu mendapat teguran (atau wejangan) dari oom-nya yang mengatakan bahwa sajak itu tidak baik. Tidak baik bukan dalam sudut pandang kesusastraan, namun tidak baik bagi keselamatan.

Dalam situasi semacam ini tantangan untuk berkata-kata sesuai pikiran dan perasaan jadi berlipat ganda. Chairil harus berkompromi dengan “hasrat”-nya. Kalau meminjam istilah Sapardi Djoko Damono, Chairil harus “bilang begini, maksudnya begitu”.

Chairil kembali memasuki permenungannya. Mengolah-alih pikir, bagaimana kata jangan membuatnya terjungkir. Lima hari setelah surat itu ditulisnya, yakni pada 15 Maret 1944, Chairil mengabadikan kepusingannya ke dalam sajak “Dalam Kereta”:

Dalam kereta.
Hujan menebal jendela

Semarang, Solo…, makin dekat saja
Menangkup senja.

Menguak purnama.
Caya menyayat mulut dan mata.
Menjengking kereta. Menjengking jiwa,

Sayatan terus ke dada.

Terdengar galau, gundah gulana. Tapi setidaknya ia berhasil menuliskan gejolak batin itu seolah-olah seperti sajak asmara alias cinta-cintaan — semacam telah ada seorang perempuan yang telah mematahkan hatinya. Sebuah sajak yang bisa saja membuat pembaca bertanya-tanya: hai Chairil, itukah puisi untuk tunanganmu Mirat yang pada 18 Januari 1944 kemarin kau bikinkan “Sajak Putih”? Kini ia menyayat-nyayat dadamu usai kau buatkan dunia sendiri?

Menguak purnama.
Caya menyayat mulut dan mata.

Terdengar mustahil bukan? Seterang apa purnama sehingga cahayanya menyanyat mulut dan mata? Asumsi saya, Chairil sebenarnya ingin bilang “Menguak Surya”, tapi pasti bakal ketahuan bahwa ia sedang menyindir Jepang yang tengah menjajah bangsanya.

Tapi sebelum sajak “Dalam Kereta” itu tercipta, empat hari sebelumnya, curhatan Chairil yang paling mengharukan ia tumpahkan di atas kartu pos bertanggal 11 Maret 1944.

Mari kita intip di halaman 5.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.769 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: