Normantis Update

6 Surat Chairil Anwar Kepada H.B. Jassin yang Paling Mencengangkan – Oleh: Norman Adi Satria

Esai Norman Adi Satria

Inilah surat Chairil Anwar kepada H.B. Jassin tentang kebulatan tekadnya untuk tak kembali pada gaya kreasi kesusastraannya yang lama (mungkin juga pola pikir dan sudut pandangnya dalam memandang segala hal).

SURAT III

(Kartu pos, 8 Maret 1944)
d/a R.M. Djojosepoetro
Paron

Jassin,
      Tidak Jassin aku tidak akan kembali ke prosa seperti dalam
pidato di depan “Angkatan Baru” dulu! Prosa seperti itu
sebenarnya membubung, mengawang tinggi saja, karena
keintensiteitan menulis serasa aku mendera jadinya, tetapi
tiliklah setelitinya sekali lagi, dengan prosa seperti itu aku
tidak sampai ke perhitungan (afrekening). Sedangkan
maksudnya aku akan bikin perhitungan habis-habisan
dengan begitu banyak di sekelilingku.
      Dan garis-garisku sudah kudapat, harga sebagai manusia
(menselijke waardigheid) dengan kepribadian. Lapangankku
bergerak sudah kutahu pula, sebenarnya di mana-mana saja,
tetapi jika dikususkan di lapangan kesusasteraan, seni rupa
dan sandiwaralah.
      Prosaku, puisiku juga, dalamnya tiap kata akan kugali-korek
sedalamnya, hingga ke kenwoord, ke kernbeeld.
(Sudah kumulai dengan sajak-sajak penghasilan, “Di Depan Kaca”,
“Fortissimo”, dll.)
Sampai sini,

(tanda tangan Chairil Anwar)

Tak disangkal, euforia, tren, atau sejenisnya sedikit banyak memengaruhi gaya kreasi pencipta karya seni (juga sastra), yang berimbas pada munculnya produk kesenian yang ciri-cirinya seragam meski berbeda cita rasa. Hal ini terbukti dari karya-karya para seniman yang mampu dikategorisasikan ke dalam jenjang-jenjang zaman (periodisasi) atau angkatan. Semisal gaya lukisan abad sekian mampu dibedakan dengan abad sebelumnya atau sesudahnya.

“Angkatan Baru” yang dimaksud Chairil tentulah Angkatan Pujangga Baru, sebuah angkatan sastra yang muncul pada 1933 di bawah pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane. Angkatan yang hadir untuk menggantikan Angkatan Balai Pustaka ini mendasarkan diri pada semangat kebangsaan dan pembentukan budaya dalam gaya romantik. Bukan tidak mungkin Chairil yang kutu buku itu pernah dipengaruhi/ terpengaruh oleh gaya kreasi Pujangga Baru. Chairil pernah romantik, mengutamakan estetik.

Entah permenungan macam apa yang membuatnya tersadar bahwa gaya semacam itu berseberangan dengan jatidirinya. Hingga di tahun 1944, melalui surat itu, Chairil bersumpah pada H.B. Jassin bahwa ia takkan kembali pada gaya “Pujangga Baru” yang dirasa tak lagi baru untuknya. Di samping itu, Chairil juga merasa telah menemukan harga sebagai manusia yakni kepribadian. Beberapa judul sajak ia sebutkan. Sajak-sajak yang menurutnya merupakan hasil dari awal penggali-korekan kata yang ia lakukan. Tak heran jika kemudian H.B. Jassin menyebutnya sebagai pelopor angkatan sastra baru: Angkatan 45.

Angkatan 45 bercorak lebih realis dibanding Pujangga Baru yang romantis dan idealis. Karya-karya sastra dalam angkatan ini bersifat ekspresif, revolusioner, dan nasionalis — tidak menghamba dan menjilat sebuah rezim penguasa seperti yang dilakukan beberapa sastrawan sebelumnya yang dijuluki “Cukong Jepang” di masa pendudukan Dai Nippon. Sastrawan angkatan ini juga dikenal sebagai sastrawan yang “tidak berteriak tetapi melaksanakan”. Sifat-sifat angkatan ini setidaknya mampu tergambarkan dalam barisan kata yang amat elegan dan berharga diri pada sajak “Persetujuan Dengan Bung Karno”:

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,
dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu

Dari mulai 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak &
berlabuh

Barisan sajak itu menunjukkan rakyat punya harga diri untuk bikin janji dengan pemimpinnya, bukan hanya nggeh-nggeh saja, dan mau melibatkan diri dalam perjuangan.

Entah sekarang kita harus disebut angkatan apa. Ada yang ingin menyumbang nama? Semacam Angkatan Galau, misalnya. Hmmm, tapi agak sulit memang menamai angkatan ini, karena di samping ada yang gundah-gulana melankolis, ada juga yang hujat-menghujat anarkis.

Kembali ke Chairil. Dalam surat selanjutnya yang bertanggal 10 Maret 1944, Chairil mencurahkan kegundahannya kepada H.B. Jassin lantaran menemui jalan buntu dalam pengaplikasian jatidirinya.

Mari kita simak di halaman 4.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.769 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: