Normantis Update

6 Surat Chairil Anwar Kepada H.B. Jassin yang Paling Mencengangkan – Oleh: Norman Adi Satria

Esai Norman Adi Satria

Inilah surat Chairil Anwar yang dikirimkan kepada H.B. Jassin melalui kartu pos tertanggal 8 Maret 1944 dengan alamat R.M Djojosepoetro, yaitu ayahanda Sumirat alias Mirat tunangan Chairil.

SURAT II

(Kartu pos, 8 Maret 1944)
d/a R.M. Djojosepoetro
Paron
Jawa Timur

Jassin,
      Dalam kalangan kita sipat setengah-setengah bersimaharajalela benar.
Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati.
Tapi hingga kini lahir aku hanya bisa mencampuri dunia kesenian
setengah-setengah pula. Tapi untunglah bathin seluruh hasrat dan
minatku sedari umur 15 tahun tertuju ke titik satu saja, kesenian.
      Dalam perjalanan ini kudengar sudah bisa berkirim uang Sumatra – Jawa.
Ini besar artinya bagiku, jiwaku tidak perlu kungkungan mengalami
kantor setiap hari-hari seperti kebanyakan di antara kita sekarang.
Sekian.

Ch. Anwar, dalam perjalanan
di Jawa Timur

Saat surat ini dituliskan, Chairil telah memasuki tahun kedua dalam masa ketenarannya sebagai penyair, yakni 2 tahun pasca puisi-puisinya terbit di majalah Nisan pada 1942. Meski telah mendulang popularitas, Chairil tak lantas membusungkan dada. Lagipula apa gunanya dada membusung jika diri merasa isinya masih setengah-setengah. Melalui surat ini Chairil mencurahkan kegelisaan atas yang setengah-setengah itu kepada Jassin. Kegalauan yang akhirnya ia jawab sendiri dengan sebuah optimisme pasca mengenang awal mula ia terjun ke dunia kesenian sejak usia 15 tahun dengan sepenuh jiwa.

Di dalam surat ini pula, Chairil ingin mengabarkan berita yang ia dengar bahwa kini telah bisa berkirim uang Sumatra – Jawa, yang katanya sangat berarti bagi kehidupannya. Entah siapa yang dalam hal ini bakal mengirimkan uang, apakah orangtuanya di Sumatra kepada Chairil atau sebaliknya. Mengingat gaya hidup Chairil yang melarat dan kerap menumpang makan di rumah Jassin, nampaknya orangtuanyalah yang mengirimkan uang padanya. Terlebih karena ayahnya, Toeloes, memiliki jabatan tinggi di daerah — yang tentu berarti lebih berduit daripada Chairil. Jabatan terakhir yang diemban ayah Chairil yakni Bupati Inderagiri, Riau.

Anak pejabat hidup melarat? Dalam hal ini cocoklah jika ia berkata: aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang. Kalau anak-anak pejabat zaman sekarang bagaimana ya?

Tapi apakah proses berkirim uang antara Toeloes dan Chairil pernah terlaksana atau tidak, tiada yang pernah mencatat. Karena faktanya, Chairil memang tidak terlalu akrab dengan sang ayah, terutama karena orangtuanya bercerai sejak ia kecil. Chairil dibawa oleh sang ibu ke Jakarta pasca perceraian itu dan tinggal menumpang pada kerabat ibunya, yakni tokoh nasional terkemuka Sutan Sjahrir.

Surat selanjutnya ditulis dan dikirimkan pada tanggal yang sama dengan surat kedua, yaitu tertanggal 8 Maret 1944 yang berisi keputusan Chairil untuk mengubah garis haluan kepenulisannya.

Mari kita menuju halaman 3.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.772 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: