Normantis Update

Cerpen Cak Nun: Seorang Gelandangan

Cerpen Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

”Tidak sahkah pada pikiranmu jika sesuatu yang ada berusaha memperoleh sesuatu umpamanya dari yang paling sederhana saja? Makanan minuman untuk tenggorokan dan perut. Pakaian buat membungkus badan. Kendaraan untuk tidak menyiksa kaki. Rumah buat berlindung dari matahari dan hujan. Sistem pendingin udara untuk menghindarkan kegerahan. Senjata-senjata untuk membela diri. Cara dan susunan kehidupan untuk mendisiplinkan pergaulan. Sekadar alat-alat ala kadarnya untuk memenuhi keinginan untuk nikmat dan senang. Tidak layakkah sesuatu berusaha memperoleh benda-benda atau gaya-gaya sekadar untuk memanfaatkan sedikit kesempatan berada dalam keberadaaan?”

Ia tetap kokoh dalam kediamannya.

“Baiklah, Barangkali aku telah salah sangka terhadap segala sesuatu yang kuraih. Barangkali aku terlalu cepat meyakini ketercapaian, kebahagiaan atau pertemuan. Katakanlah aku telah dijebak oleh apa yang kuciptakan sendiri dan apa yang kucari karena kusangka akan menjawab keinginan-keinginanku. Katakanlah bahwa kerinduan adalah Cakrawala. Katakanlah bahwa ia tidak bisa diselesaikan oleh seonggok benda atau hiburan-hiburan kecil yang menipu. Katakanlah bahwa masa silamku telah berpihak kepada sesuatu yang salah. Katakanlah. Tetapi katakanlah!”

Ia terus berjalan dan menatap ke satu titik di depan. Tidak menoleh dan tidak mendengarkan.

”Katakanlah bahwa jiwa dan badan sesungguhnya tak bisa dipersenyawakan, kecuali menyisihkan atau membunuh salah satunya!”

Ia setia pada keadaannya.

”Katakanlah bahwa masa silamku itu merupakan arena pertarungan antara keduanya!”

Ia tak bergerak dari sikapnya.

”Baiklah aku memang telah terlampau menyederhanakan konflik itu. Tetapi katakanlah bagaimana membisu darinya?”

Ia tegak dalam dirinya.

Aku telah kau pecah. Kau cecer-cecerkan. Rasa sakitku tak tertahankan. Sesungguhnya sejak lama aku memang ingin lenyap sama sekali. Tetapi tak kutahu bagaimana meniadakan diriku. Lebih tak kutahu lagi bagaimana meniadakan diriku dalam adaku ini, seperti kamu. Ucapkanlah sepatah kata saja. Sepatah saja!”

Ia terus berjalan. Teguh dan utuh.
”Sepatah saja!”
Ia total. Bulat dan tegar.
”Atau, tidak diperlukankah kata?”
Ia diam. Menatap tajam ke satu titik di depan.

EMHA AINUN NADJIB (CAK NUN)
Buku: BH – Kumpulan Cerpen Emha Ainun Nadjib

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: