Normantis Update

Cerpen Cak Nun: Seorang Gelandangan

Cerpen Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Tiba-tiba aku berlari. Ini mengherankan. Kaki berlari sedetik sebelum pikiranku meniatkannya. Siapa gerangan ia? Tetapi di dalam otakku ada yang mendadak menyergap pertanyaan itu. Kenapa pula ditanyakan ia siapa? Siapa pun ia. Apa pun ia. Aku tiba-tiba tidak bisa dan merasa tak perlu membedakan apa atau siapa. Kemudian mendadak pula aku merasa asing dengan sebutanku bahwa ia seorang gelandangan. Bahkan aku tidak melihat kebenaran kenapa aku menyebutnya seseorang. Maka gugurlah segala yang pernah kukenal sebagai sebutan bahasa yang berdasar pada ukuran sifat atau penglihatan.

Aku terbelah. Lebih dari terbelah. Tubuhku dipegang oleh dua tangan dan ditarik ke arah yang berlawanan. Aku sobek dan berdarah. Masa silamku di dada jiwaku seperti tancapan pisau tajam yang akhirnya bercampur, berscnyawa dan menjadi satu dengan pertumbuhan darah dagingku. Kini pisau itu dicabut amat keras dan mendadak. Jiwaku memekik. Dagingku berlubang dan darahku memuncrat. Aku arang keranjang. Sukmaku bermaksud hendak meloncat dan berpihak ke permukaan langit. Tapi tak bisa. Tanpa kuinginkan sendiri aku terus menggenggam sukma itu dan pun tanpa kukehendaki sendiri kakiku terus berjalan mengikuti si gila itu. Pang! Tiba-tiba sesuatu menamparku. Baik. Aku tahu salahku. Menyebutnya sebagai si gila. Si gila adalah sebutan yang berasal dari pengenalan suatu sifat yang kuperoleh dari pisau masa silam yang kini telah tercabut. Tapi aku ingin masa silam itu lenyap sama sekali. Aku tak kuat menahan sakit karena ia meminta separo nyawaku.

la tak peduli. Aku terus diseretnya. la berjalan dengan kebulatan. Iramanya pasti dan pandangannya teguh ke satu titik. Kakiku bergerak terus mengikutinya begitu. Sebenarnya kurasakan ada yang mendorongnya jauh dari dalam jiwaku. Tetapi pikiranku yang bajingan. Ia mencoel-coel dan memecah keutuhan yang dengan sendirinya terbangun itu. Betul-betul bajingan. Aku ingin bulat-bulat tenggelam dalam seretannya tanpa kesadaran pikiran apa pun, atau aku tidak mengalami seretan itu sama sekali. Terasa sukmaku makin terulur-ulur kedua arah. Kesakitan makin menekan.

”Mau kaukemanakan aku?” pikiranku muncul di mulutku.
Ia tak menjawab.
”Apa hakmu menyeret-nyeretku begini?”
Ia bisu.
”Apa salahku?”
Ia diam.
“Katakan niatmu terus terang. Kaumesti bertanggung jawab!”
Ia tetap dalam sikapnya.
”Baiklah Kalau jawabanmu adalah kebisuan, terangkan kepadaku apa makna kebisuanmu!”
Ia terus dalam kebulatannya.
”Kaumenghardik masa silamku?”
Ia tak berubah.
”Untuk apa bibirmu dipasang di mukamu itu jika tidak untuk melontarkan sesuatu dari pikiranmu.”
Ia teguh.
”Berfungsilah sebagai sesuatu yang ada!”
Ia total.
”Apa kaumenolak fungsi?”
Ia suntuk.
”Tidakkah wajar menurutmu jika sesuatu ada untuk menginginkan sesuatu serta berguna bagi ada lainnya?”
Ia tak menunjukkan isyarat yang lain.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: