Iklan
Normantis Update

Cerpen Cak Nun: Seorang Gelandangan

Cerpen Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

SEORANG GELANDANGAN
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

PADA suatu siang yang amat panas aku melihat seorang gelandangan. Tubuhnya nampak jelas tak pernah mandi atau dicuci. Pakaiannya kumal dan juga jelas tak pernah ganti. Tetapi yang menarik ialah jalannya yang tegak berderap ke depan dan air mukanya yang lurus mengarah ke satu titik. Wajahnya yang berkeringat dengan kilatan yang aneh. Rambutnya tak terurus dan dibiarkannya dikibar-kibarkan angin. Matanya berbinar-binar dan pandangannya demikian utuh sehingga menumbuhkan keasingan apabila kita lantas membayangkan mata seorang gelandangan seperti yang pernah dikenal oleh kesan-kesan kita.

Jalan dan gerak ke depannya begitu teguh sehingga aku tidak merasakan ia sedang berjalan di atas tanah ini serta bahwa ia sedang berada di antara rumah-rumah manusia, di antara pepohonan, angin, kawat-kawat listrik, suara-suara kendaraan, kegaduhan di sepanjang jalan, bahkan di antara segala isi bumi ini dan langit. Kehadiran gelandangan itu dengan sosok dan iramanya sedemikian bulat sampai aku tidak percaya bahwa sesungguhnya ia berada di alam ini, dan akhirnya aku sendiri merasa khawatir terhadap keberadaanku sendiri. Tiba-tiba aku menoleh ke sekeliling untuk meyakinkan kehadiran dan lingkunganku. Kemudian kutatap tubuhku sendiri dan sungguh mati aku sukar mempercayai bahwa dia inilah aku yang kukenali selama ini, bahkan yang telah berpuluh tahun kupasrahi untuk meletakkan dan menjamin kedirianku. Akhirnya aku tak sempat meniti kembali kepercayaanku yang menggoyah ini sebab tanpa kurasakan ternyata kakiku telah demikian jauh mengikuti jalannya gelandangan itu.

Ini suatu keasingan yang menekan hatiku dan menyakitkan dadaku. Terang ini hal yang baru. Aku bagaikan lahir kembali menjadi sesuatu yang belum bisa kupahami, tetapi sementara itu aku merasa makin cemas pada masa laluku. Kurang ajar betul gelandangan itu. Ia sungguh tak pernah ada sangkut pautnya denganku. Tetapi ia kini mempecundangiku. Jalannya yang bulat dan serba tak peduli itu jelas menyindirku. Langsung atau tak langsung. Sengaja atau tidak sengaja.

Aku mengejarnya lebih cepat. Tetapi apakah aku sedang mengejarnya atau justru ia yang menarik kakiku untuk berjalan ke arah yang sama dengannya? Aku tertegun sejenak. Tapi hanya pikiranku. Sedang kakiku seperti diseretnya sesuai dengan irama jalannya.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Iklan

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.079 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: