Normantis Update

Cerpen Cak Nun: Lingkaran Dinding

Cerpen Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Dalam dinding penjara semacam itu dulu aku pernah menangis. Di bagian proses yang lain aku merajuk. Pernah juga aku marah-marah dan berteriak-teriak mengumpati Tuhan. Kubilang apa maunya Dia memberikan genggaman demi genggaman pepat tanpa pernah kumengerti dan hampir tanpa henti. Kubilang mau berapa lama lagi Tuhan ingin bermain-main dan menindih-nindihku. Kubilang berapa ton beban lagi yang hendak Ia timpakan di atas keterbatasan kekuatan makhluk macam aku. Tetapi seperti juga kaumengetahuinya, tidak satu jumput huruf pun Tuhan bersedia menjawab. Jadi sekarang aku lebih mengenal lagi ia. Jadi tidak akan pernah berdoa. Doa hanya terludahkan oleh mulut manusia-manusia konyol yang manja dan mau enaknya sendiri. Sejak semula Tuhan memang bermaksud melepaskan anak demi anak panah ke seluruh bagian tubuh dan jiwa kita. Kenapa kita mesti memohon agar anak panah itu disimpan saja di pinggang Tuhan. Itu tindakan betina. Barang siapa tidak betina pasti selalu menyediakan kesadaran dan kesiapsiagaan bahwa anak panah itu sewaktu-waktu memang diluncurkan ke arahnya dan bahwa ia harus bekerja membereskannya. Segala yang kaurasakan sebagai kenikmatan atau kesengsaraan, tak lain ialah anak-anak panah. Kita jangan sampai tertipu oleh beda-beda rasanya. Nah, ini dia anak panah itu.

Kegelapan terasa begini kukuh, menghimpit dan membungkusku. Dinding yang tebal dan tegar, membatasi seluruh ruangku, menghunjam jauh ke dasar bumi dan menjulang tinggi jauh ke batas yang hanya mampu kupandang. Aku berkeringat. Luar dan dalam. Panas dan dingin bergantian muncul menelusup dan menggenggamku dengan tekanan yang sama beratnya. Aku berdiri tegak. Seluruh tubuhku basah kuyup dan sekaligus terik kerontang. Mulutku terkatup. Gigiku gemeretak. Rasa gerah dan menggigil tak kutahu lagi silih bergantinya. jauh di atas sana cahaya melintas. Satu-satunya yang bisa kupandang selain kegelapan ini sendiri. Semua yang pernah kukenal melintas-lintas dalam cahaya itu. Kawan-kawanku. Tetangga-tetangga. Bahkan istri dan seluruh keluargaku sendiri. Bayangan keriangan hidup mereka. Suara-suara kebahagiaan mereka. wajah keceriaan mereka. Ketenteraman dan rasa aman hidup mereka. Kemerdekaan mereka. Tetapi segera kutanamkan kepercayaan, meskipun dengan amat susah payah, bahwa itu semua hanya bayangan yang mampu dihasilkan oleh pandanganku. Aku tidak percaya jiwa mereka tak dikungkung oleh lingkaran dinding uga macam aku. Aku yakin dalam setiap jiwa yang kelihatannya bebas dan di balik setiap tawa ceria kehidupan, berdiri dinding yang berlapis-lapis dan mencegat. Sebab akan lihat dalam lintasan cahaya itu aku sendiri terbahak-bahak dan berlari-lari dengan ringan tanpa beban. Sepanjang pertemuan dan pengenalanku atas dinding semacam ini, aku akhirnya tahu bahwa salah satu yang kita mimpi-mimpikan dalam keberadaan adalah jika kita berhasil menjadi orang lain. Menjadi orang lain yang membayangkan ketenteraman dan cahaya yang melintas-lintas. Setiap orang tidak perlu belajar apa pun untuk mampu bermimpi semacam itu, tetapi kekeliruan terbesar yang banyak dilakukan ialah sangkaan bahwa isi mimpi itu sungguh-sungguh terjadi pada tokoh-tokoh yang muncul, yakni setiap orang lain. Kekeliruan itu terjadi karena sangkaan itu mendorong untuk memperoleh keadaan yang sama dengan meminta dari luar dirinya. Dan aku tak akan melakukan hal itu. Aku tidak akan mencari, meminta atau mengemis kepada siapa pun selain menciptakannya sendiri dalam jiwa. Aku tidak akan mengemis kepada orangtua, kawan karib, istri, lingkungan-lingkungan, hiburan-hiburan ataupun Tuhan. Tuhan tidak mengisyaratkan keberadaan-Nya buat melayani pengemis-pengemis. Ia hadir untuk memasang busur dan meluncurkan anak-anak panah kemudian melihat apakah yang terkena akan memancarkan dendam dari matanya, atau menatap sambil meminta keenakan. Atau menengadahkan wajahnya tajam-tajam ke mata-Nya. Tangannya bergerak memegang anak panah yang menancap di pusat dadanya. Mencabutnya perlahan-lahan, memandang darah yang mengalir dan tubuh yang luka tanpa mengaduh.

Lihatlah anak panah ini. Meluncur dan perutku sobek. Kegelapan dan dinding ini lebih dahsyat menunjukkan keberadaannya padaku. Baiklah. Baiklah.

Tiba-tiba tanah yang kupijak mengguncang-guncangku. Hampir aku terjatuh. Tapi aku bertahan.

“Kautidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini!” kaget aku. Tanah ini membentakku. Aku memandangnya.

”Kaulancang Kaupencuri. Kaumengambilnya sedang ia tetap menjadi hak yang bukan kau!”

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.754 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: