Iklan
Normantis Update

Cerpen Cak Nun: Lingkaran Dinding

Cerpen Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Lingkaran Dinding - Cerpen Cak Nun

LINGKARAN DINDING
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

LEWAT saluran mana dan dengan kejelasan proses yang bagaimana, tak kutahu, tapi sekarang ini aku sampai di sini. Lingkaran dinding yang gelap. Tak sebuah pintu atau sebuah lubang pun kujumpai di arah segala arah. Aku dibungkus kegelapan yang hampir mutlak yang melenyapkan fungsi mataku. Dinding itu hanya kubayangkan ada, sebab ia sama hitamnya dengan ruang yang dilingkupinya. Sesaat aku merasa terjebak dan terasa ada tangan keras yang mencengkeram isi dadaku. Napasku tersekat. Diriku sendiri hanya mampu kubayangkan dan tak mungkin kupandang. Sesaat kemudian aku merasa ditekan oleh dinding raksasa yang lain yang bagaikan hendak menenggelamkanku tembus ke dalam bumi. Aku menahankan tubuhku dan mencoba menoleh ke atas. Ternyata jauh di atas sana, kulihat cahaya melintas entah dari arah mana dan ke arah mana.

Cahaya itu amat menggiurkanku. Amat merangsang keinginanku untuk mencapainya. Tetapi demi Tuhan aku tidak akan pernah berdoa kepada-Nya agar aku diberi-Nya kemampuan untuk mencapai cahaya itu. Seperti juga aku tidak menyesal atau kaget lebih lama berada di dalam kegelapan ini. Silakan. Silakan. Bawa dan seret aku ke mana pun sekehendakmu. Lemparkan aku ke pusat gelombang laut yang dahsyat. Dorong aku ke bawah agar aku digulung-gulung, dilumat dan dihancurkan. Campakkan aku ke

tengah hutan yang pepat dengan lilitan-lilitan tumbuhan beracun, agar darahku diisap tanpa sedikit pun bergerak atau mengaduh. Bantinglah tubuh lunglaiku ke pohon raksasa-raksasa di hutan itu. Kemudian lemparkan ke atas melayang-layang diterbangkan angin tanpa harga. Atau masukkan aku ke arus sungai yang kotor dan kumal dan bau. Masukkan kotoran-kotoran itu ke mulut dan hidungku bahkan segala lubang tubuhku. Silakan sesukamu. Lakukan segala yang Kau kehendaki atas segala sesuatu yang memang berada di genggaman kekuasaan-Mu. Sekarang pepatkanlah sesuka-Mu kegelapan ini. Remaslah aku dengannya. Aku tidak akan menolak apa pun. Aku tidak akan mengeluh karena apa pun. Dan aku tidak akan sudah kalah oleh apa pun.

Cuma maafkan kalau berdiam diri sejenak. Aku mengenang bapak-ibu, saudara-saudaraku dan sahabat-sahabatku, yang terdekat, tetapi yang berada jauh di luar dinding ini. Aku toh tetap tersenyum pada mereka, berkata-kata dan tertawa-tawa dengan mereka. Sampai kapan pun akan kupelihara itu semua, sebab sekali-kali tak akan kuseret seorang pun untuk ikut masuk menemaniku di dalam kurungan dinding gelap ini. Lingkaran ini adalah dunia yang melingkupiku, tetapi tak mustahil ia hanyalah bagian kecil saja dari semesta diriku. Kenapa tidak. Silakan segala gunung yang ada di bumi ini meletus dan segala laut serta lautan melumbarkan banjir airnya. Tetapi aku tidak akan hancur. Aku akan hanyut atau tenggelam olehnya. Aku berdiri tegak di atas segala keadaan apa pun yang bisa dan mungkin terjadi. Tidak ada apa-apa di dunia ini. Tidak ada soal yang bisa menyerimpung ketegakan itu. Tidak ada apa-apa dalam hidup ini yang bisa kaupilah-pilahkan, untuk kaubenci atau kaucintai. Tidak ada baik atau buruk. Tidak ada senang atau sedih. Tidak ada nasib sial atau nasib untung. Tidak ada kodrat buruk dan kodrat rahmat. Tidak ada malapetaka atau rezeki. Kenapa tidak. Aku merasakan hidup ini sebulat-bulatnya tanpa membagi ruang, jaringan-jaringan atau pemotongan-pemotongan waktu. Segalanya merupakan kesatuan, kebulatan dan keutuhan yang kaubisa telan tanpa merasakannya manis atau pahit.

Apakah kaumenyangka aku sedang menghibur diri, atau menimbun-nimbun kekuatan agar tetap mampu bertahan terhadap keadaan yang kauanggap menyiksa hidupku. Apakah kaumelihat aku sebagai kenihilan, kenaifan dan sikap fatal. Apakah kaumembaca aku sedang mendongakkan leherku dan memasrahkannya untuk dipenggal kemudian tubuhku dicincang-cincang. Ingatkah kauwaktu mendadak kutampar mukamu sedetik setelah kausebut aku sebagai pemasrah yang fatal. Sebenarnya kautak salah. Cuma kurang maju sejengkal. Aku memang pasrah. Tetapi kepasrahanku hanyalah kepada sesuatu yang harus ditegakkan. Kepada keharusan. Kepada keniscayaan. Kepada immanensi. Besok pagi tidak mustahil akan kubakar gedung tinggi yang amat menyinggung perasaan itu, dan itulah gerangan rasa pasrahku. Kaumemukul daguku, dan kupukul balas dagumu, maka itulah bentuk kepasrahanku. Demikian pula aku pun pasrah kepada kegelapan ini. Kepada lingkaran dinding ini. Tetapi kepasrahanku tidak pernah berhenti. Kepasrahanku adalah bukti yang dinamik, setia dan terus-menerus, tanpa boleh sepenggal pun berhenti. Jadi silakan segala lapisan dinding memenjarankanku. Aku tak akan mengelakkan. Aku pasrah dengan cara menggempurnya sehingga aku tidak akan tanggal dari diriku sendiri.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)
Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.156 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: