Iklan
Normantis Update

Esai Sujiwo Tejo: Senyum Tak Bersubsidi ….

Esai Sujiwo Tejo

ltulah kenangan yang membikin Kresna sedih. Senjata kondang dan pemungkas bernama Kunta akhirnya jatuh ke tangan yang salah. Meski begitu, Kresna tetap murah senyum. Jauh berbeda dibandingkan keadaan Kresna sepulang dari kunjungannya ke lndonesia yang nyaris bareng dengan kunjungan aktor Pretty Woman, Richard Gere, ke Borobudur.

Ponokawan Gareng memastikan, gara-gara utama orang susah senyum itu satu: keadaan Nusantara sudah ruwet. Bukan saja Kresna yang tidak bisa tersenyum sepulang dari Khatulistiwa. Sengkuni yang sebelumnya murah senyum seperti Kresna pun kini tak mampu tersenyum lagi.

Mahapatih Kerajaan Astina itu mengunjungi Jakarta dalam rangka kerja sama peternakan bekicot bersubsidi. Kerja sama serupa, soal bekicot bersubsidi, pernah Sengkuni galang dengan berbagai negara, seperti Kerajaan Chedi dan Trajutrisno. Sepulang dari negeri yang masing-masing dipimpin oleh Prabu Sisupala dan Prabu Boma Narakasura itu, Sengkuni masih bisa mesem.

Padahal, di Chedi birokratnya nyebelin. Di Trajutrisno para pengusaha bekicotnya nggapleki (menyebalkan – Red.).

Sudah separah itukah Nusantara kalau Chedi dan Trajutrisno yang parah saja masih sanggup membuat Sengkuni tersenyum? tanya Gareng di dalam hatinya. Sejak renungan itu, Gareng tak bisa tersenyum.

Lalu, Gareng terkejut. Datang anak Bagong yang bertanya, “Senyummu itu manual atau automatic?”

Esok paginya anak Bagong itu kembali datang ke Gareng. Dia masih nanya soal senyum. “Di negara Pancasila ini sebaiknya hidup saling menolong atau saling tersenyum?” tanya anak berpostur tambun itu.

“Di negeri Pancasila ini, sebaiknya kita saling melirik saja,” jawab Gareng asal, tanpa guratan senyum sama sekali.

Ternyata, besar sekali dampak tak tersenyumnya orang-orang yang semula murah senyum. Hampir seluruh warga kini tidak tersenyum. Dan, hampir seluruh warga kini mengalami ketegangan otot wajah. “Karena sebetulnya senyum adalah senam gratis buat otot-otot wajah,” kata Dewi Undanawati, istri Petruk yang sudah lama ikut senam wajah.

Padahal, dulu orang-orang seperti Sengkuni bisa tersenyum dalam keadaan apa pun. Ketika akal bulus Kurawa dalam pembakaran perkemahan Pandawa ketahuan, Sengkuni yang seharusnya tegang masih bisa mesem. Bahkan, dalam lakon “Bale Sigala-Gala” itu, Sengkuni masih bisa senyum sambil membesar besarkan rakyat Kurawa bahwa suatu saat usahanya menumpas Pandawa akan berhasil.

Ketika kakak perempuan Sengkuni alias Haryo Suman, yaitu Dewi Gendari, hendak dijodohkan dengan Destarastra yang tunanetra, Haryo Suman kaget dan sedih bukan kepalang. Namun, saat itu pun Haryo Suman alias Trigantal Pati dari Plosojenar masih bisa tersenyum.

Masih banyak cerita lain yang keadaannya begitu parah, tapi masih tak membuat Sengkuni kehilangan senyum. sedemikian parahkah keadaan sekarang sehingga semua orang, termasuk Sengkuni dan Kresna, menjadi manusia tanpa senyum?

Haruskah senyum itu disubsidi sehingga untuk tersenyum saja orang harus dibayangi oleh uang rakyat dan haram atau halalkah senyum yang seperti itu?

Belum sempat pertanyaan itu terjawab, anak Bagong telah muncul lagi dengan pertanyaannya. “Senyummu lebih banyak mendahului atau didahului senyum orang?” tanyanya.

Mungkin pertanyaan itu juga diajukan kepadamu…..

SUJIWO TEJO
Buku: Lupa Endonesa

Iklan

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 5.019 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: