Iklan
Normantis Update

Esai Sujiwo Tejo: Senyum Tak Bersubsidi ….

Esai Sujiwo Tejo

Senyum Tak Bersubsidi - Esai Sujiwo Tejo

SENYUM TAK BERSUBSIDI ….
Oleh: Sujiwo Tejo

“Apakah hari ini kamu sudah tersenyum?” anak Bagong nanya pakdenya, Petruk. Petruk sendiri sudah lupa kapan, ya, terakhir dirinya mesem. Dia hanya bisa dengan datar mantengi (menatap dengan penuh perhatian – Red.) keponakannya itu lama-lama sampai akhirnya hilang dari matanya. Si anak kabur entah ke mana.

Kini ponokawan itu jadi kepikiran. Kapan, ya, dia mengembuskan senyum terakhirnya? Jan-jane (sebenarnya – Red.) dia bakal nanya Prabu Kresna. inilah raja yang tahu banyak tentang hal-hal yang masih akan terjadi, weruh sakdurunge winarah, apalagi “hil-hil” yang sudah terjadi.

“Petruk, kok, malam-malam begini kamu mau menghadap junjunganku. Ada apa?” tanya Setyaki, tangan kanan Kresna. Dia mencegat Petruk di gerbang keraton.

Wajah Setyaki serius. Yang artinya: setelah Petruk dengan wajah sama seriusnya mengutarakan maksudnya datang tengah malam, Setyakipun tetap tidak tersenyum.

Jelas-jelas bahwa maksud kedatangan Petruk ndak masuk nalar. Cuma mau tanya: kapan terakhir dirinya cengar-cengir? Mengapa dengar pertanyaan yang sama ndak pentingnya dengan lembaga-lembaga satgas itu Setyaki tidak tersenyum?

Untung, Petruk tak jadi menghadap Prabu Sri Kresna. Niisal jadi pun, Kantong Bolong itu pasti kecewa. Mungkin titisan Wisnu ini akan memberi tahu kapan senyum terakhir Kantong Bolong. Tapi, apalah enaknya diberi tahu tentang apa pun kalau disampaikan dengan wajah yang merengut?

Sudah cukup lama Kresna tidak tersenyum. Mungkin sejak kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu. Sejak bertemu dengan banyak orang Khatulistiwa dari dusun sampai kota, Kresna selalu bermuram durja. Biasanya, seberapa parah suatu kawasan baru dikunjunginya, Kresna tetap sumeh (Murah Senyum – Red.).

Pernah, kan, dulu sehabis nyambangi kelahiran Gatutkaca. Waktu itu, tak ada pusaka yang mampu memotong tali pusat jabang bayi. Akhirnya, pamannya, Arjuna, harus tunggang langgang ke Astina, meminjam senjata Kunta kepada Karna. Kakak kandung itu mengizinkannya.

Kresna waktu itu senang. Akhirnya, sang adik ipar bisa memotong tali pusat Gatutkaca. Tapi, Kresna tetap sedih. Mestinya senjata Kunta itu tak perlu dipinjam oleh adik iparku dari Karna, pikir Kresna. Lha, wong, Kunta itu sebenarnya memang milik si adik iparku, ya, Arjuna itu …

Kresna mengenang kejadian penerimaan anugerah senjata Kunta. Pas ketika Sekjen para dewa, Narada, membawa anugerah Kunta kepada Arjuna, Dewa Surya bikin ulah. Ayah Karna itu menyorotkan cahayanya ke wajah Narada. Sekjen Dewa ini silau. Matanya keriyepan (terpicing-picing – Red.). Karna, yang memang mirip Arjuna sesama putra kandung Dewi Kunti, disangka oleh Narada sebagai Arjuna. Maka langsung saja Narada menyerahkan Kunta kepada Karna yang disangkanya Arjuna.

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.157 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: