Normantis Update

Esai Sapardi Djoko Damono: Tentang Kegairahan Menulis dan Mutu Tulisan Kita Dewasa Ini

Esai Sapardi Djoko Damono

/4/

Yang jelas bagi saya adalah bahwa kegairahan menulis bersumber pada si sastrawan. Kegairahan ini bermula pada buku dan berakhir pada buku, bermula pada puisi dan berakhir pada puisi. Kegairahan menulis lahir dari tradisi menulis, dan oleh karena itu sastrawan membutuhkan buku-buku untuk bisa mengembangkan kegairahan menciptakan buku. Kebutuhan untuk belajar ini hanya bisa terlepaskan kalau tersedia buku-buku yang baik, yang biasanya adalah tulisan para master.

Kita maklum bahwa penerbitan-penerbitan yang selama ini menjadi tempat kita membonceng tidak bisa menyediakan kebutuhan di atas. Dalam perkembangannya, koran dan majalah berita akan bertambah sibuk berpikir tentang cara memajukan nilai pemberitaan mereka, suatu hal yang sama sekali lain dengan kesusastraan. Mereka akan .tidak sempat lagi dengan cermat menimbang cerpen-cerpen yang bertumpuk di laci dan menganggap bahwa “barang ganjil” itu sebaiknya disingkirkan saja. Barangkali akan ada lembaran terpisah khusus untuk kesusastraan, tetapi mangan ini pun terbatas pada pembicaraan dan berita tentang buku dan penulis. Mungkin masih akan selalu ada majalah seperti almarhum Mimbar Indonesia dan Siasat, yang menyediakan beberapa halaman untuk kebudayaan dalam arti yang agak luas, tetapi jelas bahwa kebutuhan kita belum terpenuhi dengan itu saja. Majalah kebudayaan Basis hanya menyediakan satu atau dua halaman untuk puisi, halaman-halaman lain untuk masalah-masalah kebudayaan umum; Budaya Jaya menyediakan lebih banyak halaman untuk tulisan-tulisan imajinatif, dan kalau saya tidak keliru hanya Horison yang hampir seluruh halamannya tersedia untuk sastra dan tulisan tentang sastra.

Pertanyaan pertama, ‘apakah tulisan-tulisan yang diterbitkan dalam majalah-majalah tersebut di atas sudah menunjukkan adanya kegairahan menulis? Pararedaksi majalah-majalah itu sering terdengar mengeluh tentang kurangnya, kalau tidak dari segi jumlah dari segi mutu, tulisan yang masuk. Pertanyaan kedua – dan yang saya anggap lebih penting, apakah kebutuhan kita akan bacaan, untuk belajar, sudah bisa mereka penuhi? Baiklah kita perhitungkan juga penerbitan yang berupa buku, dan kita sodorkan pertanyaan kedua itu. Jawaban yang saya usulkan adalah: yang kita butuhkan lebih dari itu. Apalagi kalau kita tambahkan kenyataan tidak beredarnya lagi beberapa buku sehingga kita berhak menyangsikan pertemuan antara sastrawan-sastrawan yang masih muda dengan novel-novel Pramoedya dan buku-buku sajak Sitor, misalnya.

Perkembangan teknik cetak-mencetak pesat sekali, demikian juga ilmu pemasaran buku. Jadi, cara menerbitkan buku sudah kita ketahui: tetapi untuk tujuan apa buku itu diterbitkan? Kalau jawabannya ada hubungannya dengan perkembangan kesusastraan, kita pun membicarakan buku sastra. Kita kemudian boleh bertanya tentang ada atau tidaknya naskah dan, lebih jauh lagi, siap atau tidaknya para sastrawan mengimbangi kecepatan kerja mesin cetak modern. Barangkali percetakan mampu menghasilkan selusin judul buku dalam waktu satu bulan, tetapi kita pasti merasa geli kalau seandainya kumpulan sajak “Colibrita” dilempar ke pasar sebagai buku sastra.

Nah, justru agar supaya para sastrawan siap untuk melayani penerbit maka dibutuhkan bahan-bahan untuk belajar, yakni buku-buku yang bermutu. Menulis dan menulis saja hanya akan mengosongkan diri kita, kalau sama sekali tidak ada kesempatan membaca. Kita bisa membaca tulisan teman-teman dekat, tetapi saya yakin kita perlu membaca karya-karya penulis dunia, sebab saya berpendapat bahwa kita semua sedang belajar. Banyak di antara kita ini yang betul-betul berbakat, tetapi apakah artinya sekadar bakat di zaman yang penuh dengan bakat ini, kalau kita tidak belajar dengan cermat? Kita hanya akan mengulang-ulang kesalahan yang telah diperbuat sastrawan-sastrawan sebelum kita.

Sastrawan yang seangkatan dengan saya telah menerima pengajaran bahasa yang tidak menguntungkan, baik bahasa daerah, bahasa Indonesia, maupun bahasa asing. Ada yang kemudian berkesempatan untuk mengembangkan kemampuan menguasai bahasa asing, ada juga yang tidak. Atas dasar kenyataan yang sederhana ini saya menganggap sangat penting dikerjakannya terjemahan sebanyak-banyaknya — dari bahasa-bahasa daerah yang telah menghasilkan sastra maupun bahasa-bahasa asing. Barangkali perlu diterbitkan lagi sebuah atau dua buah majalah sastra untuk memenuhi kebutuhan belajar kita, barangkali cukup kita kembangkan saja majalah yang sekarang sudah ada, supaya kepercayaan kita terhadapnya semakin tinggi, supaya tentangnya kita tidak perlu berkata, “Kenapa yang dimuat yang begitu-begitu saja, malah semakin merosot?” Yang jelas, kita membutuhkan penerbit, yang di samping bernafsu baik menerbitkan naskah asli, yang benninat mencetak terjemahan-terjemahan.

Sapardi Djoko Damono

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.767 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: