Normantis Update

Esai Sapardi Djoko Damono: Tentang Kegairahan Menulis dan Mutu Tulisan Kita Dewasa Ini

Esai Sapardi Djoko Damono

/3/

Jadi, adakah kegairahan menulis dewasa ini? Banyaknya jumlah koran, mingguan dan bulanan yang memuat karya sastra akhir-akhir ini memaksa kita untuk menjawab “ada”. Bahkan ada penerbit yang mulai mencetak novel, buku-buku kumpulan esei dan puisi. Hal itu tentu saja lebih memberikan tekanan pada jawaban kita di atas, tanpa mempedulikan kapan tulisan-tulisan itu dikerjakan.

Koran dan sebagainya bisa mendorong kita untuk menulis. Dan memang ada bermacam-macam alasan yang bisa menggoda untuk menghasilkan tulisan, yang disebut di atas adalah salah satu saja. Kalau salah satu ini menjadi satu-satunya, tegasnya, kalau uang merupakan satu-satunya alasan untuk menulis sebanyak-banyaknya maka halnya menjadi lain. Kita tidak bisa mengatakan bahwa seseorang bergairah menulis karena terpaksa menulis karena butuh uang. Demikianlah maka banyaknya tulisan tidak selalu tepat untuk mengukur ada atau tidaknya kegairahan menulis. Saya kutip sebagian kalimat Ajip Rosidi yang ditulisnya pada tahun 1958, “… sesungguhnya faktor-faktor yang mendorong sastrawan menulis adalah faktor-faktor irrasional yang subyektif.” Ia berbicara tentang tulisan imajinatif, dan saya kira saya menyetujuinya.

Tentu saja ada kecualinya. Contoh yang melintas di kepala saja adalah Honoré de Balzac dan Oliver Goldsmith dan Toha Mohtar yang kata orang menulis buku-buku bagus karena terdesak oleh kebutuhan akan uang. Sebaiknya kita kecualikan saja mereka sebab barangkali mereka jenius, barangkali karena adanya faktor kebetulan saja. Kita berbicara tentang diri kita sendiri yang mungkin dengan rendah hati merasa malu kalau dikatakan memiliki “bakat besar”.

Pendapat saya adalah bahwa terlampau sering terpaksa menulis cenderung untuk menumpulkan pikiran dan perasaan. Saya berbicara tentang tulisan imajinatif, yang hanya bisa lahir dengan waj ar kalau ada waktu luang tambah kegairahan tambah bakat. Tidak pernah ada ukuran yang pasti bagi ketiga hal yang tersebut terakhir itu, dan ketiganya pun tidak bisa dikendalikan dari luar. Sangat sulit dibayangkan adegan yang menggambarkan sang penerbit menyerahkan sejumlah uang kepada seorang penyair sambil berkata, “Saudara kami beri waktu satu tahun untuk menulis kumpulan sajak yang akan kami terbitkan itu.” Tetapi adegan semacam di atas mungkin sekali terjadi kalau tokoh penyair diganti dengan sarjana atau penelaah sastra, dan buku sajak diganti dengan tulisan ilmiah — entah berupa buku pelajaran entah pengantar kesusastraan. Demikianlah, semakin besar jumlah sumbangan masyarakat kepada kegiatan penyelidikan ilmiah, semakin pasti kemungkinan mendapatkan buku-buku ilmiah dalam jumlah besar dan bernilai baik, sebab dalam hal ini “waktu luang”, “kegairahan”, dan “bakat” adalah lebih-kurang obyektif.

Hampir semua penerbit memperhitungkan laba-rugi. Dan penerbit buku ilmiah, barangkali kita perlu menaruh tanda petik untuk kata majemuk terakhir itu, — terutama sekali yang kemudian dijadikan buku wajib di sekolah-sekolah — selalu memberikan kemungkinan laba. Dan bisa membayangkan bagaimana lambannya penjualan buku-buku sastra “murni” dalam masyarakat yang bahkan rata-rata mahasiswanya saja masih merasakan kesulitan besar untuk memahami karangan-karangan yang informatif sifatnya. Ya, masyarakat yang sekolah-sekolahnya tidak menunjukkan perhatian yang sungguh-sungguh dan terus-menerus terhadap pengajaran bahasa. Masyarakat yang belum pemah memiliki tradisi membaca, tetapi yang dengan mendadak ditawari radio, bioskop, dan televisi.

Berdasarkan keadaan yang saya gambarkan di atas, penerbit yang baik pasti terpaksa berpikir berkali-kali, menunda atau menolak untuk menerbitkan sebuah kumpulan sajak, misalnya, yang ditulis oleh penyair yang belum menjadi “tokoh masyarakat”. Saya meminjam istilah public figure dari W.H. Auden yang mengatakan bahwa banyak sastrawan dewasa ini, bahkan penyair-penyair, yang menjadi tokoh masyarakat tanpa memiliki status sosial seperti halnya para dokter atau ahli hukum. Masih lumayan kalau mereka menjadi tokoh karena buku-buku mereka menjadi best-seller — yang hampir berarti bahwa terbaca masyarakat luas; tetapi bisa terjadi sastrawan dianggap tokoh hanya karena rambutnya yang panjang dan ucapan-ucaparmya yang kenes, yang lebih “indah” dari baris-baris sajak atau alur cerpennya.

Kita wajib menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada penerbitan-penerbitan non-sastra yang telah menokohkan kita, yang telah memperbolehkan tulisan-tulisan kita membonceng, yang telah membayar kita meskipun telah menulis tidak sungguh-sungguh. Bahkan meskipun kita, sastrawan-sastrawan ini, suka mengejek mereka yang secara bersungguh-sungguh ingin menghasilkan karya yang sungguh-sungguh pula. Mengejek mereka yang memperhatikan kata. Mengejek kata.

Sapardi Djoko Damono

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.767 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: