Iklan
Normantis Update

Esai Sapardi Djoko Damono: Tentang Kegairahan Menulis dan Mutu Tulisan Kita Dewasa Ini

Esai Sapardi Djoko Damono

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

Tentang Kegairahan Menulis dan Mutu Tulisan Kita Dewasa Ini - Esai Sapardi Djoko Damono - normantis.com

TENTANG KEGAIRAHAN MENULIS DAN MUTU TULISAN KITA DEWASA INI
SEBUAH CATATAN DI AWAL TAHUN 1970-AN
Oleh: Sapardi Djoko Damono

/ 1/

Setiap kali saya membaca cerpen yang cukup baik di koran, selalu terasa bahwa ia berlebihan. Cerpen itu berada di luar iklan-iklan, gambar-gambar dan berita-berita — dan sekaligus ia pun berada di tengah-tengahnya. Seperti sesuatu yang ganjil di antara hal-hal yang setiap hari terjadi dengan biasa.

Dan terasa ada yang menggoda saya untuk “menyelamatkan”-nya. Tentu saja saya bisa mengguntingnya supaya ia selamat dari tukang beli koran bekas yang mungkin datang besoknya, dan kemudian memasukkannya ke dalam map. Sementara itu saya berpikir tentang sebab yang menjadikannya terasa ganjil. Apakah karena sebuah cerpen tidak cukup dahsyat dibandingkan dengan berita “bencana” kebakaran atau “tragedi” sebuah pesta olahraga? Saya tidak setuju. Cinta-setia seorang wanita yang kekasihnya tergiling mesin semen bisa diterima sebagai jauh lebih diam atau lebih dahsyat dari kedua hal yang tersebut terakhir.

Ia terasa berlebihan karena menggoda saya untuk menyelamatkannya dari hal-hal yang terlalu cepat membusuk –terasa bahwa barangkali besok atau nanti entah kapan ia bisa diajak bercakap lagi. Sementara itu orang boleh mencetak “bencana” dan “tragedi” setiap hati untuk memancing para pembaca koran mengucapkan kata seru seperti “wah!”, “astaga!”, atau “hh!”. Kita tahu, kata seru terucap tidak karena kita sedang berpikir atau menghayati sesuatu.

Tetapi mengapa pula cerpen, yang meminta kita untuk menghayatinya dengan berpikir, mesti dimuat di koran? Tentunya karena adanya kemauan yang baik belaka, baik dari redaksi maupun penulisnya.  Mungkin redaksi mempunyai maksud agar para pembaca korannya sempat menikmati hasil sastra supaya lebih meyakinkan keterpelajaran mereka. Jadi bukan hanya menyediakan hiburan yang berupa kejutan-kejutan kodian.

Bagi penulis tersedia bermacam-macam alasan mengapa ia mengirimkan cerpennya ke koran. Mungkin karena ia butuh uang, dan koran biasanya menyediakan uang lebih banyak dan dalam jarak waktu lebih cepat dibanding dengan majalah sastra atau kebudayaan. Mungkin ia butuh namanya dikenal oleh lingkungan yang lebih luas, dan oplah koran menjamin hal itu. Mungkin ia butuh tempat untuk melempar karangarmya yang tidak di-acc oleh redaksi majalah sastra.

Kemudian sebuah cerpen bisa mengundang orang, yang mengaku “awam” atau yang tidak mengaku apa-apa, untuk menulis ulasan atau tanggapan atau kritik. Demikianlah maka kritik sastra muncul di koran-koran. Juga tersedia beberapa alasan bagi para penulisnya. Hampir semua kita pernah mendapat keuntungan dari keadaan di atas, dan beranggapan semuanya wajar saja. Dan memang waj ar, selama penulis tetap merasa bahwa ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikannya — yang sekaligus berarti bahwa jarak antara tulisannya dan hal yang lain di koran itu semakin jauh.

Sapardi Djoko Damono

Iklan

EDISI SPESIAL SUMPAH PEMUDA

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.245 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: