Normantis Update

Cerpen W.S. Rendra: Sehelai Daun Dalam Angin

Cerpen W.S. Rendra

Fajar terdiam. Ia berlari ke piano, menelungkupkan mukanya ke atas tuts-tuts piano itu dan menangis tersedu-sedu. Saya tak bisa berbuat apa-apa untuk sementara, kecuali duduk di depannya, menunggu ia tenang kembali dan merokok. Sementara itu terasa kemudian oleh saya, bahwa saya sendiri mulai merasa pusing terhadap hal itu. Setelah lama, baru ia bisa menenangkan dirinya. Sambil menghapuskan air matanya, ia bertanya, “Kenapa Bapak tidak pulang saja?”

Saya menggelengkan kepala.

Lama kami tak saling berbicara. Ia melamun, lalu akhirnya menatapi tuts-tuts piano, dan kemudian mulai memainkan sebuah lagu yang murung dan mengiba. Saya memberi komentar, “Lagu yang sedih.”

“Ya Chopin,” jawabnya sambil masih terus bermain.
“Saya tak tahu apa-apa tentang lagu. Bagi musikus barangkali lagu itu berbicara seperti sebuah cerita pendek saja atau lukisan.”

Ia tersenyum masam, lalu bersuara lagi, “Padaku ia bercerita tentang seorang anak kecil berdiri sendirian di sebuah padang yang sangat sunyi dan luas. Ia adalah anak yang dibuang. Ia menangis ketakutan. la menggigil kedinginan. la putus asa dan tanpa harapan. Menanti tak tentu apa yang dinanti. Menjerit minta tolong tanpa keyakinan akan ditolong. Ia adalah anak yang terbuang. Terbuang.”

Ia berhenti ngomong dan lalu memejamkan matanya.

Sementara itu tiada berhenti juga ia bermain. Tiba-tiba ia bersuara lagi, “Kadang-kadang saya bertanya kepada diri saya sendiri, sudah sejak saya kanak-kanak dulu, kenapa saya dilahirkan ke dunia. Saya merasa sedih bahwa saya telah lahir ke dunia. Sekarang saya takut. Apabila saya kawin dan beranak, dan kemudian anak saya bertanya kepada saya: Papa, kenapa saya lahir ke dunia? Saya pasti akan sangat bingung.”

Tiba-tiba saya bangkit dan berkata, ‘Anakku, apa yang kau butuhkan ialah seorang Bapak.”

“Ya. Itulah jawaban yang tepat. Saya membutuhkan seorang bapak. Sejak kecil saya merasa sebagai anak yang terbuang. Sejak kecil, saya merasa hidup dalam kehidupan yang pincang. Waktu kecil saya biasa menangis karena cemburu pada seorang anak yang diajak nonton sepak bola oleh bapaknya. Saya sudah dinasibkan merasai cacat kehidupan. Apa yang akan saya pegang akan ikut cacat pula. Saya anak yang terbuang. Seharusnyalah selalu tetap terbuang.”

Nenek moyang kita zaman dahulu akan berkata, “Seorang lelaki harus segera bangkit apabila ia jatuh tersungkur, memahami cacat dan kejatuhan diri sendiri memang sangat baik, tetapi lebih mulia lagi kalau ia segera bangkit kembali dan melangkah lagi. Anakku Fajar, akulah bapakmu. Marilah saya bimbing kau supaya bangkit dari segala keruwetan ini. Fajar, saya sekarang bapakmu. Menurutlah sekarang padaku.”

Demikianlah, setelah pertemuan itu, hari demi hari kami bersama berusaha keras untuk melenyapkan keruwetannya. Sekarang hasilnya sudah sangat lumayan. Herman, saya harap kau mengerti ceritaku ini.

Anakmu, Fajar, membutuhkan ayahnya. Kerjaku tak akan sempurna sebelum kau sendiri ikut serta. Kasihanilah pemuda yang berbakat itu, akhirnya ia, toh, juga darah dagingmu sendiri. Betapa saja hasil yang akan kita capai, apabila engkau sudi pergi kepadanya dan berkata.

“Anakku, aku datang untuk minta maaf. Kesalahanku padamu sangat besar, tetapi berilah saya kesempatan untuk bangkit kembali dari kesalahanku. Berilah saya kesempatan untuk membimbingmu dan bersama-sama membangun segala yang retak. Anakku, marilah kita bersikap sebagai anak dan bapak.”

Herman, saya tak mencoba mencampuri urusan pribadimu mengenai perkawinanmu. Tetapi, apa pun juga sebab musababnya, saya tak bisa melihat baiknya perceraian dalam perkawinan. Perkawinan berarti saling pemasrahan badan dan jiwa yang mutlak antardua kekasih. Pemasrahan mutlak berarti terjadi hanya sekali dan untuk selama-lamanya. Segala yang retak dapat dibangunkan, yang bengkok dapat diluruskan, kenapa mesti ada perceraian? Perceraian selamanya mendatangkan kesengsaraan.

Anakmu Fajar dalam suasana ruwet dan gelisah. Sebagai daun kering di dalam angin, merasa sepi dan terbuang. Siapakah yang bertanggung jawab?

W.S. Rendra
Buku: Ia Sudah Bertualang, N.V. Nusantara, 1963.
Diterbitkan ulang dalam buku: Pacar Seorang Seniman

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.678 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: