Normantis Update

Cerpen W.S. Rendra: Sehelai Daun Dalam Angin

Cerpen W.S. Rendra

Kejadian itu telah membereskan semuanya. Topan kehebohan sudah reda. Kedua kekasih itu banyak pelesir dan mempunyai rencana-rencana bersama. Retno lulus ujian kandidatnya di Fakultas Sastra. Fajar sukses dalam konser amalnya untuk Dana Perjuangan Perebutan Irian Barat. Waktu berangkat konser, Fajar dan ibunya berangkat bersama-sama satu mobil dengan keluarga kami. Malam itu, Fajar banyak tersenyum dan ia telah menyuguhkan sebuah malam yang gemilang. Ia mainkan sebuah lagu kesayangan ibunya. Ibunya melelehkan air mata karena terharu dan memegang tangan Retno, calon menantunya.

Setelah malam itu, dengan lebih banyak memikirkan kepentingan Fajar, istrimu, dan saya berikut istri saya, merundingkan untuk mempercepat perkawinan kedua kekasih itu. Berhari-hari kami asyik merancangkan dan mempersiapkan segala sesuatunya sampai ke detail sehingga akhirnya semuanya telah beres, tinggal menunggu hari jadinya saja.

Betapa terkejut saya waktu tiba-tiba Retno, sambil menangis, berkata kepada saya, bahwa Fajar minta supaya pertunangan itu diputuskan. Ketika saya tanyakan sebab-musababnya, Retno menjawab, “Saya tak tahu sebab-sebab yang sebenarnya. Mula-mulanya saya hanya heran, kenapa ia telah lama tidak datang ke rumah. Kepada salah seorang temannya saya tanyakan halnya. Teman itu bercerita bahwa beberapa hari yang lalu, ia telah berkelahi dengan Sukro, teman kami berdua. Sekarang Sukro di rumah sakit akibat perkelahian itu.”

Sejak perkelahian itu, Fajar jadi selalu gusar dan murung. Ketika saya tanyakan, apa sebab-sebab perkelahian itu, teman itu hanya menunduk saja. Ketika sekali lagi saya tanyakan sebabnya, ia menjawab bahwa sebabnya ialah saya. Sesudah itu, teman tadi tak mau memberi keterangan lebih lanjut.

Akhirnya, datanglah Fajar dengan mengatakan bahwa ia menuntut supaya pertunangan diputuskan. Saya bertanya, apakah hal ini ada sangkut pautnya dengan perkelahiannya. la menjawab kurang lebih memang begitu. Banyak lagi igauannya yang mokaZ-mokal. Dikatakannya bahwa ia merasa kasihan kepada saya karena ia telah merusak hidup saya. Saya tak bisa mengerti lagi maksudnya.

Ia mengeluarkan perkataan-perkataan yang menjengkelkan saya, membosankan saya, membingungkan saya, dan mematahkan saya. Ayah, tolonglah saya.

Begitu antara lain kata anak saya, dan saya merasa tak bisa berbuat lain, kecuali segera juga bertindak  dan membereskan hal itu. Apalagi setelah ibu Fajar sendiri datang pula untuk meminta tolong saya membereskan hal itu.

Segera saya pergi menemui Fajar di rumah ibunya. Ibunya menganjurkan supaya saya langsung menemuinya ke kamarnya. Ketika saya mengetuk dan mulai masuk ke kamarnya, ia menyambut saya dengan sikap pemberontak yang dingin dan keras kepala. Namun, keadaan kamarnya yang keras berbau asap rokok dan lantainya kotor oleh abu, puntung, serta bekas-bekas bungkus rokok, menandakan bahwa hatinya sedang rusuh, menderita, dan gelisah. Keadaan kamarnya tak teratur, pianonya terbuka dan berdebu, beberapa butir abu terserak di atas tuts-tuts piano.

Saya menerangkan bahwa maksud kedatangan saya ialah untuk membereskan keruwetan yang tak perlu mengenai pertunangan itu. Saya terangkan, bahwa ia harus berpikiran lebih tenang dan sehat. Janganlah bertingkah yang menggegerkan orang. Ia mengatakan bahwa ia telah cukup bijaksana, dan ia mengambil keputusan untuk membubarkan pertunangan itu justru demi kebijaksanaan. Selanjutnya kami ramai berdebat tentang itu. Segera saja dari omongannya, saya tahu bahwa pemuda itu sedang dihinggapi rasa rendah diri dans eakan-akan tiba-tiba merasa terkalahkan. Akhirnya, saya pun membentak, “Semuanya omong kosong. Janganlah kau menuruti perasaanmu yang tidak beralasan. Kau cukup berharga, sebagai seniman dan sebagai manusia. Janganlah perasaan rendah dirimu mendorong kau untuk merusakkan percintaanmu,”

Akan tetapi, ia lalu berkata, “Seorang teman telah berterus terang mengatakan bahwa ia cinta Retno. Saya jadi jengkel. Benci pada orang itu, apalagi setelah lama tahu, bahwa sudah lama ia sendiri mencintai Retno. Saya pukul orang itu. Saya pukul, saya hajar. Namun sesudah itu, di kamar ini, saya merenung dan mendapati hal, bahwa segala kata-kata orang itu memang betul. Apakah sebetulnya saya ini? Seorang berandal. Tak lebih dari itu. Kerja saya cuma pelesir, bikin heboh, bikin kacau, lalu bermalas-malas. Pianis, bah pianis! Untuk apa sebetulnya saya main piano?”

“Untuk apa? Tentu saja segala sesuatunya ada tujuannya. Nah, sekarang tinggal kau saja yang tak sadar akan tujuan yang sebenarnya.”
“Bukannya tak sadar. Tapi, memang tak ada.”
“Jadi kau hidup tanpa tujuan?”
“Ya!”

“Nah, kalau begitu, kau memang orang yang tidak berguna. Kau memang pantas marah pada dirimu sendiri. Karena dirimu penuh keruwetan dan kegelapan. Seperti teka-teki yang menjemukan. Seperti kuda liar yang selalu gelisah. Orang yang hidup tanpa tujuan. Orang yang hidupnya kosong. Tak tahu apa yang dikehendakinya sendiri sebenarnya. Apa yang dilakukan selalu lain dengan yang dimaksudkan. Pendeknya kau memang ruwet. Tapi, apa pula faedahnya tinggal marah-marah pada diri sendiri? Kenapa tak kau coba mencari sebabnya? Apa sebabnya keruwetan ini? Apa sebabnya? Sebabnya.”

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.776 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: