Iklan
Normantis Update

Esai Ajip Rosidi: “Cina” dan “China”

Esai Ajip Rosidi

"Cina" dan "China" - Esai Ajip Rosidi

“CINA” DAN “CHINA”
Oleh: Ajip Rosidi

SEBELUM EYD diresmikan kita menulisnya “Tjina”, sesudah EYD diresmikan kita menulisnya “Cina”, karena “tj” diganti dengan “c”. Tapi sebagian dari orang Cina peranakan di Indonésia menganggap kata “Cina” itu mengandung penghinaan. Meréka lebih suka mempergunakan kata “Tionghoa” untuk menyebut nama bangsa dan nama bahasanya, dan “Tiongkok” untuk menyebut nama negaranya. Tidak pernah jelas penghinaan apa yang terkandung dalam kata “Cina” itu. Namun anehnya, mereka sendiri kalau berbicara dalam bahasa Inggris menggunakan kata “China”. Begitu juga untuk menyebut nama bangsa dan nama negaranya, baik yang di benua Asia (People’s Republic of China) maupun yang di pulau Taiwan (Republic of China). Yang ganjil kalau dalam bahasa Indonésia dianggap mempunyai unsur menghina, tapi dalam bahasa Inggris disambut baik. Artinya tidak dianggap mengandung unsur menghina. Padahal pemakaian kata “Cina” dalam bahasa Melayu sejak dahulu dianggap wajar saja. Kata “Cina” kan dalam bahasa Melayu sampai masuk ke dalam peribahasa dan menjadi ungkapan yang biasa digunakan sehari-hari tanpa ada kandungan penghinaan, misalnya peribahasa yang berbunyi “Bagai Cina karam”, atau ungkapan “baju potongan Cina”. Dalam bahasa Sunda juga ada peribahasa yang berbunyi “Jiga Cina dipangwayangkeun”. Menurut perkiraan saya timbulnya anggapan bahwa perkataan “Cina” itu mengandung penghinaan, sejak orang-orang Cina di Indonésia mau disebut “Tionghoa” dan negerinya harus disebut “Tiongkok”, yaitu pada zaman Demokrasi Terpimpin ketika Baperki kian berpengaruh, karena dari lingkungan itulah mulai timbul anggapan bahwa kata “Cina” itu mengandung penghinaan. Jadi, hanya sebagai alasan karena dalam masyarakat pengguna bahasa Melayu dan Indonésia sendiri tidak ada maksud menghina atau merendahkan dengan memakai istilah “Cina” itu. Hanya orang Cina tertentu (artinya tidak semua) dan para Indonésianis semacam Ben Anderson yang menganggap kata “Cina” mengandung penghinaan.

Tetapi belakangan ini dalam surat-surat kabar dan majalah perkataan “Cina” itu diganti menjadi “China”. Konon karena surat kabar terkemuka di Jakarta pernah ditegur atau diminta oléh pejabat dari kedutaan besar RRC agar jangan menggunakan perkataan “Cina”, melainkan “China”. Sebagai lembaga yang merasa tidak berdaulat dalam menggunakan bahasa nasionalnya, maka surat kabar itu mengikuti teguran atau permintaan itu dan dalam surat kabarnya sejak itu “Cina” selalu ditulis “China”. Dan karena surat kabar itu yang paling terkemuka di Indonésia, maka surat-surat kabar lain baik di Jakarta maupun di daérah tanpa diminta oléh pejabat kedutaan yang bersangkutan, secara sukaréla menyalahi EYD dalam menuliskan kata tersebut dengan “China”.

Yang lebih ajaib ialah cara kata tersebut diucapkan. Dalam télévisi kita dengar ada orang yang mengucapkannya sesuai dengan cara perkataan tersebut diucapkan dalam percakapan sehari-hari oléh orang biasa di pasar atau di Surau. Tapi ada juga yang mengucapkannya seperti dalam bahasa Inggris, yaitu “Caine”. Sementara itu tidak kurang yang mengucapkannya dengan “Caina”. Dan kalau yang dimaksud “orang China” sekarang biasa digunakan istilah Inggris “Cainis” (“Chinese”).

Peristiwa itu menunjukkan betapa mudahnya kita menyesuaikan diri dengan kehendak orang lain, terutama kalau orang lain itu termasuk bangsa yang dianggap lebih kuat kedudukannya daripada kita, sehingga kita lupa bahwa kita harus membela kedaulatan kita dalam berbahasa, termasuk mengatur éjaan dalam menuliskan kata-kata yang sudah menjadi perbendaharaan bahasa kita. Bukankah kita juga

tidak meminta orang Cina dalam bahasanya menuliskan nama bangsa dan negara kita agar sesuai dengan kehendak kita, padahal dengan huruf cakar ayam itu entah bagaimana bunyi “Indonésia” mereka ucapkan.

Kita selalu ingin menjadi “orang baik” menurut orang lain, tetapi lupa bahwa kita sendiri sebagai bangsa yang merdéka dan berdaulat harus menentukan apa yang baik bagi kita. Memang sebagai bangsa yang lama menjadi jajahan orang lain, kita selalu terbiasa ingin disebut baik oléh orang lain, yaitu oléh bangsa yang menjajah kita. Karena itu kita tidak mempunyai tolok-ukur untuk memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak. Dengan kata lain kita terbiasa menjadi obyék, padahal sebagai bangsa merdéka dan berdaulat kita harus menjadi subyék. Mengubah mentalitas sebagai obyék menjadi subyék mémang tidak mudah. Apalagi dalam terjangan globalisasi yang datang dengan dukungan modal kuat dan menggunakan sarana teknologi mutakhir yang maju.

Kita tidak tahu apakah ada pegawai Kedutaan Besar Cina di Kualalumpur yang meminta surat kabar di sana agar menuliskan nama negeri dan bangsanya dengan “China” seperti dalam bahasa Inggris. Yang jelas dalam bahasa Malaysia sampai sekarang orang tetap menuliskannya “Cina”- sesuai dengan EYD yang juga mereka pakai.

Ada kemungkinan tidak ada pegawai Kedutaan Besar Cina di Kuala Lumpur yang merasa terganggu dengan tulisan “Cina”, sehingga tidak mengusulkan agar diganti dengan “China” seperti dalam bahasa Inggris. Ada juga kemungkinan ada pegawai Kedutaan Besar Cina di sana yang meminta wartawan surat kabar Melayu agar jangan menulis “Cina” tapi harus “China”, hanya saja wartawan yang bersangkutan

menganggap bahwa soal bagaimana menulis sesuatu dalam bahasanya bukanlah urusan orang Cina, sehingga usul atau permintaan itu tidak dipenuhi. Artinya wartawan Melayu itu mempunyai harga diri dan menyadari kedudukannya sebagai bangsa yang berdaulat, yang berhak mengatur cara penulisan sesuatu dalam bahasanya sesuai dengan aturan yang berlaku. Tentu saja sikap demikian tidak usah dihubungkan dengan kenyataan bahwa orang Malaysia yang mempunyai perkebunan, sedangkan TKI Indonésia bekerja mencari makan.

Peribahasa klasik yang berbunyi bahwa kalau kita ingin dihargai orang lain, kita harus tahu menghargai diri sendiri, nampaknya telah dilupakan oléh banyak orang termasuk oléh wartawan surat kabar paling terkemuka di Jakarta. Atau tidak sampai dia mengerti karena méntalitasnya adalah mentalitas manusia jajahan yang merasa senang tetap menjadi obyek.

AJIP ROSIDI
Buku: BUS BIS BAS – Berbagai Masalah Bahasa Indonesia – Catatan dan Pandangan Ajip Rosidi

Catatan: Dalam buku ini, Ajip Rosidi memang membedakan penulisan huruf “e” dan “é” untuk membedakan bunyi.

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.157 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: