Normantis Update

Esai Cak Nun: Kiai Harus Seniman

Esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Di dalam suatu acara katarsis kecil-kecilan di suatu tempat sepi bersama beberapa kawan karib, yang tak semuanya beragama Islam, saya ingat saya berkata spontan: Betapapun, Islammu berbeda dengan Islamku, karena dirimu berbeda dengan diriku, karena lahirmu berbeda dengan lahirku, karena Ibu pengalamanmu berbeda dengan Ibu pengalamanku, rahasia batinmu berbeda dengan rahasia batinku. Ayolah mencari Islam di dalam dirimasing-masing. Islam dianugerahkan Allah untuk dicari. Kata-kata Tuhan sudah jelas, haq dan batil sudah jelas, tetapi ia harus kawin dengan jiwa kita. Marilah ditempuh sendiri-sendiri perkawinan itu menuju totalitas dan kebenarannya yang sejati. Ayolah berpacaran semesra-mesranya dengan Al Quran, sunah-sunah Nabi, keadaan orang-orang Islam, keadaan semua manusia, alam semesta dan bayang-bayang Tuhan. Ayolah dikejar perkawinan sejati itu dengan cinta kasih yang sepenuh-penuhnya. Kita masing-masing sendirilah yang menemukan Islam itu. Bukan orang lain. Bukan orang lain. Kaulah sendiri yang menemukan cahaya itu di dalam dirimu sendiri. Mungkin justru lewat kegelapan, atau lewat cahaya yang lebih benderang.

“Islam itu ya yang begini ini!” kata Kiai Hamam, sambil menunjuk ke ‘kelakuan’-nya yang bebas, leluasa, pasrah. Ia melintangkan kaki, tertawa dan ngomong dengan ‘cuaca’ yang merdeka. “Kalau saya menghadapi seseorang di mana saya mesti merunduk-runduk, menekuk punggung, dalam arti harafiahnya atau pun kiasannya, maka rasanya saya tidak Islam lagi. Sebab dengan begitu saya tidak merdeka lagi. Sedangkan saya pasrah kepada Allah, dan hasil kepasrahan itu tak lain adalah kemerdekaan”.

‘Menunduk-nunduk’ itu bisa berarti sungguh-sungguh menunduk-nunduk, tetapi bisa juga berarti kekalahan dan kepatuhan di bawah suatu tiran kekuasaan yang tidak semestinya dipatuhi. Kiai Hamam barangkali saja berbicara, secara amat halus, tentang politik. Tidak! Seorang Kiai adalah muslim teladan. Ia merdeka, tak bisa ditekan-tekan. Islam adalah pembebasan. Dengan Islam kita peroleh kemerdekaan hidup.

Saya menyebut kepadanya tentang seorang petani di pelosok yang belum ‘kesenggol’ oleh lalu lintas agama apa pun, tetapi ia tekun total di sawahnya dengan cangkul dan lumpur, setia satu dengan alamnya, tak terpisah dari alam semesta besar yang mengandungnya, karena ia memelihara naluri manusianya. “Ya, itulah Islam,” kata Sang Kiai. Islam itu bukan ‘salah satu agama’, bukan satu faktor kehidupan di sisi faktor yang lain. Islam itu kepasrahan hidup yang menghasilkan kemerdekaan, dan dengan begitu membuahkan kebahagiaan. Islam bukan potret hanya seseorang sedang sembahyang, tapi juga kandungan sebuah puisi, dalam tanaman padi kesuburan yang ditetesi keringat penanamnya, juga dalam tindakan perlawanan terhadap segala macam penindasan dan penjajahan. Ketika satu organisasi dari Jerman memfilmkan ‘Islam di Pabelan’, Kiai Hamam memaparkan sawah-sawah dan para petani, santri-santri yang mengangkati batu dari sungai dan menggergaji kayu untuk membangun gedung. Guru-guru yang mencuci pakaian. Santriah-santriah yang sibuk di kolam ikan dan yang berlatih pidato bahasa Inggris. Tidak sebagai ilustrasi atau latar belakang kehidupan Islam, melainkan sebagai Islam itu sendiri.

Islam adalah kesetiaan mengerjakan hidup. Islam itu keterus-menerusan menghayati gerak yang merdeka. Kesetiaan dan keterus-menerusan itu membutuhkan isi sikap kreatif. Sehingga gerak kreatif itu menentukan bertemunya batin manusia dengan Sang Inti. Pertemuan itu menganugerahkan rasa pasrah yang total. Buahnya ialah kemerdekaan. Dan kemerdekaan yang sejati ialah keindahan tertinggi. Itulah benang merah kehidupan. Apa pun bidang hidup seseorang, petani atau menteri, guru atau seniman, penjahit atau ilmuwan, tetapi itulah benang merah disiplinnya.

Jika disebut kata ‘agama’ muncul di benakmu gambar orang bersembahyang. jika disebut kata ‘pertanian’ muncul film orang mencangkul di pesawahan. Jika disebut kata ‘kesenian’ muncul wayang orang. Itu semua bukan beberapa dunia yang berbeda. Hanya luarnya punya warna dan bentuk tak sama. Tetapi batinnya satu. Semua adalah gerak kreativitas hidup, menuju upaya terhadap kemerdekaan dan keindahan. Rambu Tuhan.

Kiai Hamam memakai simbol ‘seniman’ mungkin karena ia beranggapan bahwa kesenianlah yang selama ini paling banyak memakai kata ‘kreativitas’ dan ‘kemerdekaan’ dalam pengertiannya yang hakiki –betapapun semrawutnya konotasinya di dalam kenyataan. Kalau begitu barangkali pernyataan Sang Kiai Pabelan itu bisa lebih disederhanakan” “Kiai harus kreatif, agar eksistensinya otentik. Agar ia tidak pasrah kepada tiran kekuasaan dunia yang mencengkeram tengkuknya, atau kepada kebekuannya sendiri. Sebab pasrah hanyalah kepada Allah. Sebab hanya itulah menjadi sumber kekuatan kepemimpinannya atas umatnya”.

Pasrah kepada Tuhan itu begitu nyaman. Ia sungguh-sungguh menyediakan kebahagiaan.

Tapi, ia sungguh menakutkan, jika orang meyakini bahwa lapar itu hantu siksaan, dan mati itu mengerikan.

EMHA AINUN NADJIB (CAK NUN)
Buku: Indonesia Bagian dari Desa Saya

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: