Normantis Update

Esai Cak Nun: Kiai Harus Seniman

Esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Ketidaksiapan untuk merdeka itu ada hubungannya juga dengan bagian lain dari pernyataan Kiai Hamam: “Mereka semua adalah santri, tapi mereka semua adalah juga guru. Nampaknya Pesantren Pabelan ingin membebaskan dirinya dari tren feodalistis dari kata-kata dan status Guru di Indonesia selama ini. Kebudayaan kita hanya mempunyai satu struktur kalimat untuk masalah ini, ialah “Guru mendidik murid”. Tidak ada “Murid mendidik guru”. Guru adalah subjek dan murid adalah objek. Protes mahasiswa mukimin di atas mencerminkan watak ‘objek’ itu. Agak kurang enak memang mendengar bahwa ada pendidikan yang punya ‘objek’ tidak saja sebagai status kata dalam kalimat, tetapi juga dalam kenyataannya. ‘Objek’ itu terbiasa dididik, bukan mendidik. Dengan bahasa lain yang populer, ia adalah buah dari pola pendidikan yang konsumtif. Dalam kasus pemukiman Ramadan di atas, si ‘objek’ itu kurang menyadari bahwa peraturan yang ketat hanyalah salah satu cara. Bukan tujuan. Sedang Pesantren Pabelan meyakini bahwa tujuan itu bisa dicapai lebih riil melewati penumbuhan disiplin pribadi, di mana pribadi itu sendiri yang menciptakan peraturan ketat dalam dirinya sendiri. Seksi Keamanan yang otentik dan orisinal lebih berada di dalam masing-masing pribadi. Pun untuk supaya obrolan para mukimin tidak menyeleweng dari ‘rel agama’, bukanlah Kiai atau para Ustaz yang menjadi masinis pengendalinya. Melainkan tetumbuhan iman masing-masing pribadi. Sebab pada hakikatnya mereka masing-masing adalah juga Ustaz bagi dirinya sendiri. Sang Kiai paling jauh hanya bisa jadi perangsang awal, atau salah satu cermin belaka, di samping banyak cermin-cermin lain.

Sementara itu, harus saya kemukakan bahwa prinsip disiplin semacam ini diterapkan oleh Kiai Hamam tentunya berdasar pada pertimbangan bahwa para mukimin itu adalah mahasiswa-mahasiswa. Minimal, jika harus dilepaskan dari hubungannya dengan status kemahasiswaan mereka, toh mereka sudah sampai pada fase usia yang dewasa. Dewasa tentunya adalah gambaran kemampuan di mana seseorang sudah mampu memegang dan menentukan dirinya sendiri, mengurus dan memeliharanya. Termasuk memilih kelakuan yang baik dan menjaga keamanannya. Kiai Hamam tentu menempuh pola disiplin yang berbeda terhadap santri yang barusan menamatkan sekolah dasar.

Ada satu contoh sederhana: bagaimana seorang murid sejak semula dirangsang sikapnya untuk berkata dalam hati “Saya memasuki kelas ini untuk mencari ilmu”. Betul-betul aktif dan berinisiatif untuk itu. Sebab kenyataan selama ini si murid punya sikap “Saya masuki kelas ini untuk diberi pelajaran Pak Guru”. Dan ia menunggu itu. Batinnya termangu dan pikirannya pasif. Pak Guru yang menyediakan jawaban akhir dari segala soal. la kurang bertanya kepada dirinya sendiri. Ia cenderung menuntut jawaban dari orang lain. Kalau sebuah kelompok teaterawan berlatih, maka sutradara dituntut penuh untuk mampu memberikan segala-galanya dan menjawab segala-galanya.

Sikap mental ‘kawula’, mental konsumtif, pasif, ‘meminta dan menunggu’ bukan ‘mencari’, merupakan salah satu problem serius masyarakat kita. Kita pakai sistem schooling dalam pendidikan formal kita, ditambah kecenderungan guru yang ‘tak mau dibantah’ -tentu saja kurang memungkinkan suatu mekanisme yang merangsang anak-anak untuk aktif. Para murid terlalu tergantung pada apa yang diajarkan, tidak terdidik untuk membiasakan sikap menggunakan Sekolah sebagai salah satu lorong menelusuri kehidupan, sementara ada sekian lorong lain yang juga ditempuh. Bahkan, dalam kasus pemukiman di atas soal iman pun ia minta orang lain untuk menjaganya. Menentukan intensitasnya. Isu tetumbuhan generasi yang ‘dididik’, yang lebih menuntut dan meminta kepada lingkungannya, daripada memberi sesuatu dengan kreativitas pribadinya.

Karakter yang seperti ini lebih berbakat menjadi ‘pegawai daripada menjadi ‘seniman’.

*

Dari situ Kiai Hamam menarik garis paralel ke arah kenyataan lain yang juga serius. Ialah sifat pemelukan keagamaan kita yang lebih berorientasi kepada patokan-patokan kefikihan. Patokan hukum. Perintah dan larangan. Ini mencerminkan sikap mental pemeluk yang memiliki ketergantungan besar terhadap tatanan formal. Jadi esensial ini identik dengan kasus pemukiman di atas.

Tata nilai kehidupan beragama dengan begitu didominasi oleh konstruksi hukumnya. Maka, keislaman yang terbangun lebih merupakan ungkapan definisi-definisi ‘kepatuhan beragama’ daripada tetumbuhan Islam yang mengakar dari individu-individu. Islam yang tumbuh semacam ‘seragam’ saja, bukan Islam yang membuka mata terhadap kekayaan mozaik beribu kepala manusia, beribu latar kultur, beribu saraf-saraf pengalaman yang berbeda-beda. Bahkan, Islamnya Imam Syafii ketika berada di Mesir berbeda dengan ketika di Arab.

“Tuhan selalu berfirman agar kita jangan mencela, mengejek, menghina orang lain, itu karena setiap manusia itu berbeda,” demikian Kiai Hamam berefleksi.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: