Normantis Update

Esai Cak Nun: Kiai Harus Seniman

Esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Malam itu ia mengajak ber’diskusi’ soal surat kaleng dari sementara mahasiswa Yogya yang bermukim di Pesantren Pabelan selama Ramadan. Mahasiswa itu melontarkan bermacam kritik tentang kehidupan permukiman Ramadan itu. Peraturan yang kurang ketat. Bagian Keamanan kurang sering mengontrol kegiatan para mukimin. Pak Kiai atau Ustaz lainnya mestinya harus sering datang ke tengah mahasiswa-mahasiswa mukimin itu agar obrolan mereka terkontrol, tidak menyeleweng ke hal-hal yang menimbulkan kemusyrikan dan kekufuran, dan seterusnya.

“Lha gimana sih,” kata Sang Kiai, “pondok ini bukan milik saya. Tapi milik siapa saja yang datang ke mari. Mereka memeliharanya seperti memelihara dirinya sendiri. Mereka bikin peraturan sendiri. Bikin jadwal sendiri. Semua mereka adalah petugas keamanan. Mereka semua adalah subjek dan potensi yang menentukan baik tidaknya kehidupan di sini. Mereka adalah juga guru. Kami tidak mengajarkan atau mendidik apa-apa. Kita hanya saling tukar pengetahuan dan pengalaman saja. Saling belajar. Yang penting bukan bagaimana kami mendidik mereka, bukan bagaimana seseorang mendidik orang lain, tapi bagaimana setiap orang mendidik diri sendiri, maka karena masing-masing orang pati memiliki kepekaan dan ukuran-ukuran atas lingkungannya, maka dengan sendirinya pendidikan lingkungan akan tercipta.”

Artinya para mahasiswa mukimin itu harus lebih banyak menuntut diri mereka sendiri. Pendidikan yang terbaik ialah iklim yang menantang agar seseorang menantang dirinya sendiri. Menuntut dirinya sendiri. Para mahasiswa mukimin itu datang ke Pesantren Pabelan memang bukan untuk disongsong oleh peraturan-peraturan yang akan mengurus mereka. Orang yang tak mampu mengurus dirinya sendiri dengan sendirinya akan terlempar dari lingkungan orang-orang yang mampu mengurus dirinya sendiri. Mereka datang ke Pesantren sebagai pemilik Pesantren itu. Mengurus segala keperluannya sendiri. Cuma karena mereka berada bersama-sama, maka ‘mengurus diri sendiri’ itu berproses serentak dengan komitmen bersama, dengan kepekaan dan penumbuhan integritas hidup bersama. Karena itu disiplin yang ditumbuhkan tidak bertitik tolak dari sistem dan aturan lingkungan, melainkan lebih dari kesadaran masing-masing pribadi.

Kiai Hamam bertanya: Apa kira-kira yang terjadi di belakang protes para mahasiswa mukimin itu? Adakah latar belakang yang dibentuk oleh suatu proses? Apakah itu hal baru, atau dibawa sejak semula dari ‘sejarah asli’ lingkungan masyarakat yang melahirkan mereka?

*

Dengan pikiran spontan ketika itu saya menjawab bahwa faktor tersebut nampaknya merupakan ‘bawaan asli’ dari prototipe masyarakat yang punya Stratifikasi sederhana: Raja dan kawula, Priayi dan wong cilik. Ini dua bakat pokok.

Pada tingkat yang berbeda-beda dan bentuk yang bermacam-macam, kedua bakat itu nampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Modernisasi kehidupan kemudian lambat laun melebur pengkelasan ini. Priayi Kraton bisa bergaul di warung kecil dan wong cilik dari dusun pelosok bisa jadi menteri. Tetapi sebagai acuan mental, kedua bakat pokok itu tetap kuat akarnya. Si Polan adalah tukang atur yang sukar sekali diajari bersikap demokratis.

Si Paimin kalau ‘dikasih hati’ malah lancang, maunya ngangkang di atas kepala orang. Maka jadikan ia kawula saja lebih aman. Ada suatu garis tebal di mana seseorang berkecenderungan dasar untuk bermental diktator, sementara lainnya memang ber’bakat’ untuk didiktatori, diatur ditentukan. Bukankah tirani feodalisme memang dikukuh- lestarikan justru oleh massa kawula yang ‘seakan-akan’ memang rela dijadikan tanah injakan? Dengan bahasa lain saya ingat suatu aksioma bahwa kehidupan demokrasi yang ideal sebagai falsafah ternyata bukanlah pilihan yang ideal untuk prototipe masyarakat semacam itu. Sehubungan dengan akar mentalitas mereka.

Ketika era modern mulai mengajari kita tentang demokrasi, maka untuk waktu yang mungkin cukup lama demokrasi itu baru berhenti sebagai pengertian pikiran belaka, sementara akar mentalitas kita sesungguhnya belum sepenuhnya mengizinkan penerapannya. Pikiran bisa menjadi pengertian setelah lima menit diterangkan. Tetapi, sikap mental adalah buah dari proses kebudayaan yang lama.

Protes mahasiswa mukimin di atas mencerminkan sikap mental kawula yang minta diatur, minta ditentukan, dijaga disiplinnya oleh petugas keamanan dan bukan oleh dirinya sendiri. Padahal Pabelan memberinya peluang yang sangat demokratis untuk menjamin kemerdekaan mukiminnya. Saya menduga seandainya mereka diikat secara ketat oleh aturan-aturan yang belum tentu ‘masuk otak’ bermacam-macam individu mukimin, mereka juga akan protes dan mempertanyakan segi demokratis dari peraturan itu. Ini biasa saja, dan hanya menunjukkan bahwa esensi demokrasi belum menyatu betul dengan keseluruhan dirinya. Kemerdekaan adalah napas demokrasi. Tetapi, ada dua kemungkinan jika itu diterapkan. Pertama, orang akan mengenyam dan mengeksploatasi kemerdekaan itu sedemikian rupa tanpa meraba dan memperhitungkan batasan-batasan dari kemerdekaan yang manusiawi. Ia akan lancang, over, dan tidak wajar. Kemungkinan kedua, seperti yang terjadi pada para mukimin di atas. Tetapi, ada yang sama pada keduanya: masing-masing tidak siap untuk dimerdekakan. Cuma yang satu me-‘nyeleweng-kan kemerdekaan. Yang satu lagi tak siap memberi isi dalam peluan kemerdekaan.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: