Normantis Update

Esai Cak Nun: Kiai Harus Seniman

Esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Seorang Kiai mungkin secara resmi bukan pegawai negeri, ambil misal demikian. Tetapi karena pendekatan-pendekatan tertentu, maka ia harus berfungsi tertentu dalam ‘iklim politik’ di mana ia berada. Keadaan yang membikinnya tak berbeda dengan orang lain yang benar-benar pegawai. Dalam posisi inilah si Kiai itu harus kreatif untuk tetap bisa memelihara kemerdekaannya.

Kreativitas itu menumbuhkan dan memelihara ekspresi iman-islam-ikhsan kehidupan pribadinya, sekaligus tercermin dalam tindakan dan kebijaksanaan dalam menjalankan fungsinya tersebut. Kreativitas seperti ini tidak mustahil dimiliki juga oleh seseorang yang betul-betul punya status sebagai pegawai.

Dengan konteks ini, maka nada mempertentangkan antara ‘seniman’ dan ‘pegawai’ tentu tidaklah merupakan alasan bagi seniman-seniman untuk berbesar kepala sementara para pegawai merasa direndahkan. Sebab di situ ‘seniman’ diukur dari takaran idealnya, dan ‘pegawai’ diukur dari kesan kelemahannya. Kita juga tahu tidak semua pegawai adalah manusia yang tak merdeka, dan tidak semua seniman terbebas dari kotak fungsi semacam itu. Kemerdekaan bisa diperjuangkan oleh setiap orang, apa pun ia dan di mana pun ia.

*

Kiai Hamam Ja’far adalah pemimpin masyarakat yang suka bermain layang-layang. Mengalbum hampir segala macam kaset musik. la adalah peternak yang menulis puisi, petani yang kutu-buku. Kemudian, yang terpenting, ia adalah orang yang biasa saja.

Zaman saya suka begadang di Malioboro Yogya sekitar tahun 1975-an dulu, saya sering ketemu dia (bukan beliau) larut malam di jantung kota gudeg itu. Siang hari sering ketemu dia di Pasar Beringharjo atau di Shopping Centre Senopati. Ia membeli berbagai peralatan dapur dan lain-lain buat pesantrennya. Ketika saya hendak menemuinya di awal Ramadan, ia mengusulkan untuk ketemu di malam hari saja, sehabis tadarus. Siang hari dia harus kerja di sawah, terutama karena sementara ini ada kemacetan sistem pengairan sawah. “Dan lagi kalau malam kita kan bisa ngrokok. Kebetulan kalau siang saya ini butuh puasa juga …,” katanya sambil tertawa.

Mendengar kalimatnya yang terakhir itu mula-mula saya memperoleh kesan: Ini kata-kata orang Jawa yang berendah hati tak mau menonjol-nonjolkan perbuatannya. Tapi kemudian saya menemukan itu sebagai ekspresi subjektif seorang Hamam yang sederhana. Saya tak ragu, kalimat terakhirnya itu menunjukkan bahwa ia adalah seorang muslim yang telah mampu menjalankan ibadah puasa tidak hanya sebagai kewajiban dari Tuhan. Tetapi juga sebagai kebutuhan riil dari kehidupan pribadinya. Dan itu hanya diperoleh apabila seseorang telah berhasil menemukan makna konkret dari ibadah Ramadan. Bukan sekadar mematuhi secara formal peraturan hukum agama, atau agar memperoleh pahala, terhindar dari malapetaka neraka. Tapi sudah mengirama dalam hidupnya. Ia butuh puasa seperti ia butuh bernapas. Karena itu ia tidak berkata: “Soalnya kalau siang kita kan wajib berpuasa…”.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: