Iklan
Normantis Update

Esai Cak Nun: Kiai Harus Seniman

Esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

KIAI HARUS SENIMAN
Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Kiai Pesantren Pabelan itu mengepulkan asap rokoknya dan berkata serius: “Seberapa pun kadarnya, tapi seorang Kiai itu harus seniman. Sebab kalau tidak, paling jauh ia hanya akan jadi pegawai!” ‘

Saya tidak kaget mendengar kalimat itu, tapi tertegun bahwa itu diucapkan justru oleh seorang Kiai. Apa gerangan bahasa jelas dari pikiran yang dimaksudkan itu?

Sudah pasti bukan dalam pengertian verbal, bahwa Kiai mesti seorang penari atau aktor film. ‘Seniman’ ialah suatu potensi yang sadar dan peka akan gerak keindahan hidup, serta yang memelihara naluri dan kemampuan kreatifnya untuk selalu menemukan dan mengungkapkan keindahan itu. Setiap orang terlibat dalam pengalaman keindahan, tetapi seniman menangkap keindahan itu dan mampu menyatakannya. Bahkan, tidak setiap seniman memiliki hal itu dalam kadar yang selalu tinggi dan kontinyu, tetapi Kiai Hamam Ja’far ini mengemukakan bahwa seorang Kiai mesti memiliki potensi semacam itu. Mungkin jawabannya ‘gampang: kehidupan ini memang indah. Alam semesta, kebahagiaan yang paling selalu dicari-cari manusia, keabadian, serta Tuhan, memang sangat indah. Tetapi mungkin juga persoalannya lebih dari itu.

Lantas apa itu ‘pegawai’?

Rasanya kok begitu kenes untuk membenturkan potensi, seniman, dan potensi-pegawai dalam suatu dikotomi yang punya kesan satu positif satu negatif. Tentu ada konteks khususnya.

Dengan pegawai –dalam tanda petik– agaknya Kiai Hamam ingin menyebut perihal keberadaan seseorang dalam suatu fungsi yang ditentukan oleh sistem dan struktur tertentu, sekalian falsafah dan tujuannya. Dengan catatan bahwa fungsi ini merupakan keterikatan sedemikian rupa, sehingga sebuah individu yang menyangganya tidak atau kurang memiliki kemungkinan yang leluasa untuk mengembangkan proses kediriannya secara merdeka. Apabila fungsi tersebut berupa satu kotak sosial, yang dirangkum atau dibawahi misalnya oleh satu ideologi politik; kemudian keterikatan fungsional ini menyangkut erat mati hidupnya seseorang, ada tidaknya peluang ekonomis umpamanya –maka esensi ‘pegawai’ di sini memang bertentangan, atau paling tidak berbeda dengan esensi ‘seniman’ yang menghasratkan kemerdekaan. Saya kira Pak Kiai kita itu menyebut ‘pegawai’ karena untuk konteks Indonesia dewasa ini kadar keleluasaan tersebut memang relatif rendah. Dalam sistem politik kita ‘pegawai’ itu berada dalam mono-alternatif. Aksentuasi lontaran pikiran itu tentu bukan pada segi negatif dari iklim kepegawaian tersebut, sambil seakan-akan mengabaikan bahwa pengadaan fungsi semacam itu adalah hal yang biasa saja, bahkan harus dan absah, dibutuhkan oleh mekanisme kehidupan setiap masyarakat, yang terdapat dalam pola organisasi tradisional maupun modern. Pak Hammam saya pikir ingin menekankan bahwa seorang Kiai, suatu tipologi pemimpin tradisional ala Indonesia, semestinyalah merupakan percontohan konkret dari kreativitas beragama. Kreativitas hidup percontohan konkret dari kreativitas beragama. Kreativitas hidup.

“Kunci iman dan Islam adalah kreativitas yang tak pernah mandek,” tandasnya. Ia memberi contoh gampang. Sembahyang misalnya. Apabila ia tak digerakkan oleh kreativitas pelakunya dalam mencari makna-makna baru yang riil dan aktual bagi gerak hidupnya secara terus-menerus, maka sembahyang hanyalah patokan-patokan yang mati. Dalam hal ini Kiai orang yang paling harus mampu mengekspresikan makna-makna sembahyang dalam kaitan eratnya dengan kehidupan sehari-hari. Dalam hubungannya dengan konteks ‘pegawai’ di atas, kalau seorang Kiai mengemban tugas sebagai fungsionaris kepegawaian juga, atau kalau dalam suatu konstelasi kemasyarakatan tertentu ia ditekan untuk berfungsi sesuatu, maka soalnya ialah bagaimana ia tetap merdeka dan kreatif di bawah tekanan itu.

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.157 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: