Normantis Update

Cerpen Sujiwo Tejo: SMS Lebaran yang Bikin Jengkel

Cerpen Sujiwo Tejo

Mereka lantas memilih untuk tidak mencetak kartu Lebaran secara massal. Mereka mengisi satu per satu kartu Lebaran dengan tulisan tangan. Isi kalimatnya pun berbeda-beda. Dari produksi kartu Lebaran ponokawan, tidak mungkin ada dua orang bahkan lebih yang menerima kata-kata serupa. Konsumen senang. Seakan dapat “tuah” dari Lembu Peteng, pembeli kartu Lebaran ponokawan tak cuma dari Kembang Sore, Tulungagung. Prabu Duryudana, sang Raja Astina, sedang berpesiar di Tana Toraja. Sejak tujuh tahun lalu dia punya tradisi mematikan HP saat Lebaran. Dia takut marahnya kambuh karena membaca ucapan SMS/BBM Lebaran yang umum dan sama bagi semua orang. Mana tak ada nama si alamat lagi. “Memangnya aku ini apa? Sembarangan disama-samakan dengan semua orang!!!?” hardiknya sambil membanting HP.

Kalau sudah marah, Duryudana suka aneh-aneh. Dia lantas pergi tanpa rencana ke berbagai kota. Pengawal dan iring-iringan pun panik. Akibatnya, seluruh kota menjadi macet. Dia meninjau panen sawah-sawah di negaranya. Rakyat menggerutu. “Sudah bikin macet, datangnya juga pas panen saja  Mbok kalau emang cinta petani, datanglah pas cocok tanam gitu, lho Merasakan susahnya proses…,” begitu antara lain gerundelan warga.

Tak ingin terus-terusan dirasani warga, Prabu Duryudana menghindari marah antara lain dengan mematikan HP pas Lebaran. Kini di Tana Toraja dia senang menerima banyak kartu Lebaran, termasuk dari Pandawa. Tak heran karena Pandawa terhitung adik Duryudana dalam silsilah darah Bharata. Juniorlah yang harus mengirim kartu ke seniornya.

*

Yang lebih membuat Prabu Duryudana bahagia, ternyata cuplikan-cuplikan kalimat dari ribuan kartu Lebaran itu membentuk ajaran yang utuh. Semuanya berkat jasa paniti sastra Kartamarma yang dengan tekun menyusun urut-urutan kartu. Salah satu bagian ajaran itu berbunyi demikian:

Suluk Saloka Jiwa karangan Ronggowarsito bercerita tentang Dewa Wisnu. Kali ini dia tidak menitis sebagai Prabu Kresna dalam Mahabarata. Kali ini dia menyamar sebagai Syekh Suman. Dia mengembara sampai ke Turki, Di negeri kaum makrifat itu, Syekh Suman belajar tasawuf kepada dwija alias guru, Umar Syekh Najid. Sepulang ke Nusantara, Syekh Suman menjalarkan agama yang penuh kedamaian dan maaf-memaafkan, yang memayu hayuning bawono seperti misi Wisnu dalam pedalangan.

Agama menjadi terkesan galak dan beringas ketika manusia sudah melupakan Sedulur Papat Lima Pancer.

Artinya, empat saudara dalam satu jati diri. Yaitu, kakang kawah (ketuban), adhi ari-ari (plasenta), ponang getih (darah) dan pusar (pusat). Ketuban berkehendak atas nama-Nya. Plasenta memayungi kehendak itu. Darah melaksanakan kehendak itu. Sebagai kendali pelaksanaan kehendak adalah pusat.

“Apakah ini ajaran baru?” tanya Prabu Duryudana pada Kartamarma. Keningnya mengernyit, tanda belum paham sepenuhnya pada ajaran dalam kumpulan kartu Lebaran. Tapi, di hatinya sudah tebersit ingin minta maaf pada musuh-musuhnya, termasuk Pandawa.

“Duh, Gusti Prabu. Menurut saya, ini bukan barang baru. Sudah lama saya mendengarnya dari Sunan Kalijaga ketika mengislamkan Tanah Jawa. Harap Paduka maklum, Ronggowarsita yang mengarang Suluk Saloka Jiwa itu pernah beguru kepada Pangeran Wijil dari Kadilangu, keturunan Kanjeng Sunan.”

*

Ponokawan Gareng, Petruk, dan Bagong di dusun Petruk, Kembang Sore, sedang berharap-harap cemas. Adakah nafkah untuk keluarga dari pekerjaan lain usai Lebaran tahun ini? Mereka tidak tahu bahwa karya kartu Lebaran mereka punya arti sangat penting dan kini sedang dibahas di Tana Toraja.

SUJIWO TEJO
Buku: Lupa Endonesa

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.763 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: