Iklan
Normantis Update

Cerpen Sujiwo Tejo: SMS Lebaran yang Bikin Jengkel

Cerpen Sujiwo Tejo

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

SMS Lebaran yang Bikin Jengkel - Cerpen Sujiwo Tejo - normantis.com

SMS LEBARAN YANG BIKIN JENGKEL
Karya: Sujiwo Tejo

Pernah Gareng, Petruk, dan Bagong, jujur apa adanya ketika masih bocah. Mereka blakblakan tanpo tedeng aling-aling. Ada telepon krang kring halo-halo tengah malam pun, pokoknya pas Semar ada, ya, mereka bilang ada. Padahal, Semar sedang capek atau kerokan. Akibatnya, malam-malam itu Semar mentut wuri Raden Arjuna entah ke pacarnya yang sebelah mana. Habis itu Semar ambruk. Semingguan dia masuk unit gawat darurat.

Anak-anak kapok.

“Eh, tole, leto, jujur itu penting. Tapi, yang lebih penting adalah wicaksono,” begitu para ponokawan mengenang pesan-pesan sudarma alias bapaknya.

Artinya, demi kebijaksanaan, bohong sedikit-sedikit malah dianjurkan. Begitulah ketika ponokawan itu akhirnya dewasa dan masuk partai. Mereka terus-menerus berbohong setiap hari kepada masyarakat.

Termasuk soal Nazaruddin, Neneng, Nunun, dan sebagainya. Akhirnya, mereka ndak tahan.

“Mungkin karena hari lahirmu itu pasaran Pon, Gareng,” terawang Togog, pakde mereka. “Orang yang punya weton Pon memiliki sifat kayu. Lentur, tapi keras. Selama ini kamu ikut-ikutan luwes ngapusi masyarakat soal Century, Lapindo, dan lain-lain  Tapi, akhirnya kamu keras juga. Bagus. Orang Pon itu salah-salah kalau ndak jadi kayu rapuh, ya, jadi kayu bakar … Kamu harus memilih.”

Hmmm … hidup akhirnya memang soal memilih. Sama halnya kalau dari Surabaya mau ke Pacet, kita harus memilih mau lewat Sukodono apa Kalitengah. Ndak bisa mau semuanya.

Gareng pun sudah memilih. Tak ingin menjadi kayu rapuh maupun kayu bakar, akhirnya Gareng keluar dari partai politik. Petruk dan Bagong juga memilih mengikuti langkah kakaknya itu. Nganggur selama hampir sewindu akhirnya mereka punya ide jalan hidup, yaitu memilih menjadi pembikin kartu Lebaran.

*

Ide bikin kartu Lebaran bermula dari protes seseorang di Kembang Sore. Bukan Kembang Sore dukuhnya Petruk, melainkan Kembang Sore, Kalangbret wilayah Tulungagung, yang dipercaya sebagai makam Pangeran Lembu Peteng. Perempuan itu protes karena, kok, isi SMS/BBM Lebaran hampir sama semua. Kadang isi ucapan Lebaran yang kita kutip dalam SMS, balik lagi dari SMS orang lain dengan kutipan yang sama. Karena kawasannya ada hubungan dengan Lembu Peteng yang gaib, protes perempuan itu diperhatikan.

Yok opo kalau kita hidupkan lagi budaya kartu Lebaran?” usul Petruk dari Kembang Sore. “Keluarga tukang pos akan kembali semringah. Apalagi Presiden SBY dan Nazaruddin sudah surat-suratan tentang jaminan keamanan keluarga. Tidak email-email-an atau SMS atau BBM-an. ini menunjukkan bahwa kedua tokoh itu peduli pada kembali bangkitnya jasa tukang pos ….”

“Setuju!” Bagong menimpali. “Martabak saja ada spesialnya. Ucapan Lebaran malah umum semua, ndak spesial ditujukan ke siapa. Bikin bosen. Menjengkelkan.”

Petruk nambahi, “Lagu ‘Mr. Postman’ dari Beatles akan kembali ramai di radio-radio ….”

Gareng senang, “Iya, Iya. Bener. Kalau kartu Lebaran, kan, pakai nama si alamat, ya? Penerimanya akan senang namanya disebut. Apalagi ada tanda tangan kita. Ada sentuhan pribadi SMS broadcast ndak semulia itu.”

Hmmm  hidup memang soal memilih.

Iklan

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.223 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: