Normantis Update

Esai Cak Nun: PANCASILA (Ingat Pancasila, Ingat Idul Adha)

Esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Seakan-akan. Seakan-akan.

Tetapi, terkadang timbul pertanyaan: benarkah ini seakan-akan? jangan-jangan seakan-akan saja ini seakan-akan.

Atau tidakkah kita ini justru begini nyaman, lapang dan bahagia, sehingga punya peluang yang luas untuk tertawa dan bercanda? ‘Demi pengabdian kepada Pancaila dong …… hahahaha!’

Tertawa itu gampang. Siapa bilang sukar? Orang yang paling tertekan pun bisa mendadak tertawa. Pak Becak saja di Surabaya, memuat kami bertiga, menyongsong hujan deras dengan angin kencang. Ia tertawa keras dan berteriak: ‘Ayo angin! Lebih keras lagi! Datangkan topan dan badai! Saya tak keberatan ambruk seluruh kota ini!”

Ah, betapa enak mentertawakan tertawa. Kita pasti bukan si Dalban yang terhimpit di dinding penjara yang tertawa-tawa keras sambil nyanyi-nyanyi tanpa nada, tanpa alasan jelas apa yang menyebabkannya tertawa. Kita bukan si Kentir yang kekurangan motivasi untuk tertawa, sehingga apa pun yang terjadi di sekeliling kita, kita tertawa. Tertawa bisa berdiri sendiri, tak selalu harus didukung oleh faktor lainnya. Misalnya saja, korupsi raksasa tak diurus, karena kalau dikeluarkan dari peti es bisa bikin dingin pamong-pamong teras lainnya, kedinginan sampai menggigil tubuhnya. Kenapa ini tak membikin tertawa?

Lihat Pancasila berwajah kecut. Tertawakan, supaya dia ikut tertawa. Supaya urat-uratnya segar. Supaya mukanya kembali sumringah dan menyala. Sebab sang jimat kita itu tak pernah bersalah. Sama sekali tak pernah bersalah. Ia jangan sampai shock. Kalau toh kita tak bisa membikinnya tertawa dengan cara membereskan kenyataan-kenyataan, kita ajak saja tertawa. Pokoknya tertawa. Ada atau tak ada alasan. Pokoknya tertawa. Ada atau tak ada alasan. Pokoknya tertawa.

Mendadak terdengar suara: ….”Anak muda, kau terlalu tegang. Kaulah yang harus belajar tertawa, supaya bisa kau pandang dunia ini sebening-beningnya. Sang jimat Pancasila tak perlu kau ajari tertawa. Kaulah yang keder menyaksikan sejarah. Tetapi Pancasila tidak. Ia berjiwa besar. Ia selalu sumringah dan tertawa segan…

EMHA AINUN NADJIB (CAK NUN)
Buku: Indonesia Bagian dari Desa Saya

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.774 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: