Iklan
Normantis Update

Esai Cak Nun: PANCASILA (Ingat Pancasila, Ingat Idul Adha)

Esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

PANCASILA
Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Ingat Pancasila, ingat Idul Adha. Aneh. Otak langsung muluk ke langit. Nonton pemuda kecil Ismail telentang di atas batu. Dengan senyum jernihnya ia menunggu kilatan pedang Ibrahim bapaknya yang akan menyembelih lehernya. Lantas flying lagi dan ketemu Nabi-Nabi lain yang juga penuh luka pengorbanan. Ketemu Imam Buchari dan Imam Muslim, dua perawi masyhur yang sedang jalan- jalan santai dengan seorang malaikat. Ketemu berbagai lanskap sejarah, yang silam dan yang membayang di depan. Ketemu ahli-ahli penafsir Islam. Ketemu orang- orang yang tak kusangka tak kuduga bisa masuk surga, sampai akhirnya tersadar kembali dari lamunan dan terjerembab ke bumi.

Ya. Pancasila begitu religius. Paling tidak untuk saya. Lebih religius, daripada politis. Soalnya saya duluan tahu alif-bengkong dab wawu-kecambah daripada a-b-c-d Latin. Duluan tahu kasidah shalawat Nabi dari pada lagu wajib “Dari Sabang Sampai Merauke”. Jadi ketika Pak Guru Markilin di sekolah mengajari saya perihal Pancasila, otak saya langsung mengidentifikasikannya dengan rukun Islam yang juga lima. Ketuhanan Yang Maha Esa itu Syahadatain.

Sila kedua Muamalah ma’annas. Ketiga Uchuwah. Keempat jelas: Musyawarah. Lha yang kelima, pasal keadilan itu, Zakat atau Qurban-lah tentu.

Ini tak ada hubungannya dengan politik. Lokasi ‘desa kediaman’ saya amat jauh dari Desa Politik. Ini gejala psikologis biasa saja. Kalau misalnya ada “Operasi Sapu Lidi” yang khusus bertugas membersihkan penyelewengan ideologi negara umpamanya, maka saya bukan orang yang patut ditangkap. Bahkan, identifikasi di atas harus diartikan justru merupakan suatu jabaran realistis yang mendukung kasektennya Pancasila. jangan khawatir. Atau sebaliknya, secara kesejarahan Pancasila menetes antara lain dari wawu kecambah itu, di samping Amitabha Buddha, Kristus Penebus Dosa, dst.

Identifikasi itu tidak tepat benar, tentu saja, karena bentuk kotaknya memang berbeda. Di samping itu mafhumlah otak gondrong saya yang penuh serabut-serabut huruf Arab, sampai-sampai mau nyanyi My Bonny is Over the Ocean saja malah jadi kasidahan, atau paling tidak ndangdutan. Haji, misalnya, rukun Islam kelima itu, termasuk sila ke berapa? Sepanjang bersekolah di Madrasah, ngganjal sekali rasanya hal ini. Tetapi, lama-lama saya hibur diri saya: Ah, rukun Islam dan Pancasila itu pada prinsipnya sama, cuma bentuk ungkapannya. Juga umpamanya kalau ada Rukun Kristen, Rukun Katolik, Rukun Protestan, Rukun Buddha, Rukun Hindu Bali, atau katakanlah Rukun Aliran Kepercayaan; mestinya sama saja, enggak ada yang menyuruh umatnya bangsat-bangsatan, maling, korupsi. Semua pasti kemuliaan, keluhuran, kebaikan, dan kebahagiaan. Biarin kalau pikiran saya ini terlalu sederhana. Habis orang hidup ini mau apa sih? Kan disuruh baik-baik sama Tuhan, manusia lain, dan semesta alam. Atau terserah deh menurut jalan pikiran ente. Saya sih pokoknya damai, baik, sentosa, rukun (meskipun dengan cara berkelahi). Kan ini Indonesia: majemuk, rancu, irasional, tetapi smooth.

Iklan

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.079 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: