Normantis Update

Esai Cak Nun: Kitab Suci (Ini Islam Baru! Ini Baru Islam!)

Esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Nah, orang-orang desa yang ‘tak berotak’ itu pun terperangah. Kendor tradisinya. Turun intensitasnya. Tapi, rupanya menjalankan tren intelektual ini bukan masalah gampang. Sebab kaitannya sangat erat dengan kondisi tingkat pendidikan keseluruhan masyarakat. Intelektualisme adalah suatu disiplin baru yang harus dijamin terlebih dahulu implementasinya oleh keberhasilan lembaga pendidikan formal kita. Nah, sementara nderes mengendor, Islam intelektual pun tak smooth berjalan. Bahkan juga di kota-kota, tempat orang-orang pandai. Di bagian lain ‘inovasi’ itu menjadi alasan klise untuk membikin sebagian putra-putri kita malas ngaji Quran. “Yang penting kan tahu artinya” -mereka berkilah. Disangkanya Quran bisa diterjemahkan keutuhannya. Disangkanya jiwa bahasa Quran bisa dialihkan ke bahasa Indonesia. Disangkanya membaca terjemahan Quran itu berartimengenali seluruh aspek yang dimilikinya. Lihatlah makin sedikit orang mau belajar bahasa Arab. Lihatlah makin banyak anak-anak kita mendekati Islam dari tangan kedua. Second hand. Lihatlah ada bobot first hand dan second hand. Lihatlah beda cinta kasihnya. Lihatlah beda kedalaman dan keluasannya.

Padahal di desa pun orang bukannya sama sekali tak mengerti terjemahan Quran. Pelajaran tafsir selalu menjadi bagian yang tak pernah ditinggalkan. Di tulisan Quran selalu ada ruang-ruang yang disediakan untuk menuliskan terjemahannya. Nulis ayat Quran selalu dengan double-spasi. Mending tetangga saya yang fasih baca Quran dan nderes terus meskipun tafsir tak begitu dikuasainya. la tinggal memperdalam tafsir itu. Dibanding paman Polan yang hanya tahu baca terjemahan Quran.

Ini paralel dengan makin menipisnya wadah-wadah kultur bagi ’emosi beragama’ di desa (itulah tetumbuhan agama yang sesuai dengan alam kejiwaan dan juga struktur masyarakat desa), sementara sasaran baru ‘Islam intelektual’ bukannya makin tercapai. Atau ini sekadar ongkos pertama dari setiap inovasi? Semacam uang pangkal begitu?

Saya sih enggak berpihak. Maunya semua, ya emosional ya intelektual, kalau bisa. jangan melepaskan perkutut di tangan, elang di angkasa tak berpegang. Beragama itu utuh. Total. Hidup kan juga utuh. Ya emosional, ya intelektual, ya romantis, ya nylekutis …………… ya semuanya. Bersatu dengan ruh Quran juga dengan semua itu. Cuma kadarnya berbeda-beda. Ngedril zikir sampai sukma mabuk. Tapi, saat lain menghadapinya dengan pikiran, mencari pengertian, menemukan makna-makna rasional.

Lho, cinta sama Tuhan ‘kan tak berarti harus seharian nguthek di depan sajadah dan Quran. Belajar ilmu peternakan kan juga berarti mempelajari Quran. Quran itu bagaikan wanita hamil, beratus kali hamil, bayinya adalah kelahiran demi kelahiran kehidupan.

Beratus kali, bahkan beribu kali, tetapi terjadi dalam hidup kita yang hanya sekali.

EMHA AINUN NADJIB
Buku: Indonesia Bagian dari Desa Saya

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.772 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: