Normantis Update

Esai Cak Nun: Kitab Suci (Ini Islam Baru! Ini Baru Islam!)

Esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Memang mencium fisik Quran makin lama makin terasa bau keringat, apak, karena sering dipakai. Sudah sobek-sobek dan nglokro. Tapi mencium ruhnya, sekarang dan nanti, esok dan lusa, minggu depan dan bulan berikut, makin semerbak kembang Quran selalu memberi pengalaman baru. Memberi rasa baru, rasa baru yang riil. Memberi kehidupan baru. Terus-menerus. Ayat-ayat Allah itu senantiasa lahir kembali di dalam diri kita. Kata orang lahir kembali dan lahir kembali itulah kehidupan. Selalu ada gerak. Dinamik. Progresif. Ritmik.Tak mandek. Tak jumud. Namanya saja ayat. Ayatullah, atau bisa dituliskan Ayatulloh. Tanda-tanda. Isyarat. Petunjuk. Suluh. Ilham. Inspirasi. Krenteg. Hanya satu ayat wujud fisiknya, tapi beratus ayat pengalaman dan kelahiran hidup yang dianugerahkannya. Itu asal dibaca terus. Dibaca setia. Didalami. Dieksplorasi. Diobservasi. Diamati. Diselidiki. Dipersepsi. Dirasai. Dititi. Kata pertama Quran adalah Iqra‘, kan? Membaca Kitab Suci bisa tak usah repot sering bersila membacanya di kamar terkunci. Sebab kita bisa membaca ruhnya. Di tengah pekerjaan lain dan di mana saja, sambil kerja di kantor, sambil menjala ikan, sambil mengedarkan Pepsodent, sambil nyopir bus kota, atau sambil berjualan membantu Engkoh di toko. Atau mencangkul di sawah adalah membaca ruh Kitab Suci itu sendiri. Meneropong preparat di ruang praktikum adalah membaca Kitab Suci itu sendiri. Tak usah eret-eret Quran ke mana-mana. Sebab ruhnya bisa bersila dalam ruang ingatan kita. Wong salah satu gelar Quran itu ialah Adzdzikr. Ingatan. Atau peringatan. Kalau ruhnya sudah ngepos dalam jiwa kita, maka dialah yang jadi masinis kereta api hidup kita. Ruh Quran adalah abad Tuhan. Napas-Nya yang segar dan membahagiakan. Maka, rasanya si Aku ini bersatu dengan Allah dalam mengendalikan setiap gerak dan keputusan kehidupan. Ruh itu rasanya kita sediakan kursi tersendiri di tengah sidang Kabinet, di tengah rapat pentas teater, rembug pembangunan irigasi, atau seminar bagaimana menanggulangi anak pertama kita yang nakalnya audzubillah ini. Ruh itu berperan di mana-mana. Kenapa tidak? Kenapa tidak seharusnya demikian?

Tetapi, kalau Kitab Suci hanyalah seonggok kertas yang tergeletak di atas meja, atau semacam lukisan abstrak pajangan di ruang depan yang kita sendiri tak mengapresiasinya, atau seperti lipstik yang lenyap sehabis kehujanan, dan ruhnya tak ada kaitannya dengan jiwa kita, maka di kantor dengan kalem kita lakukan manipulasi tanah atau menelepon koran Anu melarangnya memuat perihal berita korupsi besar-besaran untuk supaya tidak kita berangus.

Coba bayangkan, ruh itu bersama-sama kita ke mana-mana. Bertemu dan terlibat dengan peristiwa demi peristiwa. Pengalaman demi pengalaman. Nuansa demi nuansa. Dimensi demi dimensi. Keterlibatan itu akan selalu memberi intensitas baru. Suasana baru. Hubungan baru antara jiwa kita dengan ruh itu. Saraf-saraf pengalaman yang begitu ragam, jaringan-jaringan komputer rohani kita, yang berangkat dari latar belakang, melangkahi hari demi hari, yang berbeda antara satu dengan lainnya. Semua itu adalah dunia-dunia tersendiri, yang dalam proses pergaulannya dengan si ruh Kitab Suci, merupakan gerak ke cakrawala tanpa pernah henti. Nanti sampai di rumah, sesekali kita baca fisik Quran itu dengan tartil, dan tiba-tiba lahir sesuatu yang baru. Jiwa kita menjadi baru. Ruh itu pun menumbuhkan kekayaannya yang baru. Dunia ini lahir kembali.

Dengan bahasa yang populer sekarang: ‘Marilah kita galang persatuan dan kesatuan… dengan ruh Kitab Suci. Persatuan ini macam-macam tekanannya. Ada yang bersatu secara lebih intelektual. Ada yang emosional. Nilai-nilai dasar yang dikandung Kitab Suci itu sudah tertera dalam naluri jiwa manusia secara fitrah. Jadi asal setia penuh pada hati nurani, insyaallah sesuai dengan Kitab Suci. Ada lagi orang yang sekadar bisa baca Quran saja: punya tradisi nderes Quran berjam-jam, bersila dan tubuhnya bergoyang-goyang ke kiri ke kanan, fly, bercinta begitu khusyuk dan romantik dengan Tuhannya. Memang ia tak bisa mengartikan bahasa Arab, tetapi percintaan itu sudah terlangsung dengan sistem komunikasi tersendiri. Ini sudah sangat lumayan. Di desa saya anak di bawah umur 10 tahun sudah lancar baca Quran. Menderes Al Quran …… .. adalah kebudayaan religi yang paling digemari. Dikerjakan amat sering. Habis Magrib sampai Isya tiba. Malam jauh sesudah jumpritan atau latihan pencak usai, atau sehabis subuh. Atau kalau Ramadan sehari-harian nderes di surau, dan malam tadarrusan berlomba banyakan khatam.

Di sini Kitab Suci itu semacam ungkal. Kita pakai untuk mengasah clurit batin kita. Mengasah kesetiaan. Iman takwa. Racinta. Komitmen. Kelembutan intuisi dan ketajaman instink keilahian kita. Memang otak kurang kesibukan. Kecerdasan kurang dikembangkan. Tetapi, setidak-tidaknya nderes itu melatih kekariban kita dengan Allah, melatih kesatuan gerak hidup kita dengan gerak iradah-Nya. Setidaknya langkah-langkah kita lebih dijaga dan dipelihara oleh Allah. Tapak kaki dituntun, perilaku tangan kita dibimbing, mulut kita diberi kendali. Kenapa tidak. Wong Allah amat mencintai hamba-hamba-Nya, dan hamba-Nya ini pun sudah demikian cinta, bahkan melatih kekuatan cinta itu dari hari ke hari. Cinta itu begitu penuh, total, bahkan boleh disebut bagaikan cinta buta.

Cerita memang sedikit bergeser ketika suatu hari ke desa saya itu datang seorang cowboy dari kota. Seorang mubalig modern. Pioneer yang menjajakan inovasi, pembaruan: Ini Islam Baru! Ini Baru Islam!

Untuk apa baca Al Quran cas-cis-cus kalau enggak tahu artinya! Itu kalimat pertama advertensinya. Dengan pola tablig yang ‘enak dibaca, dan perlu’ bagaikan majalah Tempo, agar bisa menjadi ‘bagian dari gaya hidup Anda’ seperti majalah Femina, koboi kita ini menuturkan bagaimana beragama yang benar. Enggak boleh cinta buta saja. Mesti paham apa isi Quran. Islam modern dong. Islam intelektual. Islam penalaran. Islam rasional. Islam yang pakai otak, enggak hanya dengkul saja. jangan taklid. Orang taklid itu bagaikan bebek, ikut ke sana ke mari tanpa tahu apa yang diikutinya.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.772 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: