Iklan
Normantis Update

Logika Dalam Bahasa (Indonesia, Melayu, dan Inggris) – Esai Ajip Rosidi

Esai Ajip Rosidi

LOGIKA DALAM BAHASA
Oleh: Ajip Rosidi

PARA PAKAR bahasa Indonésia mempunyai kecenderungan hendak menata, bahkan “menertibkan” pemakaian bahasa Indonésia, antaranya membuat segalanya agar “logis”. Misalnya yang sebelumnya kita mengatakan “rombongan itu terdiri dari 24 orang”, harus menjadi “rombongan itu terdiri atas 24 orang”. Mungkin karena adanya pikiran bahwa orang berdiri itu mesti “di atas” sesuatu. Kalimat “Saya datang ke Jakarta soré hari”, disalahkan, karena harus “Saya datang di Jakarta sore hari”. Kata penghubung “ke” hanya boleh dipakai dalam hubungan dengan kata kerja “pergi” seperti dalam kalimat “Saya pergi ke Balikpapan”.

Dalam bahasa ada yang disebut ungkapan, idiom, yaitu frasa atau kalimat yang tetap susunan dan kata-katanya seperti dalam peribahasa, proverb. Bahasa Indonésia sebagai bahasa yang muda, yang berasal dari bahasa Melayu, banyak mengambil ungkapan dan peribahasa dari bahasa Melayu.

Kalimat “terdiri dari” adalah salah satu ungkapan yang berasal dari bahasa Melayu itu. Demikian juga “Saya datang ke”, telah menjadi ungkapan yang umum. Ungkapan itu sudah jadi. Terhadap ungkapan yang sudah jadi, sikap kita sebagai pemakai bahasa adalah mempergunakan sebagaimana adanya. Terhadap idiom kita tidak mempertanyakan mengapa begini dan mengapa begitu, sesuai dengan logika atau tidak, karena ungkapan harus dihapalkan dan diterima. Waktu belajar bahasa Inggris, kita juga harus menghapalkan idiom yang tak boléh kita ubah, begitu juga kata kerja yang tak mengikuti aturan (irregular verbs) harus kita terima dan hapalkan.

Memang bisa dikatakan bahwa “terdiri dari” itu tidak logis, lebih logis “terdiri atas”, begitu juga “datang ke” kurang logis, lebih logis “datang di”.

Tetapi tidak ada logika dalam berbahasa. Pembentukan kata-kata, misalnya, apa pakai logika? Mengapa pohonnya disebut “bambu”, anaknya yang masih kecil disebut “rebung”, dan kalau sudah dianyam menjadi “bilik” atau “gedhég”? Mengapa induknya disebut “ayam”, yang jantan disebut “jago”, yang keluar dari induknya disebut “telur” sedang anaknya yang keluar dari “telur” disebut “pitik”? Mengapa waktu baru lahir disebut “bayi”, setelah agak besar disebut “anak-anak” kemudian menjadi “brang”, kalau jantan disebut “laki-laki” dan kalau betina disebut “perempuan” dan kalau sudah melahirkan disebut “ibu”?

Tak ada ketentuan dalam pembentukan kata-kata atau pemberian nama-nama pada benda, pohon-pohonan, pekerjaan, permainan, dan lain-lain. Memang ada kata-kata yang dipinjam atau dipungut dari bahasa asing, sehingga kita dapat tunjukkan sumbernya. Tapi dalam bahasa asalnya kata itu juga dibuat secara arbitrér, artinya atas dasar persetujuan bersama sesama anggota masyarakat pemakai bahasa tersebut.

Belakangan banyak penemuan baru yang diberi nama yang kadang merujuk kepada sipatnya. Kata “mobil” ada hubungannya dengan arti “bergerak”, dan karena dianggap bisa bergerak sendiri (walaupun sebenarnya ada supirnya) namanya yang lengkap ialah “auto mobile” (bergerak sendiri). Dalam bahasa Indonésia ada yang mengambil kata yang pertama “auto” menjadi “oto” dan ada yang mengambil kata yang kedua “mobile” jadi “mobil” untuk menyebut benda itu. Di Malaysia benda itu disebut “keréta”, sehingga bisa menimbulkan salah paham bagi orang Indonésia yang pertama kali mendengarnya. Dalam bahasa Indonésia kata “keréta” menunjuk kepada “keréta mesin” (“keréta angin”) atau “keréta api”. Orang Malaysia sepakat menyebut apa yang disebut “oto” atau “mobil” oléh orang Indonesia dengan “keréta”. Karena adanya kesepakatan demikian, maka kata itulah yang meréka pakai untuk menyebut benda yang “bergerak sendiri” itu.

Dari pemakaian kata yang berbeda untuk menamakan benda yang sama dalam bahasa Indonésia dan dalam bahasa Malaysia, kelihatan bahwa setiap pemakai bahasa memilih dan menyepakati kata-kata yang hendak dipakainya. Dan dalam pemilihan dan kesepakatan itu sama sekali tak ada logika yang digunakan.

Kata-kata yang sudah disepakati dan dipakai dalam suatu komunitas bahasa, bisa dipinjam atau dipakai dalam komunitas bahasa yang lain dengan arti yang berlainan. Kata “oli” yang kita pungut dari bahasa Belanda ”olie”, mempunyai arti sejenis minyak yang khusus, walaupun dalam bahasa asalnya “olie” menunjuk kepada semua macam minyak. Kata “papier” dalam bahasa Belanda berarti kertas secara umum, tapi ketika dipinjam ke dalam bahasa Sunda “pahpir” mempunyai arti kertas khusus yang sangat tipis dan digunakan untuk merokok “shag”. Kata “head” dalam bahasa Inggris berarti kepala, tetapi ketika dipinjam ke dalam bahasa Indonesia “hed” hanya berarti menyundul bola dengan kepala. Barangkali kita bisa melakukan penelitian mengapa terjadi perubahan arti itu, namun tetap saja kita tidak bisa menolak kenyataan bahwa pada akhirnya para pemakai bahasalah yang menentukan kata apa yang akan mereka pakai dan apa artinya. Dan dalam hal ini tidak ada aturan atau ketentuan yang dijadikan pegangan, benar-benar arbitrér.

Begitu juga dengan ungkapan. Orang berkata, “Dia sekarang sudah kaya,” padahal maksudnya “dia sekarang sedang kaya”. Kalau mau logis, kalimat itu harusnya berbunyi, “Dia sekarang sudah miskin, sedang kaya.” Kalau ada yang bertanya, “Sedang apa, Pak?” Biasanya kita menyahut, “Ah, tidak sedang apa-apa.” Padahal paling tidak kita sedang bernafas. Demikian juga orang berkata, “Wah, wangi orang menggoreng ikan!” padahal yang dia maksud adalah wangi ikan yang sedang digoreng. Tapi mereka yang mendengar kalimat itu tidak akan ada yang mengira bahwa yang dimaksud oleh si pembicara adalah parfum yang dipakai oleh orang yang sedang menggoreng ikan itu. Bahasa mempunyai logika sendiri berupa ungkapan.

AJIP ROSIDI
Buku: BUS BIS BAS – Berbagai Masalah Bahasa Indonesia – Catatan dan Pandangan Ajip Rosidi

Catatan: Dalam buku ini, Ajip Rosidi memang membedakan penulisan huruf “e” dan “é” untuk membedakan bunyi.

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.156 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: