Iklan
Normantis Update

Humor Sujiwo Tejo: Dicari, Menteri Pemberdayaan Laki-Laki

Karya: Sujiwo Tejo

Dicari, Menteri Pemberdayaan Laki-Laki - Humor Sujiwo Tejo

DICARI, MENTERI PEMBERDAYAAN LAKI-LAKI
Karya: Sujiwo Tejo

Ada kabar yang Sampean percaya boleh, ndak Sampean percaya aku, ya, ndak patheken. Dalam kabinet sekarang bakal muncul kementerian baru, Menteri Pemberdayaan Laki-Laki. Letak kantornya pun sudah didesain berseberangan dengan posisi kantor Menteri Pemberdayaan Perempuan. Face to face, orang Londo bilang. Dep adebben, ocak reng Medure.

Dasar pemikirannya begini. Dulu, banyak banget ITS, Ikatan Takut Suami. Kok, sekarang makin banyak ITB, ikatan Takut Bini. Semua kita tambah takut bini sampai-sampai ketika flu babi merajalela dengan virus H1N1, ada yang bilang, “Wah, iku sik gak onok apa-apane, Cak. Ada lagi yang lebih ngeri ketimbang virus H1N1, yaitu virus B1N1 ….”

Mari kita meniru Almarhum Basuki Srimulat, “Yeeeen tak pikir-pikir ….” Beneriuga ucapan kawan tadi.

Sekarang perempuan kalau ditampar suaminya tinggal main lapor ke Komnas Perempuan. Mereka bisa juga lapor ke pembela-pembela perempuan yang makin banyak; ke seniwati, Ratna Sarumpaet; ke tretan dibi’ alias dulur dewe, orang hukum, Nursyahbani Katjasungkana, yang asli Pulau Garam di seberang Jembatan Suramadu itu. Tapi, kalau kita kaum laki dikuyo-kuyo istri, hayo, mau lapor ke mana Sampean?

“Lho,tradisi kita dan seluruh dunia itu memang menghormati perempuan  mengutamakan perempuan,” kata Petruk alias Kantong Bolong sambil bersandar di pohon sawo, di padepokan Semar di Klampis Ireng.

Adik Gareng itu mengajukan salah satu contoh dari Nusantara, yakni orang Batak. Kata Petruk, “Kalau inang-inang atau kaum ibu di Batak sudah turun tangan menyelesaikan persoalan sosial, siapa yang berani menghadapi mereka? Tentara dan polisi bahkan akan berpikir seribu kali.”

Adik Petruk, si Bagong, yang memang gemar membantah kini menyanggah kakaknya. “Dalam keadaan

kepepet,” kata Bagong sambil tetap memperhatikan layang-layang di langit ,Klampis Ireng, “inang-inang itu akan turun tangan dan mendominasi laki-laki. Tapi, dalam keadaan normal laki-laki akan dimuliakan. Jangan coba-coba kaum laki memandikan bayi atau mencuci baju di rumah, bisa disemprot sama mertua. ltu tugas perempuan.”

Dari Danau Toba, Petruk beralih contoh ke Pulau Sapi, Madura. “Lihat, Gong, Pak Sakerah itu, Belanda saja terbirit-birit ketakutan. Apalagi kalau beliau sudah bawa pusaka pamungkasnya, celurit si Lerok. Tapi, lihatlah …  lihatlah …  papinya Brodin itu nyembah-nyembah ketakutan kalau Mbok Sakerah sudah marah-marah ke beliau. Jadi, tradisi kita memang mewajibkan takut pada perempuan.”

Mata Bagong masih ke langit, menerawang layang-layang bergambar Pak Surya Paloh mendelik-delik, kleyang kabur kanginan benangnya putus oleh layang-layang sebelahnya yang bergambar Pak Aburizal Bakrie mesam-mesem. Dengan suaranya yang berat dan parau, Bagong meluruskan Petruk yang saknaliko bergaya Jakarta-an.,

“Truk, elo pigimane, sih. Lihat konteksnya, dong. Ngapain Mbok Sakerah marah-marah ke Pak Sakerah? Karena, waktu itu Sakerah marah-marah ke istri mudanye, Marlena, nah Mbok Sakerah kagak terime ….”

“Maksud elo?” Petruk ikut-ikutan Betawian.

Gareng ikut-ikutan jadi pria metroseksual dan jadi penengah, “Maksud adik elo, tuh, Truk, marahnye Mbok Sakereh justru untuk memerdekakanorang laki dan manjain orang laki  Bukan untuk menekan dan menjajah  wong nyang nyariin bini mude, tuh, Mbok Sakereh juge  Persis kayak pelukis besar Affandi dulu nyang nyariin istri mudanyejuge Bu Affandi ….”

Gareng seperti biasa masih terlampau banyak berpikir. Sang Cakrawangsa alias pengikat tali persaudaraan ini juga masih bertahan sebagai penengah. Belum ada titik temu di Padepokan Semar Klampis Ireng siang itu apakah Petruk yang benar, Kementerian Pemberdayaan Laki-Laki tidak kita perlukan, ataukah Bagong yang benar, Kementerian Pemberdayaan Laki-Laki memang telah mutlak kita butuhkan.

Agar tidak vakum, Petruk iseng tanya Bagong, “Jempol kata lainnya?”

“Gampang, Truk, nggak pernah jadi wali kota juga bisa jawab: ibu jari ….”

“Pusat suatu negeri?”

“Lebih sepele lagi, nggak pernah jadi pak camat juga bisa jawab: ibu kota ….”

“Tanah tempat kita berpijak?”

“Wah, jauh lebih remeh-temeh lagi, hanya Miyabi yang nggak bisa jawab: ibu pertiwi ….”

“Lha, iku artine kita memang seharusnya menghargai perempuan, laki-laki ndak perlu dihargai. Ndak perlu kementerian pemberdayaan wong lanang. Ndak ada bapak jari, bapak kota, bapak pertiwi  Dan, awak peno itu Gong, kalau mau ngajukan kartu kredit, yang ditanya nama ibu  ndak ada urusan mau bapakmu namanya Karwo, Dahlan, Bambang, Yudo, Susilo ….”

“Oke, oke,” Bagong masih ingin membantah, “sekarang taruhlah tidak ada Kementerian Pemberdayaan

Laki-Laki. Terus kalau kita dihina-dina oleh kaum istri  dicerca  dimaki-maki  ditempeleng  kita mesti lapor

ke siapa? Ke polisi? Ke kejaksaan? Ke KPK? lya kalau laporan kita diteruskan, diproses. Kalau mereka malah bisik-bisik sambil cekikikan ke kita, ‘Ssssttt  kita sami mawon  aku juga takut istri ….’”

Belum selesai Bagong bicara, ujug-ujug datang istri Gareng, Dewi Sariwati. Dia datang dengan menggendong bayinya, Nalawati, sambil mencincing kain dan menunjuk-nunjuk Gareng. Baru saia Bagong akan melanjutkan kata-katanya yang terhenti, ujug-ujug juga datang istri Petruk, Dewi Undanawati, juga menggendong bayinya, Bambang Lengkung Kusuma, sambil matanya mendelik-delik ke arah Petruk.

Gareng diundat-undañ istrinya. Ndak usah mikir- mikir negara. Memang dibayar berapa? Urus saja apakah si bayi Nalawati sudah dimandikan. Petruk diunek-unekno. Ndak usah mikir yang besar-besar. Yang kecil-kecil saja, seperti bagaimana beli susu buat Bambang Lengkung, Petruk ndak jegos. “Kalau sampai ngisya’ Sampean belum pulang ke Bluluktibo, awas!!!” bentak istri Gareng. “Kalau sampai mangrib saja Sampean belum pulang ke Kembang Sore, tak pateni,” sergah istri Petruk.

Semar terkekeh-kekeh melihat adegan itu. Petruk dan Gareng dengan geram akhirnya sepakat bahwa Kementerian Pemberdayaan Laki-Laki sekaligus menterinya sudah saatnya ada. Kalau semua laki-laki sudah nggak boleh mikir negara,dan cuma mikir rumahtangga, tok, karena takut istri, mau jadi apa negeri ini? Mereka menunggu kalau-kalau ada telepon dari Padepokan Cikeas, untuk menjadi Menteri Pemberdayaan Laki-Laki.

Gareng menunggu sampai ngisya’, belum ada telepon. Petruk menunggu sampaimangrib, belum ada telepon. Bagong sudah ngacir sejak ngashar tadi. Istri- nya, Dewi Bagnawati, memang tak melabrak Bagong. Tapi, bungsu Semar yang cerdas itu main logika sederhana. Kalau kakaknya yang tertua ditunggu sampai ngisya’, dan Petruk sampai mangrib, berarti ngashar si bungsu harus sampai rumahnya di Pucang Sewu.

SUJIWO TEJO
Buku: Lupa Endonesa  

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.157 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: