Iklan
Normantis Update

Cerpen Cak Nun: Kebijaksanaan Cendol

Cerpen Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

KEBIJAKSANAAN CENDOL
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Karena akan menerima tamu dari Thailand, maka Kiai itu merasa harus menyuguhkan Jawa. Segala yang nampak pada Pondok Pesantren yang dipimpinnya, sebenarnya relatif sudah mengekspresikan tradisionalitas Jawa. Potret desa, model-model bangunan dan irama kehidupannya. Sang Tamu besok mungkin akan mendengar para santri berbincang dalam bahasa Arab atau Inggris. Tapi tentu bukan itu masalahnya. Yang penting Kiai kita ini tidak akan mungkin menyodorkan Coca Cola ke depan hidung tamunya dari tanah Thai ini.

Demikianlah akhirnya sekalian santriyah yang tergabung dalam Qismul Mathbah (Departemen Dapur) bertugas memasak berbagai variasi menu Jawa. Dari sarapan grontol, makan siang nasi brongkos, malam gudeg, besoknya pecel, lalu sayur asem dengan snack lemet dan limpung.

Sang Kiai sendiri ‘cancut tali wondo’ mempersiapkan suguhan ekstra siang, hari yang diperkirakan bakal terik. Ia dengan Vespa kunonya melaju, membawa semacam tempat sayur yang besar. Empat kilometer ditempuh, dan sampailah ia ke warung kecil di tepi jalan. Seorang Bapak tua penjual cendol. Sang Kiai sudah perhitungkan waktunya untuk sampai pada Bapak Cendol ini pada dini hari saat jualannya. Yakni ketika stok masih melimpah.

Terjadilah dialog dalam bahasa Jawa krama-madya.
Masih banyak, Pak?
Masih, Den. Wong baru saja bukan beberan
Alhamdulillah, ini akan saya beli semua. Berapa?
Pak Cendol kaget. -Lho, jangan Den!- jawabnya spontan.
Sang Kiai tak kalah kagetnya. -Kok jangan-
Lho, kalau dibeli semua bagaimana saya bisa berjualan?

Sang Kiai terbelalak. Hatinya mulai knocked-down, tapi belum disadarinya.-Lho kan saya beli semuanya, jadi Bapak tak usah repot-repot berjualan lagi di sini hari ini.
Pak Cendol tertawa.

Sang Kiai makin terperangah. -Orang jualan kan untuk dibeli. Kalau sudah laku semua kan malah beres?

Pak Cendol makin terkekeh. –Panjenengan ini bagaimana tho Den! Kalau dagangan saya ini dibeli semua, nanti kalau orang lainnya mau beli bagaimana! Mereka kan tidak kebagian!

Knocked-out-lah Sang Kiai.

Ia terpana. Pikirannya terguncang. Kemudian sambil tergeregap ia berkata–Maafkan, maafkan saya, Pak. Baiklah sekarang Bapak kasih berapa saja yang Bapak mau jual kepada saya…

Seperti seorang aktor di panggung yang disoraki penonton, ia kemudian segera mendapatkan Vespanya dan ngeloyor pulang. Sesampainya di Pondok ia langsung kasih itu cendol ke dapur dan memberi beberapa penugasan kepada Santriyah, kemudian ia menuju kamar, bersujud syukur dan mengucap istighfar, lantas melemparkan tubuhnya di ranjang.

–Alangkah dini pengalaman batinku– gumamnya dalam hati — sembahyang dan latihan hidupku masih

amat kurang. Aku sungguh belum apa-apa di depan orang luar biasa itu. Ia tak silau oleh rejeki nomplok. Ia tak ditaklukkan oleh kemudahan-kemudahan memperoleh uang. Ia terhindar dari sifat rakus. Ia tetap punya darma kepada sesama manusia sebagai penjual kepada pembeli-pembelinya. Ia bukan hanya seorang pedagang. Ia seorang manusia!

Iklan

EDISI SPESIAL HARI LAHIR CHAIRIL ANWAR

Video Normantis

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.130 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: